banner 728x250

Writing for Change; Menjadi Penulis yang Menggugah

ICMI Kota Tangerang
ICMI Kota Tangerang
banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Ade Zaenudin, MA

 “Ice cream, the great melter of all resolve” (Dr. Idel Dreimer)

banner 325x300

(Es krim, perpaduan sempurna dari semua tekad).

Tulisan dan Kelezatan

Es krim memang selalu menggoda. Kedahsyatan sampai menjadi lirik lagu Blackpink dan Selena Gomez yang berjudul Ice Cream.

Doug Ducey, pengusaha es krim yang menjadi Gubernur Arizona ke-23 mengatakan Ice cream bring people together, es krim menyatukan manusia. Dahsyat kan?

Begitu pula dengan sebuah tulisan, sesungguhnya kelezatannya bisa menyatukan manusia dalam sebuah rasa. Karena sebuah tulisan, ada yang menangis, terharu atau sebaliknya tertawa berjamaah.

Menulis itu identik dengan seni merangkai kata, menggabungkannya menjadi sebuah untaian kalimat yang indah nan lezat untuk dihidangkan dan dinikmati siapa pun dan kapan pun. Untuk menjadi sebuah hidangan yang lezat tentu diperlukan racikan komposisi kata yang sesuai disertai bumbu yang pas.

Tersedia 26 huruf yang bisa dipilih oleh seorang penulis serta 10 bentuk angka serta beberapa simbol. Artinya, seorang penulis harus mampu mengharmonikan pemilihan huruf, angka dan simbol serta menyimpannya di posisi yang sesuai.

Seorang penulis tidak bisa memaksakan huruf “A” lebih banyak “dipakai” dibandingkan huruf “B”, begitu pun sebaliknya. Ya, menulis adalah seni mengelola kemajemukan huruf, seni merasakan bagaimana perasaan pembaca ketika menikmati sajian tulisan.

Coba perhatikan saja huruf demi huruf pada tulisan yang sedang Anda baca saat ini, 26 huruf yang tersedia bisa menjadi untaian kalimat yang panjang, bisa pula pendek, persoalannya adalah bukan panjang dan pendeknya tapi lezat dinikmati atau tidaknya tulisan tersebut, seperti itu pulalah hidangan makanan.

Persoalan muncul kemudian, “lezat” ternyata sangat subjektif, ada sebagian orang yang senang dengan bubur misalnya, tidak sedikit pula yang kurang menyukainya, begitu pulalah tulisan kita, Anda yang sedang membaca tulisan ini pun belum tentu berselera sama dengan saya tentang tulisan ini.

Kuncinya adalah saling menghargai selera yang dimiliki karena itu adalah anugrah dari Allah SWT yang tidak terhingga, bayangkan kalau semua orang satu selera, mungkin di pinggir jalan hanya ada satu jenis warung nasi, nasi padang semuanya, atau mungkin warteg semuanya, ah, rasanya kurang indah.

Kalaulah seorang penulis terlalu “baper” dengan selera pembaca, sampai kapan tulisan itu akan selesai karena disibukkan dengan pemilihan komposisi huruf yang harus disesuaikan dengan keinginan semua pembaca. Bukan berarti pula bahwa penulis mesti mengabaikan seluruh keinginan pembaca, toh dengan masukan sang pembaca, tulisan itu bisa menjadi sajian yang lebih lezat dari sebelumnya.

Begitu pun sang pembaca, tidak usah terlalu “baper” memaksakan untuk merubah sajian yang sudah ada, kecuali hanya sekedar memberikan masukan agar sajiannya lebih lezat. Kalau pun kurang berselera, bukankah masih banyak sajian lain yang dapat kita nikmati.

Seorang penulis tidak boleh alergi dengan perbedaan, karena kalimat yang indah adalah harmonisasi kata, dan kata yang indah adalah harmonisasi huruf.

Seorang penulis tidak boleh alergi dengan kritikan karena dengannya justru tulisan akan menjadi lebih lezat dan bisa dinikmati banyak orang.

Seorang penulis dapat menghasilkan karya dari kondisi apapun yang sedang dia rasakan, karenanya, seorang penulis mampu “mengajak” pembaca menangis, tertawa, kecewa atau bahkan kesal. Haha… bisa jadi pula dia kesal dan hatinya terluka karena tulisan kita.

Tulisan dan Peradaban

Sejarah mencatat bahwa literasi menjadi pemicu lahirnya peradaban dunia. Peradaban Yunani dipicu dengan dijadikannya filsafat sebagai landasan berfikir bangsa dan ternyata menjadi induk ilmu pengetahuan di kemudian hari. Kita mengenal beberapa filosuf yang menjadi rujukan berkembangnya beberapa disiplin ilmu yang eksis sampai saat ini seperti Thales, Phythagoras, Socrates, Plato sampai Aristoteles.

Dalam sejarah peradaban Islam kita mengenal Dinasti Abbasiyah yang mampu berkuasa selama lima abad (750 s.d.1258 M). Lembaga ilmu pengetahuan didirikan oleh khalifah cerdas Harun Ar-Rasyid dengan nama Baitul Hikmah. Tradisi menerjemahkan buku dilakukan secara masif, buku tentang kedokteran, filsafat, matematika, kimia, seni dan lain sebagainya. Penetrasi pengembangan ilmu pengetahuan mampu menghantarkan dinasti ini pada peradaban yang sangat maju sehingga disebut masa keemasan.

Di Israel, kekuatan sebuah tulisan mampu menyatukan diaspora keturunan Yahudi, gerakan nasionalisme masyarakat Yahudi dibingkai dengan jargon kembali ke tanah Zion. Gerakan masif tersebut dipicu terbitnya buku berjudul Der Judenstaat tahun 1896 dan Old New Land ( Altneuland) tahun 1902 yang ditulis Theodore Herzl.

Tujuan Menulis

Setiap penulis punya motivasi yang berbeda, ada delapan motif yang bisa diidentifikasi:

  1. Akademis

Tulisan yang berorientasi akademis biasanya terikat aturan-aturan ketat dan dibuat sebagai syarat mengikuti atau menyelesaikan sebuah program di sebuah lembaga penddikan. Contohnya makalah, skripsi, tesis, dan disertasi.

  • Ideologis

Tulisan bercorak ideologis berisi sebuah keyakinan atau pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang, bisa juga sebuah tulisan berisi misi. Tulisan Theodore Herzl menjadi contoh tulisan bercorak ideologis

  • Ekonomis

Adakah orang yang mendapatkan kekayaan dari menulis? Ada. J.K. Rowling penulis Harry Potter kekayaanya mencapai Rp. 14,6 triliun, Andrea Hirata dengan novelnya Laskar Pelangi memperoleh Rp. 3,6 Miliar, Raditya Dika, penulis buku Kambing Jantan mendapatkan Rp. 500 juta dari buku-bukunya. Maka tidak salah kalau ada penulis yang termotivasi karena faktor ekonomis

  • Katarsis

Setiap manusia punya masalah dan bisa stress karena masalahnya. Ternyata ada sebagian orang yang terbiasa melepaskan emosinya dengan menuliskan apa yang dirasakanya, apakah dalam buku diary atau bisa jadi sebuah novel. Inilah yang dimaksud dengan motif katarsis, yaitu melepaskan emosi melalui tulisan.

  • Politis

Seorang politisi harus memiliki gagasan yang disampaikan kepada khalayak dengan baik dan menarik. Apa yang dilakukan Herzl saat menulis Old New Land tentu bermotif politis untuk membangkitkan gairah kaum Yahudi merebut “tanah yang dijanjikan”.

  • Pedagogis

Di jaman secanggih sekarang, apa yang tidak ada di google, mau masak menu apapun banyak tulisan resepnya, mau buat kerajinan apapun ada juga tata caranya, mau belajar tentang apapun banyak tulisan-tulisan yang bisa dijadikan referensi. Tulisan-tulisan yang sifatnya mendidik itu disebut tulisan bermotif pedagogis

  • Pragmatis

Ada banyak cara untuk meraih popularitas, salah satunya dengan menulis. Sekian banyak orang menjadi terkenal karena sering menulis di media sosial, media masa atau pun buku. Apakah ini boleh, tentu sangat boleh, selama tulisan-tulisannya berkontribusi untuk kebaikan.

  • Aktualisasi

Setiap orang punya keinginan yang berbeda, begitu juga penulis, banyak sekali motifnya. Namun ternyata sebagian penulis tidak berharap apapun dari tulisannya, dia hanya ingin menuliskan apa yang dirasa, dipikir, dilihat, dan didengar tanpa berharap dapat imbalan. Mudah-mudahan saja tulisannya bisa bermanfaat. Kalau pun tidak ada yang memanfaatkan tulisannya, dia tidak ambil pusing. Inilah makna aktualisasi.

Pemimpin dan Tulisan

Seorang pemimpin harus dibekali idealisme berwujud gagasan-gagasan baik untuk diimplementasikan komunitas yang dipimpinnya. Dengan tulisan yang baik dan menarik, maka gagasan itu bisa dicerna dengan sangat mudah oleh komunitasnya.

Memimpin itu pada dasarnya adalah seni memengaruhi orang lain, tentu idealnya adalah memengaruhi pada hal yang baik-baik. Persoalannya adalah bisa jadi dia punya gagasan atau program yang baik namun tidak disampaikan dengan cara yang baik, hal ini tentu akan menjadi kontra produktif.

Tulisan mencerminkan penulisnya, atas dasar ini maka seorang pemimpin bisa memunculkan citra baiknya berdasarkan tulisan yang baik pula. Akan tetapi, citra baik tersebut tentu harus sesuai dengan citra hidup sesungguhnya, karena bagaimana pun tulisan tidak boleh mendustakan.

Upaya Melahirkan Tulisan Menggugah

Ada beberapa tips agar tulisan bisa menggugah pembacanya:

  1. Love

Setiap orang punya cinta, inilah modal utama, maknanya adalah bahwa tulisan itu harus berdasarkan hati dan cinta kasih, bukan atas dasar kedengkian.

Tataplah dunia dengan penuh cinta, lalu tuangkan dalam racikan kata, biarkan dunia terbuai karenanya

  • Share

Sesuatu dianggap baik kalau orang lain mengakui bahwa itu baik, sesuatu dianggap indah kalau orang lain juga mengakui bahwa itu indah, maka kebaikan dan keindahan yang kita rasakan harus disampaikan kepada orang lain untuk mendapatkan pengakuan bersama.

 “Keindahan taman surga yang kau rasa akan lebih bermakna saat dirasakan oleh sesama”.

  • Point of View

Saat kita melihat sesuatu dengan cara yang biasa maka yang kita lihat adalah biasa-biasa saja. Sesekali cobalah sudut pandang yang lain. Kita terbiasa melihat indahnya bumi dari daratan, cobalah sesekali naik pesawat, maka akan kau temukan keindahan yang berbeda, dahsyat luar biasa.

Geserlah sudut pandangmu, maka akan kau temukan beragam keindahan, lalu sampaikan pada dunia bahwa keindahan itu nyata adanya

  • Passion

Setiap orang punya kebiasaan, gairah, keinginan dan harapan yang bisa jadi berbeda dengan orang lain. Tulislah apa pun yang menggairahkan dirimu, dan biarkan orang lain menikmatinya lewat tulisanmu.

Ternyata gairahmu mampu menggairahkan orang lain

  • Vision

Setiap manusia akan sirna, wafat pada waktunya. Lalu apa yang akan dikenang? Kebermanfaatan apa yang orang lain dapat dari kehadiran kita di dunia? Kalau Imam Ghazali dikenang dengan Ihya Ulumuddinnya, Imam Malik dengan Al-Muwatthanya, Ir. Soekarno dan kawan-kawan dengan teks Proklamasinya. Lalu Anda dengan apa?

Apa yang akan dikenang setelah jiwamu berpisah dengan ragamu?

Maka mari tulis kebaikan, mari tebar kebermanfaatan, mari jaga etika dan kehormatan.

Wallohu’alam

Disampaikan dalam Pesantren Kepemimpinan ICMI Kota Tangerang dan LKP Titik Terang

Rabu, 27 April 2022 di SMAN 3 Kota Tangerang

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *