Oleh: Ade Zaenudin

KALIMAT buat saya fungsinya dahsyat, selain sebagai rumah inspirasi tapi juga menjadi dokter yang mampu menyuntik pikiran dan harapan, menancapkan doktrin diri bahwa nama saya harus tembus di koran ternama. Koran Nasional. Apa pun itu.

Tekad itu semakin membuncah seiring gosip yang saya dapat bahwa menulis di koran lebih susah dibanding membuat buku ber-ISBN. Entahlah, dua-duanya buat saya butuh perjuangan.

Bersyukur saya dapat guru-guru menulis yang super keren, Pak Cah, Umi Ida dan terakhir saya ikut kelasnya Mas Iqbal Aji Daryono, penulis rutin di media online. Ketiganya orang Jogja. Luar biasa.

Saya juga senang mengamati gaya-gaya tulisan renyah penulis beken seperti tulisannya Abah Dahlan Iskan dan penulis muda Pahd Fahdepie dan yang lain-lain, bukan hanya substansi materinya tapi juga teknis tulisannya. Cerdas berkelas. Saya pun mengamati gaya tulisan sahabat-sahabat KALIMAT yang semakin dahsyat.

Berikut beberapa pelajaran yang saya dapat, yang saya ingat, hehe.

Pertama, setidaknya ada dua corak isi artikel ilmiah populer yaitu tulisan informatif dan tulisan gagasan. Tulisan informatif bisa berbentuk berita, profil atau review, listicle (tulisan praktis berisi point-point), catatan perjalanan, laporan, how to (berisi panduan praktis melakukan sesuatu), dan tulisan motivasi.

Sementara tulisan gagasan mengandung ide atau sudut pandang yang tidak hanya menyalin informasi tapi mengandung logika yang solid, argumen yang kuat, dan ilustrasi yang seimbang. Skala kerumitannya lebih tinggi dibanding tulisan informatif. Dalam hal ini penulis harus lebih hati-hati menata argumen, sistematika, komposisi dan lain sebagainya.

Tulisan atau artikel populer yang saya rasa sedap senantiasa berisi racikan informasi dan gagasan yang seimbang dengan sedikit bumbu data dan analisa.

Kedua, pentingnya judul tulisan. Setiap media memang punya selera yang berbeda satu sama lain. Lihat saja media online mojok.co yang ciri khasnya agak nakal. Namun demikian, semua media bersepakat bahwa judul harus menarik pembaca.

Terkait judul, model untuk media cetak dan media online juga ada sisi bedanya, ambil contoh tulisan saya berjudul nAch, nAff, nPow yang berisi teori motivasi Mc Clelland needs for achievement, needs for affiliation, and needs for power. Buat media cetak mungkin judul nAch, nAff, nPow masih bisa menggaet pembaca, tapi untuk media online agak berat. Faktor googling harus dipertimbangkan, pembaca terbiasa searching dengan kata-kata yang familiar. Buat judul yang menarik, mudah dicerna, redaksinya familiar dan mencerminkan isi tulisan.

Ketiga, tulisan ramping. Media online Islami.co misalnya, menyarankan agar paragraf maksimal terdiri dari 5 atau 6 baris. Tulisan panjang bisa membuat pembaca engap dan berpotensi menghentikan bacaannya. Kecuali tulisannya benar-benar menarik. Total tulisan sekitar 500 sampai 900 karakter tergantung ciri khas masing-masing media.

Keempat, selain judul, hal yang bisa menjerat pembaca adalah paragraf pertama. Sajikan cerita atau kisah sederhana yang berkaitan dengan judul sekaligus mewakili pesan yang ingin disampaikan. Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda. Hehe.

Kelima, maksimalkan terlebih dahulu tulisan yang ingin dikirim ke media, persempit kesalahan teknis, karena pada saat tulisan dikirim, bisa jadi saingannya banyak, editor tentu akan memilih tulisan yang cacatnya lebih sedikit agar tidak terlalu merepotkan.

Keenam, kirim tulisan ke media yang sesuai dengan karakter tulisan. Masing-masing media punya gaya selingkung. Coba bandingkan Detik.com dengan Mojok.co! kalau tulisannya bersifat informasi dan agak formal maka lebih cocok ke Detik.com, tapi kalau tulisan sedikit bergaya nakal maka cocok masuk ke Mojok.co. Kita juga bisa menelaah kekhasan di kolom Hikmah Republika, mengandung kisah atau hal yang inspiratif dipoles gagasan yang mengandung hikmah kehidupan.

Ketujuh, pahami bahwa latar belakang pembaca media begitu beragam, maka bahasa yang dipakai adalah bahasa yang bisa dipahami semua orang.

Kedelapan, upayakan tulisan yang dikirim moment-nya pas, kekinian, ini bisa menjadi salah satu pertimbangan editor. Mereka tentu akan memilih tulisan terbaik yang masuk ke meja redaksi, namun tulisan yang kita anggap sederhana bisa jadi terpilih juga, bisa jadi karena sesuai selera editor atau pas moment-nya, dan bisa juga karena tulisan yang masuk ke redaksi tidak terlalu banyak. Yang pasti, takdir Allah SWT tidak akan meleset, hehe.

Kesembilan, pastikan bahwa tujuan mengirim tulisan ke media adalah menebar kebermanfaatan, bukan untuk gagah-gagahan. Boleh berharap bayaran tapi perlu diingat tidak semua media berbayar. Berbayar pun tak seberapa, macam-macam pula, ada yang dibayar pertulisan ada pula yang didasarkan pada statistik pembaca, ada pula yang didasarkan pada jumlah tulisan yang diterbitkan.

Tulisan yang tidak berbayar bukan berarti kurang bermanfaat, faktanya ada penulis yang karena sering posting tulisan akhirnya diminta jadi pemateri seminar, atau membuat kelas kepenulisan, bahkan tulisan yang sudah tersebar bisa dibukukan. Pasti bermanfaat.

Kesepuluh, lacak dan arsipkan email redaktur. Kita bisa searching untuk hal ini, kita pun akan mendapatkan aturan teknis tulisan yang diharapkan masing-masing media. Beberapa alamat email diantaranya, Detik.com: redaksi@detik.com, Mojok.co: redaksi@mojok.co Islami.co: redaksi@islami.co, Republika: sekretariat@republika.co.id, Media Indonesia: redaksi.micom@mediaindonesia.com, dan lain-lain silahkan searching.

Alhamdulillah, Selasa 9 Maret 2021 Allah SWT kabulkan harapan yang sudah saya tanam puluhan tahun, “Memuliakan Rajab” dimuat di kolom Hikmah Republika halaman 16 paling atas. Tulisannya sangat sederhana, terbit semata karena kuasa Allah Yang Maha Rahman, inspirasinya dari sebuah pengajian, tulisannya sudah saya simpan di file tabungan tulisan beberapa bulan. Pengalaman dan kepuasan tak terhargakan. Tahadduts bi ni’mah, Alhamdulillah sebelumnya pernah juga beberapa koran daerah memuat tulisan saya.

Kebahagiaan bertambah saat dapat pemberitahuan untuk mengecek tabungan. Walau disampaikan nominal tak seberapa, tapi mampu membuat imun meningkat berlipat ganda, dunia kian terasa cerah, tulisan membawa berkah.

Lebay dikit boleh kali, Hehe…

Masya Allah tabaarokalloh, la haula walaa quwwata illaa billah.

0Shares

By Ade Zen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *