Oleh: Moh. Anis Romzi

Seiring dengan pelaksanaan tugas Kepala Sekolah dua hal saling beriringan. Administrasi dan kebutuhan peserta didik akan hak belajarnya. Adakalanya keduanya datang secara bersamaan. Ketika peserta didik memerlukan layanan pendidikan dan satuan pendidikan mengalami kekurangan sumber daya manusia. Ini akan mendatangkan permasalahan. Kepala sekolah harus mampu menjadi problem solver. Kemampuan inilah yang diharapkan dimiliki oleh setiap kepala sekolah. Saat harus menentukan pilihan kepala sekolah harus mampu mengambil yang tepat.

Kedua hal administrasi dan kebutuhan belajar peserta didik sama penting. Namun di antara dua kepentingan itu ada hal yang lebih penting. Yakni nilai yang dianut satuan pendidikan. Nilai adalah keyakinan yang dianggap benar oleh warga satuan pendidikan untuk bertindak. Komitmen pada nilai inilah yang akan memandang tingkat kepentingan layanan pendidikan dan administrasi. Setiap pilihan akan membawa risiko. Namun kesetiaan pada nilai akan berdampak pada hasil sebuah tindakan.

Tiga tugas utama kepala sekolah dalam pembelajaran adalah manajerial, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi akademik. Dalam aplikasi penerapan profesi ketiganya integral. Saling melengkapi satu dengan yang lain. Hasil belajar dari peserta didik merupakan gambaran kompetensi kepala sekolah dalam menjalankan tiga tugas utama tersebut. Muara dari kepala sekolah profesional adalah hasil belajar peserta yang meningkat secara berkelanjutan.

Di saat yang sama kondisi satuan pendidikan bervariasi. Seperti di tempat kami SMPN 4 Katingan Kuala dan sekolah di sekitarnya. Hampir mayoritas kekurangan tenaga pendidik dan karyawan. Sering saat tugas administrasi harus diselesaikan peserta didik tidak terlayani dengan baik. Kurangnya tenaga inilah sering menjadi penghambat proses pembelajaran. Pun tugas administrasi acap kali terbengkalai.

Ketika para peserta didik memerlukan layanan pembelajaran wajib untuk dilayani. Merekalah yang utama. Para peserta didik adalah pelanggan eksternal utama. Ketika dihadapkan kondisi yang demikian pilihan harus ditentukan. Peserta didik berangkat dengan harapan. Mereka datang ke sekolah ada pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang akan dibawa pulang. Maka naif bagi pendidik dan pengelola satuan pendidikan abai pada harapan mereka.

Di sisi lain tuntutan penyelesaian administrasi pendidikan juga harus diselesaikan. Ini berhubungan dengan kinerja lembaga di mata penanggung jawab pimpinan politik. Saya membahasakan pimpinan politik adalah kepala daerah. Ketika pimpinan memberikan instruksi selesaikan tanda loyal ya harus diselesaikan. Kepala sekolah seyogianya mampu mengelola keadaan ini dengan bijaksana. Secara moral kebutuhan peserta didik akan belajar wajib didahulukan. Administrasi pendidikan kemudian.

Perlunya menemukan titik temu antara dua kepentingan. Terpenuhinya layanan pendidikan dan terselesaikannya tugas administrasi satuan pendidikan. Kompetensi kepemimpinan kepala sekolah diuji dengan keadaan seperti ini. Kompetensi manajerial berpengaruh besar menyelesaikan permasalahan seperti ini. Kepemimpinan distributif layak menjadi acuan. Pemimpin dalam hal ini kepala sekolah mampu mendelegasikan wewenang. Dalam penerapan kepemimpinan pembelajaran pada hakikatnya semua adalah pemimpin. Kepemimpinan ini adalah kepemimpinan kolektif.

Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Pada kondisi dalam tekanan ketenangan dalam bersikap penting. Ketenangan dapat menimbulkan kejernihan dalam berpikir. Saat pekerjaan dikejar waktu  antara idealitas dan realitas. Kembalikan kepada niat awal ketika bekerja. Utamakan nilai komitmen mengutamakan peserta didik pada kebutuhan belajar mereka. Pekerjaan administrasi dapat dibagi. Kepala Sekolah mampu membagi dan tanggung jawab bersama. Ini akan meringankan. Semua warga satuan pendidikan adalah pemimpin. Keberhasilan pendidikan adalah kerja tim. Bukan perseorangan

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 29/11/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *