Oleh: Ade Zaenudin

Kemarin petugas ekspedisi datang menyampaikan sebuah paket. Baru ingat bahwa beberapa hari yang lalu saya memesan sebuah buku dengan sistem COD (Cash On Delivery) atau bayar di tempat.

Setelah dihitung total harga barang dan jasa kirimnya, saya bayar dua ratus enam puluh ribu rupiah. Memang bukunya sangat tebal, hard cover pula.

Judul buku yang saya beli itu adalah “Mahakarya Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asyári”.

Promosi buku itu saya temukan di facebook, judul dan covernya membuat saya ngiler, dan yang lebih bikin ngiler adalah ternyata buku itu merupakan kumpulan tujuh kitab.

Setengah bagian buku itu adalah kumpulan tujuh kitab berbahasa Arab yang dicetak di kertas HVS dan setengahnya lagi adalah terjemahannya yang dicetak di kertas bookpaper, yang agak kekuning-kuningan.

Kitab pertama adalah Adabul Álim wal Mutaálim sebuah kitab panduan akhlak bagi pengajar dan pelajar.

Kitab kedua Risalah fi Ahkam al-Masajid sebuah kitab tipis yang mengulas tentang hukum-hukum berkaitan dengan masjid.

Kitab ketiga Risalah Ahlussunnah wal Jamaáh. kitab ini secara khusus menjadi panduan warga nahdliyyin, dan secara umum mejadi pedoman hidup umat Islam di tengah-tengah masyarakat.

Kitab keempat adalah Dhau’ al-Misbah kitab ini membahas tentang hukum-hukum terkait nikah.

Kitab kelima adalah Nurul Mubin membahas tentang kewajiban orang-orang mukalaf untuk mencintai para Nabi.

Kitab keenam adalah at-Tibyan yang mengulas pentingnya menjaga hubungan persaudaraan antar keluarga dan bahaya memutus silaturahmi.

Kitab ketujuh Al-Mawaidh yang berisi nasihat-nasihat Mbah Hasyim.

Selain tujuh karya monumental tersebut, masih banyak kitab lain yang merupakan karya Mbah Hasyim, sebut saja Ziyadat Ta’liqat, At-Tanbihat al Wajibat Liman Yasnaú al-Maulid bi al-Munkarat, Ar-Risalah al-Jamiah, Ad-Durar al-Muntasirah fi Al Masail at Tisyá Asyarota dan masih banyak lagi yang lainnya.

Deretan nama-nama kitab yang saya sampaikan itu menjadi bukti bahwa mbah Hasyim adalah ulama besar yang juga pejuang literasi, selain gemar membaca beliau juga rajin menulis.

Pada halaman pengantar buku itu, KH. Salahuddin Wahid menyampaikan bahwa Mbah Hasyim juga sering mengisi kolom pada majalah dan surat kabar seperti Panji Masyarakat, Soeara Masjoemi, dan Swara Nahdhotul Oelama’.

Tulisan-tulisan Mbah Hasyim sangat beragam, ada artikel, fatwa, ceramah, bahkan menjadi pengasuh rubrik tanya jawab masalah fikih.

Eksistensi tradisi berliterasi beliau buktikan juga dengan menggagas penerbitan majalah bernama “Soeara Nahdhotoel Oelama” bersama KH. Abdul Wahab Hasbullah yang tidak hanya memuat perkembangan Nahdhotul ulama saja tapi juga memuat berita-berita aktual peristiwa nasional. Majalah ini mulai terbit tahun 1930, empat tahun setelah berdirinya Nahdhotul Ulama (NU), 31 Januari 1926.

Hari ini, 31 Januari 2021, tepat di Hari Ulang Tahun NU yang ke 95. Usia yang tidak terbilang muda tapi eksistensinya semakin terasa luar biasa. Resepnya adalah Al Muhafadhotu ala qodim as Sholeh, wal Akhdu bil jadid al Ashlah, memelihara tradisi yang baik dan mengakomodasi tradisi baru yang lebih baik.

Memastikan eksisnya tradisi lama yang baik dan memastikan hal baru tidak bertentangan dengan prinsip para ulama terdahulu tentu bukan hal mudah, dibutuhkan panduan agar tidak melenceng keluar pagar.

Alhamdulillah, bersyukur Mbah Hasyim selaku pendiri NU punya tradisi literasi di atas rata-rata. Tulisan-tulisan beliau menjadi pedoman. Maka bisa kita katakan bahwa tradisi literasi Mbah Hasyim berkontribusi terhadap kokohnya Nahdhotul Ulama.

Dalam rangka harlah NU yang ke-95 mari perkokoh Khidmah kita dengan memperkuat budaya literasi, seperti yang dilakukan Mbah Hasyim.

Wallohu muwafiq ilaa aqwaamit thariiq

Ade Zaenudin (Sekretaris PC. Pergunu Kota Tangerang)

0Shares

By Admin

2 thoughts on “Tradisi Literasi Mbah Hasyim Asyári”
  1. Alhamdulillah
    Dengan membaca artikel sekecil apapun karya orang akan menjadikan suatu keberkahan buat saya ,walaupun ilmu banyak di mana- mana tapi orang kebanyakan enggan membacanya
    Terimakasih ustd Ade Zaenudin atas jamuannya.
    Semoga terus berkarya untuk Pergunu dan lannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *