MaryatiArifudin, 23 Ramadhan 1442

Tahun lalu pandemi corona masih membersamai saat ramadhan tiba. Entah kapan pandemi ini bisa sirna di negeri tercinta. Ku ingat, kita selalu berdua saja saat menghidupkan ramadhan tahun pertama corona di rumah saja.

Sungguh, ramadhan tahun lalu menyisakan kenangan di hati dan ternyata itu ramadhan terakhir bagimu. Sekarang ini tahun kedua ramadhan tetap sama masih pandemi corona. Namun, ada rasa berbeda karena ku hanya menghidupkannya seorang diri saja.

Gambaran itu nampak didepan mata. Bagaimana dirimu selalu menyambut bulan mulia dengan ceria. Hampir empat tahun bersama rasa sakit itu tiba, tidak mengurangi kecintaanmu tuk bergembira menyambut bulan mulia.

Deretan rencanamu sangat jelas terbayang  dipelupuk mata. Agar, dapat menghidupkan ramadhan walau di rumah saja. Tak terasa saya harus berpisah denganmu, itulah ramadhan terakhir bagi kita. Bukan karena corona yang memusahkan kita, namun jatah usialah takdir itu tiba.

Mengenangmu! Dengan mengarahkan seluruh daya dirimu selalu mencoba menyelesaikan rakaat sholat tarawih bersamaku. Walaupun terseok-seok berdirimu menyelesaikan sholat-sholat itu tak ada satupun keluhan keluar dari lisanmu tuk mengakhiri sholat berjamaah itu.

Sungguh dirimu seolah-olah mengetahui tahun itu terakhir berjumpa dengan bulan ramadhan itu. Sehingga selalu berusaha ingin berusaha menghapus kesalahan-kesalahan dan ingin menggapai derajat di sisi Alloh SWT.

Dirimu berusaha menunggu di pos penjagaan dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan sesuai syariat. Dirimu berjuang dan mengajariku tuk melakukan ribath. Apa itu ribath?

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi SAW bersabda,” Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang menghapus kesalahan-kesalahan dan meninggikat derajat-derajat?” Para Shahabat berkata, “Mau, wahai Rasulullah.” Nabi bersabda, “Menyempurnakan wudhu’ pada saat-saat sulit (misalnya pada saat cuaca sangat dingin dll), banyak melangkah ke masjid-masjid, dan menunggu shalat setelah shalat.

Pelajaran yang ku dapat saat mendampingi dirimu sakit. Sungguh, Alloh SWT telah memilih dirimu tuk membuktikan cintamu pada-Nya. Ku mengakui dirimu memilih sabar dan menerima takdir dengan hati terbuka. Waktumu kau gunakan dengan sesuatu yang bermanfaat.  Dirimu tidak menyia-nyiakan kesempatan tuk selalu berbenah mempersiapkan bekal jika tiada. Semoga Alloh Yang Maha Pengasih selalu menempatkan di surga. Itulah, harapan tertinggi semua hamba.

Jika, ku mengenang peristiwa itu sungguh diriku merasa malu. Malu pada diriku, kenapa? Karena aku  belum setegar dirimu.

Dalam suasana sakit hampir empat tahun kau jalani, diri selalu menyambut bulan ramadhan dengan ceria. Dirimu selalu berharap tuk berjumpa dengan bulan istimewa itu. Persiapannya menyambutnya diawali dari tiga bulan sebelum hadirnya bulan yang diimpikannya. Dimulai dari Bulan Rajab,  Bulan sya’ban, sampailah bulan Ramadhan sungguh bulan yang selalu disebut-sebut untuk segera bersiap diri menebar amalan semampumu.

Ajakanmu dimulai dari puasa sunah  senin dan kamis, kadang difariasi dengan puasa pertengahan bulan menjadi semangat mengisi pundi-pundi amal kami. Satu lagi yang ku pahami, sakitmu menumbuhkan motivasi tuk selalu mendekati Sang Illahi Rabbi. Dirimu sadar, bahwa sebentar lagi akan bertemu dengan Kekasih yang abadi. Sehingga lisanmu dibenuhi dengan bacaan kitab suci. Sungguh! Di akhir hidup bersamamu mampu menguatkan istiqomah diri.

Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus (agama yang lurus) dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Artinya, istiqomah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir batin dan meninggalkan semua perkara yang dilarang.

Perintah istiqomah terdapat dalam surat Hud ayat 112. Artinya,” Maka istiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas”.

Sungguh sikap istiqomah mampu menentramkan jiwa. Mereka yang selalu teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal sholeh, mereka tidak akan bersedih hati dan tidak merasa khawatir terhadap dirinya.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allâh”, kemudian mereka tetap istiqomah dan tetap beramal shalih, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. [al-Ahqâf /46:13-14]

Kadang mananamkan sikap istiqomah perlu semangat dari orang sekitar. Sungguh, ajakan darimu tuk bersegera menambah kebaikan akan ku coba bertahan tuk mengamalkan. Jika usai satu hari lebaran, dirimu pasti mengajak bersegera menunaikan puasa syawal.

Padahal, godaan itu akan selalu datang karena menu lebaran bermacam disajikan. Namun, dirimu pantang tuk mendekati menu lebaran karena akan bersegera menyambut puasa syawal yang pahalanya dahsyat jika dikerjakan.

Semangatmu, akan selalu ku kenang pada hari kedua bulan syawal dirimu telah menunaikan puasa sunah itu. Dirimu akan segera menangkap peluang pintu-pintu kebaikan yang dijanjikan-Nya. Walaupun banyak godaan menu spesial lebaran menjadi tantangan, dirimu tetap fokus menggapai amalan puasa syawal.

Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)

Tantangan-tantangan itu mampu  kau tundukkan, sakitmu tidak pernah kau jadikan alasan. Aku tahu dirimu sedang berjuang, menundukkan ujian sakitmu dengan kesabaran. Walau waktu lama ujian sakit itu datang, dirimu terima dengan penuh tanggung jawab sebagai hamba yang beriman. Dirimu selalu mencoba berjuang tuk istiqomah dalam suatu kebaikan.

Sikap istiqomah menuntun pada kita semua tuk tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Kadang dalam menjalankannya muncul kekurangan-kekurangan. Olehkarena itu diperbaiki dengan perbanyak istighfar yang mengharuskan taubat dan kembali menuju istiqomah itulah jalan lapang terbentang.

Kadang rasa boring itu hadir tetap rasa itu mampu kau tundukkan. Dengan beristighfar yang kau lafatkan semoga mampu menghapus seluruh kesalahan. Bentuk ujian sakitmu semoga mampu menggugurkan dosa-dosamu. Wahai, pangeranku aku menjadi saksi ketundukaan .

Saat akhir ramadhan ini, sebutir kenangan sikap istiqomahmu membayang dipelupuk mata. Aku berharap mampu meniru jejak kesabaran dan sikap istiqomah itu. Ingatlah,  penting sekali amalan yang kontinu dan menjadi akhir hidup dengan penutup terbaik itulah cita-cita semua hamba di bumi.

Referensi:

Klik https://muslim.or.id/377-puasa-syawal-puasa-seperti-setahun-penuh.html

https://almanhaj.or.id/4197-istiqomah.html
https://almanhaj.or.id/12179-bertakwa-kepada-allah-dan-ahlak-yang-terpuji.html
0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *