Oleh: Ade Zaenudin

Sirota Consulting sebuah lembaga konsultan di Amerika Serikat pernah melakukan survei terhadap 237 perusahaan industri untuk mengetahui motivasi bekerja para karyawannya. Hasilnya ada tiga motif utama orang bekerja yaitu mendapatkan keadilan, prestasi, dan persahabatan. Temuan tersebut dikenal dengan Sirota Three-Factor Theory atau Teori Sirota.

Tiga motif utama Sirota tersebut sesungguhnya juga sudah melekat dalam dunia pendidikan. Mendapatkan keadilan, prestasi, dan persahabatan bisa dijadikan sebagai pemicu keterdidikan seseorang. Mari kita analisa satu persatu.

Keadilan

Adil adalah menempatkan sesuatu sesuai posisi dan porsinya. Semahal apapun sepatu, tetap saja posisinya di kaki, dan semurah-murahnya peci, tetap saja tempatnya di kepala. Adil pun tidak mesti bermakna sama, karenanya sepatu kiri dan sepatu kanan bentuknya tidak sama, pakaian untuk anak laki-laki dan perempuan juga berbeda. Itulah makna adil.

Proses keterdidikan adalah sebuah upaya transformasi dari “tidak/belum terdidik” menjadi “terdidik” karena sejatinya orang yang tidak atau belum terdidik akan mempunyai perlakuan yang berbeda dengan yang sudah terdidik. Dalam Al-Quran saja Allah SWT memosisikan mereka berbeda, “Katakanlah tidak mungkin disamakan antara orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu” (Q.S. Az-Zumar: 9).

Keterdidikan akan berimplikasi pada kebermartabatan. Siapa yang lebih terdidik maka dia lebih berpeluang mempunyai kebermartabatan yang lebih tinggi pula. Dalam Surat Al-Mujadalah ayat 11 Allah SWT menjanjikan akan meningkatkan derajat orang yang terdidik. Inilah makna keadilan dalam proses pendidikan. Maka mencari keadilan melalui proses pendidikan adalah salah satu ciri langkah manusia yang bermartabat.

Prestasi

Pada dasarnya setiap manusia ingin mencapai prestasi tertinggi, sesuai dengan kapasitas diri masing-masing tentunya. Selera dan pandangan hidup yang beragam menjadikan standar prestasi yang diharapkannya pun menjadi beragam pula.

Dalam rangka mencapai keinginannya, manusia akan berstrategi mencari jalan terbaik, termudah, bahkan tercepat. Kata kuncinya adalah menguasai ilmunya, maka bisa dipastikan pendidikan menjadi prasyarat utamanya.

Kita sangat meyakini statement yang menyatakan bahwa kebahagiaan di dunia dan di akhirat hanya bisa diperoleh dengan ilmu, bukahkah kebahagiaan dunia dan akhirat ini adalah puncak tertinggi prestasi yang kita inginkan?

Persahabatan

Secara fitrah manusia adalah makhluk berjamaah, dan lumrahnya manusia berkoloni atas dasar persamaan pandangan dan harapan. Pandangan dan harapan manusia tersebut terbentuk berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan sebelumnya, hal ini kita kenal dengan proses keterdidikan.

Kita bisa mengatakan bahwa proses keterdidikan mampu mempererat relasi persahabatan. Sejatinya, semakin terdidik maka semakin mampu menanggalkan keegoisan. Atas dasar keterdidikan, para imam madzhab misalnya saling belajar satu sama lain, saling memahami perbedaan sudut pandang yang mereka miliki. Lalu kenapa masih ada yang bertengkar gara-gara berbeda madzhab? Kita bisa katakan bahwa yang bersangkutan harus lebih banyak belajar lagi sama para pendiri madzhab masing-masing tentang arti persahabatan.

Dalam rangka membangun relasi yang positif mutualistik antar individu, dibutuhkan pengetahuan bagaimana memahami benang merah persamaan pandangan ditengah-tengah perbedaan.

Puncak dari persahabatan orang-orang terdidik adalah saling memahami, saling mengerti, dan saling menghormati  di tengah-tengah perbedaan yang dimiliki.

Kita menyadari bahwa tatangan dunia pendidikan semakin berat dengan hadirnya era informasi dan digitalisasi, persaingan global pun semakin tidak terelakkan. Pada era ini keterbukaan menjadi sebuah keniscayaan. Oleh karenanya, pemerataan pendidikan harus menjadi prioritas pembangunan sebagai bentuk keadilan. Tidak boleh ada lagi anak bangsa yang tidak mengenyam dunia pendidikan, apapun alasannya.

Kita pun menyadari bahwa prestasi dunia pendidikan Indonesia saat ini belum sepenuhnya memuaskan, tentu tanpa menghilangkan beberapa prestasi yang ada. Belum lama kita mendapatkan raport merah pada Programme for International Student Asessment (PISA), berbagai program pun kemudian dicanangkan oleh pemerintah seperti Gerakan Literasi dan Assessment Kompetensi Minimum (AKM) untuk siswa. Guru pun diminta untuk menaikan level kognitif pembelajaran dari yang LOTS (Lower Other Thinking Skill) ke arah HOTS (Higher Other Thingking Skill) dalam konteks ini siswa harus diajak berpetualang ke arah berpikir kritis, berpikir tingkat tinggi, seperti mengubah kebiasaan siswa “memahami” menjadi “menganalisa atau mencipta”.

Era revolusi industri 4.0 -yang menjadi tantangan tersendiri bagi generasi bangsa- mensyaratkan pentingnya berkolaborasi. Betapa tidak, pergeseran wajah dunia dari dunia nyata ke dunia maya menegasikan hidup individulis, bahwa membangun komunikasi menjadi sebuah keharusan.

Mari kita resapi dan rasakan betapa sentralnya media sosial, benar-benar membias pada seluruh aspek kehidupan termasuk ekonomi, politik, budaya, pendidikan bahkan pada tatanan keberagamaan, media sosial menjadi strategi mencapai tujuan.

Mantra baru pun lahir, jika ingin menguasai dunia, maka kuasai teknologi dan bangunlah relasi.Wallohu a’lam

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *