Tausyiah Sederhana
Maryati Arifudin, 8 Ramadhan 1442 H

Tahun kedua ramadhan tetap diselimuti lara. Lara akibat corona belum berlalu di negeri tercinta. Tetapi kita harus selalu bersahaja menyikapi tahun ke-2 corona.

Di bulan mulia kita ingin berburu banyak pahala. Bagaimanakah kiat-kiat ibunda dalam mendidik puasa? Kita kupas bersama mudah-mudah menjadi sajian berbuka bersama keluarga.

Tujuannya demi membangun pribadi putra-putri tercinta tuk menanam akhlak terpuji. Akhlak terpuji sesuai tuntunan ajaran Illahi Robbi, harus disampaikan sejak dini. Agar, keluarga kita terjaga dan terhindari dari siksa api neraka.

Menanamkan perintah-perintah dalam syariat islam dalam keluarga hendak sejak usia balita. Peran kedua orangtualah yang mendasari pendidikan syariat utama.

Saat ini, aktivitas kerja masih kebanyakan di rumah saja. Luangkan waktu membersamai putra-putri tercinta selama ramadhan tiba. Didiklah putra-putri tercinta demi ajaran mulia ini tersampaikan lewat pesan-pesan sederhana.

Bergegas singsingkan lengan agar nilai ramadhan ini berbeda. Ambil peran tuk melatih putra-putri tercinta mengisi ramadhan. Didiklah putra putri tercinta dengan mendidik secara istimewa.

Pada masa balita itulah, ajari mereka mengenal Tuhannya. Libatkan mereka dalam menegakkan perintah-perintah-Nya. Ajarkan doa-doa, agar jiwanya mudah mendekat pada Penciptanya. Mumpung ramadhan tiba, latihlah berpuasa semampu anak balita berpuasa.

Perhatikan! Penjelasan dari Syaikh Nawawi bahwa: Seorang anak yang telah mencapai usia tujuh tahun dan telah mumayyiz diwajibkan menunaikan sholat. Adapun batasan seorang anak telah mumayyiz adalah apabila ia telah mampu makan, minum, dan beristinja’ secara mandiri.

Bila anak telah mumayyiz namun belum mencapai usia tujuh tahun maka orang tua hanya disunahkan memerintahkan anaknya melakukan kewajiban-kewajiban syari’at. Jadi sebelum usia anak sampai tujuh tahun, Orang tuanya agar memerintahkannya dan membimbingnya. Raihlah kemuliaan bulan ramadhan ini, dengan jalan menanamkan kebaikan bersama keluarga.

Saat putra-putri tercinta berumur sembilan sampai sepuluh tahun belum menegakkan sholat, maka orangtuanya boleh mencambuknya. Tentu hukuman mencabuk tidak boleh terlalu keras. Mencabuk itu hanya sebagai pengingat bahwa memasuki usia baligh, seseorang wajib mendirikan sholat.

Begitulah syariat islam wajib disampaikan pada putra-putri tercinta. Sehingga, saat memasuki usia baligh putra-putri tercinta memahami kewajiban yang harus ditegakkan. Kapan batas usia baligh seseorang? Sehingga amanah kholifah dimuka bumi ini mulai diperhitungkan catatan amal kebaikannya.

Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safinatun Najah menyebutkan ada 3 (tiga) hal yang menandai bahwa seorang anak telah menginjak akil baligh.

Tanda baligh bagi anak laki dan anak perempuan berusia lima belas tahun. Atau anak laki-laki dan anak perempuan telah mengalami mimpi basah (ihtilaam). Atau khusus anak perempuan telah mengalami haid atau menstruasi.

Ajaran pendidikan dini dalam syariat islam begitu detainya. Sehingga wajiblah orangtua memahaminya, agar mampu mendampingi pada putra-putri tercinta mengamalkan syariat-Nya.

Begitulah islam mengajarkan dalam menanamkan pendidikan aqidah pada putra-putrinya. Sampaikan ilmu agama ini pada keluarga anda semua, sambil menunggu adzan berbuka puasa di rumah anda. Usai berbuka bersama, bergegas bersama mendirikan sholat berjamaah itulah tauladan nyata.

Disamping berkah bahagia berbuka bersama keluarga, ada berkah lain yang ditunggu putra-putri tercinta. Apa berkah yang di tunggu itu? Mendengarkan tauziah sederhana dari kedua orangtua. Tauziah orangtua yang tak pernah dilupa oleh putra-putri tercinta. Ilmu tauziah dari para orangtua yang diamalkan oleh putra-putri anda, akan menjadi amal jariah sesungguhnya.

Begitulah, islam mengajarkannya menggapai berkahnya ramadan tiba. Belajar mencari dan mengoptimal berkahnya puasa, karena pahala puasa memang nyata. Bersama keluarga di masa pandemi corona namun tetap berpuasa dan bersahaja. Ramadan corona ke dua tak menghalangi kami mencapai derajat taqwa.

Sumber:
https://islam.nu.or.id/post/read/80726/tiga-tanda-seorang-anak-dikatakan-baligh

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *