Oleh: Ade Zaenudin

Refleksi, dan resolusi. Pentingkah? Buat saya penting, mestinya setiap hari, setidaknya setahun sekali.

Refleksi mengajak kita berwisata ke masa lalu, menelaah apa yang sudah terjadi, sementara resolusi mengajak kita berwisata ke masa depan, menumbuhkan harapan-harapan.

Pergantian tahun kali ini mengingatkan apa yang disampaikan Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam tentang pentingnya melakukan hal yang lebih penting dibanding hal-hal penting lainnya, beliau katakan “Pencarianmu akan aib dan penyakit-penyakit hati di dalam dirimu, itu lebih baik daripada keinginanmu untuk mengetahui hal-hal yang ghaib”.

Ibnu Athaillah mengajak kita untuk memulai refleksi diri dengan mengingat-ingat penyakit hati yang senantiasa menghampiri. Sombong, iri, dengki, hasud, riya, bahkan gila apresiasi selalu saja terasa susah untuk dihindari.

Semua penyakit hati itu bukan untuk diratapi tapi bagaimana kita menyusun strategi untuk menguburnya dalam-dalam dan menggantinya dengan beragam kebaikan.

Mendeteksi penyakit hati jauh lebih penting dibanding mengetahui rahasia-rahasia alam semesta, begitu isyarat yang disampaikan Ibnu Athaillah. Betapa tidak, penyakit-penyakit hati yang bersembunyi di dalam diri akan sangat berimplikasi pada sudut pandang kita melihat dunia luar, dan ini tentu akan sangat berbahaya, bukan hanya berbahaya bagi diri sendiri tapi juga menjadi bahaya bagi orang lain.

Atas dasar kebencian, ilmu pengetahuan berpotensi disalahgunakan, ayat-ayat Tuhan yang mestinya mendamaikan dipelintir menjadi senjata penghasutan. Bahkan saat ini kita masuk pada fase di mana media sosial begitu sulit mengendalikan perdebatan-perdebatan recehan yang dibingkai kebencian, celakanya apapun yang dilakukan kelompoknya selalu benar dan di luar kelompoknya adalah kesalahan. Bukankah kondisi ini sudah tidak sehat? Dan bukankah itu semua bermula dari tidak sehatnya hati? Ooh… rupanya ada penyakit yang lebih berbahaya dibanding Covid 19.

Oleh sebab itu, mari jadikan pergantian tahun ini untuk menata hati dan mengaktualisasaikannya dalam rangkaian kebaikan yang Tuhan senangi. Apapun yang akan kita lakukan nanti, coba cek terlebih dahulu dengan satu pertanyaan yang harus dijawab sendiri, sukakah Tuhan dengan apa yang akan kita lakukan ini?

Pada bagian lain, Ibnu Athaillah menegaskan bahwa harapan (raja’) itu pasti diikuti dengan tindakan (amal). Jika tidak, maka itu hanyalah angan (umniyyah).

  اَلرَّجّاءُ مَا قَارَنَهُ عَمَلُ وَإِلاَّ فَهُوَ أُمْنِيَّةٌ

Tentu kita tidak menginginkan harapan-harapan baik kita di masa depan menguap menjadi umniyyah atau angan-angan, maka tugas kita selanjutnya adalah sesegera mungkin melakukan tindakan mengaktualisasikan keinginan, awali dengan Bismillah agar apa yang kita lakukan di bawah ridha Tuhan.

Setiap orang punya catatan, setiap orang punya harapan akan tetapi lebih dekat pada Tuhan adalah sebuah keharusan.

Begitulah, Tuhan senantiasa memberikan pelajaran kepada kita dengan pergantian tahun.

Cengkareng, Jumat, 1 Januari 2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *