Oleh: Mang Agus Saefullah

Bismillah … Bro antum di mana? Ayoo kajian. Aku jemput yaa..” sebuah pesan WA menyapa di sore hari. “Afwan bro ana hari ini sibuk banget. Besok lagi yaaaa.” Jawabnya.

Kata “sibuk” menjadi kata yang paling ampuh untuk menjawab ajakan setiap kebaikan apakah itu kajian, berkegiatan sosial dan lain-lain.

Baiklah, sekarang mari mengukur diri masing-masing. Apa iya orang yang ngajak juga enggak sibuk? Bisa jadi lebih sibuk dari yang diajak lohh. Tapi ya yang namanya mencari ilmu itu kewajiban yang tak boleh kita tinggalkan sejak lahir hingga masing-masing dari kita masuk satu persatu ke liang lahat, berbusana kain kafan dan berbekal amal apa adanya. Gelap, sempit dan satu persatu binatang melata menggerogoti jasad kita. Karena bau amis jasad kita nanti adalah makanan lezat bagi mereka. Allahumaghfirlana Ya Allah .. !!!

Kalau pake kaidah mafhum mukhalaf, setiap orang yang diajak ngaji, jawabannya sibuk terus, artinya yang rajin ngaji itu “pengangguran”. Apa iya? Jangan-jangan sebaliknya.

Kawanku, sibuk itu bukan tentang pekerjaan, sibuk itu bukan tentang daganganmu, sibuk itu bukan tentang PR-PR mu yang menumpuk. Sibuk itu tentang positioning dirimu dengan waktu yang telah Allah anugerahkan. Waktu itu anugerah, sama-sama 24 jam tapi sebesar apa artinya bagi diri kita masing-masing ya bergantung kita memanfaatkannya.

Jangan sampe ngaji gak bisa? Tapi waktumu habis-habisan pake game online. Kuotamu jebol juga kan? Ampun daaah.

Masih tantang kata sibuk. Jika sibukmu adalah ketebatasanmu, maka mari kita ingat kembali kisah sahabat yang terurai dalam hadits Ahmad ada seseorang yang buta, udah gitu jarak rumahnya ke masjid jauh dan berbatu bahkan melalui kebun-kebun kurma yang bersam-semak.

Wahai Rasulallah” Kata Abdullah bin Umi Maktum. “Aku lelaki buta, rumah jauh dari masjid, dan tak memiliki penuntun jalan yang layak. Adakah keringanan untukku menjalankan salat di rumah?” pintanya

Ya,” jawab Baginda Nabi.

Sesaat kemudian terdengar suara adzan.

Apakah engkau mendengar seruan salat?” tanya Rasulullah kepadanya.

Ya Rasulullah, aku bisa mendengarnya,” jawab Abdullah bin Ummi Maktum.

Kalau begitu engkau tetap harus hadir di masjid.”  Kata Nabi. “shalat berjamaah bersama kami.” Tegasnya

Mendengarkan jawaban Rasulullah, Abdullah bin Ummi Maktum pun bergegas menuju masjid, dan seterusnya tetap berjamaah di masjid.

Apakah Abdullah bin Umi Maktum marah, kecewa, benci? Tentu saja tidak. Dia happy, happy banget bahkan happy until jannah.

Kapankah waktu sibuk sesungguhnya akan menghampiri?

“Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua). Pada hari itu manusia lari dari saudaranya. Dan dari ibu dan bapaknya. Dan dari istri dan anak-anaknya.Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (Q.S. Abasa 33-37)

Wallahu a’lam

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *