Oleh: Cicik

Badan tegap itu tampak terpuruk di tempat yang sama, memandang sinar matahari yang semakin meredup, menerobos masuk melalui jendela kaca sebuah gedung berlantai dua. Diam … hampir tidak terlihat bergerak sama sekali. Hanya terkadang terlihat pundaknya terangkat seakan sedang mengambil nafas dengan berat. Kemeja yang dia pakai pun masih tetap tampak leseh dan tidak rapi, tidak seperti kebiasaanya.

“Maaf, Pak.  Sudah jam 18.00 WIB, Bapak masih hendak berlama di kantor?” tanya Tania, sekretaris di perusahaan jasa Zoe Architech & Building.

“Ya. Silahkan, jika kamu mau pulang, Tania” jawab pria berbadan tegap yang tidak lain adalah bosnya, tanpa berbalik.

Tania berjalan mendekati meja pimpinannya. “Pak, ini beberapa dokumen yang perlu persetujuan Bapak. Saya letakkan di atas meja Bapak. Tidak mendesak,” lapor Tania sambil meletakkan beberapa dokumen yang tersusun rapi di meja besar itu. “Saya ijin pulang lebih dulu, Pak,” pamit Tania.

 Tania berbalik meninggalkan ruang kerja bosnya, sesaat dia terkejut, “Eh, Pak Arga. Maaf, Pak.”

Arga manager departemen arsitek bersandar di ambang pintu, tersenyum dan memberikan jalan untuk Tania meninggalkan ruangan.

Terdengar pintu tertutup perlahan dan diikuti dengan langkah kaki mendekat ke meja besar dan rapi itu. Walaupun yang punya meja jauh dari kesan rapi.

“Ehem,” deheman Arga memecahkan kesunyian.

Sosok diam itu tampak bergerak memutar kursinya menyambut deheman yang akhirnya menyadarkan kebekuannya. Senyum kaku terkembang sesaat. Tarikan nafas berat terdengar kembali untuk entah yang keberapa.

“Belum balik kamu, Ga?” suara berat itu terdengar tanpa semangat.

Arga  langsung saja duduk di seberang sang Pimpinan Utama perusahaan yang juga merupakan sahabatnya sejak kuliah. Kaki kirinya ditumpangkan di kaki kanannya. Kedua tangannya terjalin bertumpu pada lengan kursi Ditatapnya bos sekaligus sahabatnya itu dengan pandangan mata penuh ketidaksabaran.

“Belum,” singkat jawaban Arga. “Mau berapa lama kamu begini, Gus? Hampir sebulan kamu gak karuan, begini,” dengus Arga sambil berdiri menuju satu pojok di ruangan itu untuk menyeduh kopi. Kemudian kembali ke tempat duduknya dengan membawa dua cangkir kopi item, satu untuknya satu untuk Bagus, sahabat plus atasannya.

“Minum, biar padang pikirmu!” perintah Arga. Dia sendiri menyeruput dengan nikmat kopi hitamnya.

Bagus mengikuti Arga menyeruput pelan kopi hitam jatahnya. Kopi bikinan Arga selalu terasa nikmat di lidah. Kopi yang tidak pernah absen sejak jaman mereka ngumpul kala harus lembur mengerjakan tugas dan pesanan gambar.

Usai seruputan ketiga, Bagus letakkan kembali cangkirnya. Sedangkan Arga masih memegang cangkir kopinya sambil menatap Bagus dengan tidak berkedip.

Bagus merasa tatapan mata itu memvonisnya atas sesuatu. Dibalasnya tatapan mata Arga.

 “Beri aku saran untuk menyudahinya,” pinta Bagus.

“Kamu ahli mengurai dan menyelesaikan masalah di perusahaan kita ini, Gus. Gak ada yang bisa mengalahkan analisamu dan caramu. Selalu tuntas dan diterima semua pihak. Lha ini … masalah yang tidak lebih rumit semestinya, berhari-hari kamu seperti orang linglung. Pekerjaan kantor hampir-hampir tidak kamu pegang. Sekedar memantau dan mengevaluasi pekanan saja kamu tidak mampu lagi lakoni seperti biasanya. Semua kamu limpahkan ke aku. Eh … setelahnya tidak kamu tanya aku tentang apa dan bagaimana. Kalau aku mau, sudah kukudeta kamu!” gerutu kesal Arga.

“Itu bukan saran tapi omelan!” sanggah Bagus. “Kamu tidak mengurangi bebanku tapi menambahnya!”

“Nah! Itu kalimat … mirip dengan yang kamu ucapkan setahun yang lalu. Di sore yang sama dengan baju leseh yang mirip, dan di sini pula. Sehari semalam kamu tidak pulang, pilih nginap di rumah keduamu ini, hanya ingin “saran” dariku,” seru sengit Arga mengungkit peristiwa lalu, sambil dia letakkan cangkir kopi hitam yang sudah tinggal ampasnya.

 Kening Bagus berkerenyit. Heran atas tajamnya ingatan sahabatnya itu. Saat itu, di saat dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana bertindak atas jawaban lamarannya.

Malam itu sepulang dari rumah Tyas, untuk melamar Tyas. Dia diterima oleh bapak Tyas, dan dia harus pulang dengan membawa beban yang lebih dari yang dia bayangkan. Beban atas kejutan yang diberikan bapak Tyas, beban atas tanggungjawab dia kepada Tyas untuk menjelaskannya, beban atas rasa kemanusiaan dan kasihan yang memenuhi jiwanya. Hingga bertumpuk beban itu membuatnya tak tahu harus kemana dan bagaimana.

“Saranku masih sama. Tak perlu analisa njelimetmu. Ikuti saja pesan terkuat di hatimu yang seluas samudera itu, tentu saja setelah kamu begadang dengan-NYA seperti setiap kali kamu lakukan dulu,” jawab tegas Arga.

“Ga, aku tidak tahan berlama di sisi anakku pun aku rasanya tidak tega meninggalkannya. Walaupun di rumah ada ibu dan asisten rumah tangga. Bayangan senyum kecilnya ketika tertidur dan tatap matanya tidak bisa aku singkirkan. Tatapan mata seakan memintaku untuk selalu di dekatnya, tatapan mata yang menggores batinku, tatapan mata yang sangat mirip dengan ibunya.”

Suara Bagus tercekat. Matanya tampak berkabut. Arga tertegun. Sahabatnya benar-benar rapuh kali ini.

“Aku tidak pernah tulus mencintai ibunya, hingga di saat kulihat perut Nia yang perlahan membesar atas kehamilannya. Aku merasakan jatuh cinta yang berbeda. Apalagi jika Nia mengambil tanganku dan menyentuhkannya di perutnya. Tuhan … aku akan mengelusnya tanpa sadar dan Nia akan membisikkan kalimat-kalimat lembutnya, bahwa dia menyayangi ayah anak yang ada dikandungannya dengan tulus. Nia bisikkan permintaan maaf yang selalu diulangnya karena telah merebut aku dari Tyas … dan Nia akan berbisik sambil mencium pipiku … menitipkan anaknya serta memintaku menyayanginya.”

Arga bergeming, dia tatap sahabatnya dan menyiapkan seluruh waktunya menjadi pendengar yang baik, Hal yang biasa pula dia lakukan jika Bagus butuh untuk didengarkan.

Bagus menyandarkan tubuhnya dan tatapan matanya jauh menerawang.

“Aku memutuskan menerima permintaan bapak Tyas dengan sadar. Walaupun mudah bagiku untuk menolaknya dan meninggalkan Tyas … juga Nia. Aku bukan laki-laki seperti itu. Apalagi aku sedikit banyak paham dengan keluarga Tyas. Aku menikahi Nia dengan kesadaran penuh bahwa pernikahan bukan permainan, bukan sandiwara. Pernikahan adalah sebuah tanggungjawab dunia akhirat buatku. Saranmu waktu itu cukup menambah bekalku untuk megucapkan akad dengan mantap. Kata hatiku adalah mengambil jalan itu. Hanya karena Allah aku pasrahkan semua keputusanku. Dan, itu tidak ringan bagiku … buat Nia dan Tyas. Aku berusaha menjadi suami yang benar. Suami yang menjadi tumpuan sakitnya. Suami yang melindunginya. Suami yang memenuhi kebutuhannya. Aku berikan apa yang wajib aku berikan dan itu hak Nia sebagai istriku. Lahir dan batin. Karena itu janji akadku”

Bagus mengambil cangkir kopinya yang masih terisi setengah dan masih cukup hangat. Diseruputnya dan dituntaskannya.

“Hingga Nia dapat mengambil tempat di dalam hatiku. Walau tidak sepenuhnya. Tyas tidak pernah benar-benar hilang dari hatiku. Aku menyayangi Nia, Ga. Rasa sayangku tumbuh bersama tumbuhnya janin di rahimnya. Hingga Nia harus pergi. Sakit rasanya. Ada sesal dan ada rasa bersalah yang selalu menggangguku. Apalagi jika anakku menatapku dengan mata ibunya.”

Arga melihat celah untuk bicara.

“Nah! Jika kamu merasa menyesal dan bersalah karena tidak bisa mencintai seratus persen Nia, gampang to. Cintai seribu persen anak kalian itu. Berikan perhatianmu dan segalanya. Bukan terus kamu seperti orang patah hati, begini. Pikiran kamu itu di rumah enggak, di kantor enggak!” ucap Arga kesal tapi penuh perhatian.

Bagus dengan mata elangnya yang sekarang meredup, memandang sahabatnya. “Aku harus bagaimana menunjukkannya?”

“Jadi Bapak sekaligus Ibu buat anakmu. Sebelum ada pengganti ibu buatnya,” jawab singkat Arga.

“Bagaimana caranya menjadi ibu, Ga? Jadi bapak saja aku belum pernah!” sentak Bagus.

“Sorry, Gus … aku ya tidak paham bagaimana jadi ibu buat anak-anak, lha ibunya anak-anakku ada selalu buat mereka … sorry… sorry …,” ucap ringan Arga. “Baiknya segera saja kamu pikirkan untuk mencari pengganti posisi Nia … Ups! … Maap … tapi serius saranku ini, Gus,” ralat Arga sambil menahan senyum melihat mata Bagus yang langsung mendelik.

Wajah laki-laki yang membuat banyak perempuan terkesima itu masih memelototkan matanya. Seorang laki-laki pekerja keras, penuh kharisma , hatinya yang lembut dan mudah tersentuh, namun tegas untuk urusan-urusan tertentu.

“Udahlah, Gus. Kamu ambil saja cuti saja. Konsentrasi belajar mengasuh anakmu sebentar, mengenalnya dan menyayanginya seribu persen. Sambil kamu tata pikiranmu,” saran Arga. Tenang aja, nanti kendali untuk sementara aku pegang dan tak ada kudeta, Bro.” Agus menahan tawa melihat Bagus ragu tapi serius mendengarkan usulannya.

“Sebentar, Tyas masih di sini?” tanya Arga.

“Nggak, Udah balik saat sepekan usia anakku,” jawab Bagus dengan suara yang berubah lemas kembali.

“Nah! Tepat …  saat yang tepat kamu untuk ambil cuti. Toh kamu selama ada Tyas seperti kucing-kucingan, bukan?” seru Arga. “Tyas bisa dengan ringan tinggalkan sejenak pekerjaannya, hanya untuk keponakannya. Lha kamu? Kamu bapak dari anak itu. Harusnya lebih lagi dalam memberikan perhatian pada anakmu.”

Bagus tampak kembali bersandar dan menopangkan tangannya di lengan kursi. Kedua tangannya menyangga dagu. Matanya memandang sahabatnya dengan tajam.

“Sudah, ambil keputusanmu! Aku mo pulang. Udah malam,” pamit Arga. Kamu juga musti pulang sekarang! Temeni anakmu tidur. Besok pagi temeni dia menyambut hari baru bersama bapaknya.”

Arga beranjak menuju pintu. Meninggalkan Bagus yang tidak juga bangun dari lamunannya.

“Tunggu aku!” seru Bagus tiba-tiba.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *