Sepatu Usang

Oleh: Triznie Kurniawan

Sepatu tua penuh debu itu kembali berjalan menapaki panasnya jalanan siang ini. Tak peduli berapa kali lagi langkah, yang harus dia emban hari ini. Dia tetap melaksanakan tugasnya dengan baik. Sebagai sepasang sepatu yang selalu disimpan di lemari, rasa bangga yang luar biasa kini sedang bergemuruh di dadanya, karena baru kali ini setelah hampir 365 hari dia tergeletak di peti.

Inilah dia, si sepatu usang yang mencoba kembali peruntungannya di jalanan. Dia telah jengah dengan suasana hening dalam ruang yang di sebut lemari itu. walau di sana dia tak sendiri, namun bising suara kendaraan di jalanan, masih sangat dia rindukan. Dia kini kembali hadir di jalan terjal penuh genangan air dan lumpur itu, ditambah terik sang surya yang tak seperti biasa. Kedua buah sepatu pun melenggang melintasi hari.

Di balik segala usaha dan perjuangan yang ia lalui selama ini. Tampak beberapa gurat halus di keningnya, pertanda bahwa ia tak lagi muda. Napas yang panjang selama ini ia punya, sudah mulai terputus-putus. Seperti malam itu, ia terengah ketika melalui sebuah tanjakan yang lama ia rindukan. Ia lupa bahwa pohon-pohon yang mulai meranggas itu butuh waktu untuk bermeditasi. Seperti ia yang selama ini terlena akan kenyamanan diri, berada dalam lemari.

Ibarat kisah sepatu usang itu, manusia pun kadang sering lupa. Lupa akan tugas utamanya, lupa akan kewajibannya, lupa akan tujuan akhir yang sesungguhnya. Hanya penyesalan demi penyesalan yang bisa ia lakukan, meratapi diri yang kini di ujung senja. Semoga yang Mahakuasa melimpahkan keberkahan dan ampunan. Agar kelak ia masuk dalam golongan manusia yang mendapatkan manisnya Iman.

Penggir Sereng, 1 Mei 2021

0Shares

By Admin

One thought on “Sepatu Usang”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *