banner 728x250

Salat Malam dengan Iman dan Ihtisab

banner 120x600
banner 468x60

Sebagai makhluk dengan lumuran dosa adalah kesempatan bagi kita untuk memanfaatkan salat malam di bulan ramadan ini sebagai cara kita meraih ampunannya

Oleh: Agus S. Saefullah
18 Ramadan 1443 H

banner 325x300

Dalam sebuah artikel berjudul “Tarawih Prayer Benefits Health” yang dilansir dari laman New Straits Times bahwa kondisi tubuh seserorang mengalami kadar glukosa darah dan insulin rendah beberapa waktu sebelum berbuka.

Kemudian menurut artikel pada kantor berita berbahasa inggris asal Kuala Lumpur Malaysia tersebut, kadar glukosa dan insulin akan secara dratis mengalami kenaikan sakitar satu jam setelah berbuka puasa. Maka dengan menjalankan salat Isya dan Tarawih secara rutin proses sirkulasi naik turun tersebut akan terbantu distabilkan, karena tubuh melakukan gerakan yang ringan namun berulang. Akhirnya glukosa akan dimetabolisme menjadi karbondioksida dan air yang dibutuhkan tubuh.

Itulah mengapa salat tarawih secara rutin akan memberikan dampak positif bagi kesehatan orang-orang yang berpuasa. Maka benarlah ungkapan sebuah hadits lemah yang kemungkinan ini adalah sebuah pepatah ulama namun dianggap hadits, “Berpuasalah maka engkau akan sehat.”

Lebih luas dari itu semua yang mengantar seorang mukmin melakukan salat tarawih di malam-malam Ramadan adalah iman dan ihtisabnya. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau

Ulama sepakat atas kesunnahan tarawih” Kata Syekh Khatib al-Syarbini “dan sesungguhnya tarawih adalah shalat yang dikehendaki dalam hadits Nabi, Barang siapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau. Hadits diriwayatkan al-Bukhari. Adapun sabda Nabi “imanan”, maksudnya adalah membenarkan bahwa yang demikian itu haq seraya meyakini keutamaannya. Sabda Nabi “wahtisaban”, maksudnya ikhlas” Terangnya dalam “Mughni al-Muhtaj”.

Iman adalah pondasi utama kemaqbulan amal. Sekecil apapun amal baik seseorang jika dilandasi keimanan maka akan diterima dan berbuah surga.

Seseorang mungkin bertanya, “dimanakah keadilan Tuhan? Sementara banyak orang kafir masuk neraka padahal ia berbuat baik selama di dunia, sering berdonasi, menolong anak-anak terlantar dan yatim piatu.”

Keimanan yang diawali dengan syahadat adalah registrasi kita di hadapan Allah dalam arena amal baik. Pendaftaran yang mencatatkan kita agar setiap amal dianggap sebagai kebaikan yang akan berbuah pahala dan surga.

Bayangkan apa yang terjadi di Sirkuit Mandalika ada orang secara tiba-tiba masuk ke arena sirkuit dan masuk ke lintrasan balap. Meskipun orang ini sepeda motornya berkecepatan tinggi, skilnya memukau dan berhasil mengalahkan Miguel Oliveira dia tidak dianggap sebagai pemenang. Karena apa? Karena orang ini tidak registrasi terlebih dahulu kepada event crew sebagai peserta.

Maka iman adalah awal dari segalanyna. Kita semua sudah beriman kepada Allah di zaman ajali dahulu sebelum ruh kita ditiupkan ke dalam perut ibu-ibu kita.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا “

Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi tulang belakang anak cucu Adam keturunan mereka dan mengambil kesaksian terhadap ruh mereka seraya berfirman, ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Benar – Engkaulah Tuhan kami. Kami bersaksi….” (Q.S. Al-A’raf: 172)

Jika di dunia di non-islamkan oleh kedua orang tua atau siapapun. Jika ingin kembali beriman kepada Allah maka harus bersyahadat kembali dengan segala kesungguhan akan menjadi seorang muslim secara kaffah.

Orang yang beriman dijamin akan masuk surga, namun tidak dijamin tidak masuk neraka terlebih dahulu.

Suatu hari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أُخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَن كانَ في قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إيمَانٍ

Keluarlah dari neraka siapa saja yang dalam hatinya masih ada iman seberat biji sawi.” Riwayat Bukhari

Dalam konteks hadits ini bererti mengimani bahwa salat tarawih ini adalah perintah Allah yang disampaikan melalui sabda Rasul. Mengimani bahwa ampunan Allah itu sudah disediakan bagi mereka yang menunaikan.

Adapun ihtisab berarti hanya mengharapkan pahala dari Allah. Jika masih ada motif lain seperti merasa malu kepada tetangga kalau tidak tarawih, atau ingin terlihat seperti orang yang saleh makan itu sudah merusak ihtisab dalam tarawih.  

Imam Nawawi mengungkapkan bahwa,

وَمَعْنَى اِحْتِسَاباً، أَنَّهُ يُرِيْدُ اللهَ تَعَالَى لاَ يَقْصُدُ رُؤْيَةَ النَّاسِ وَلاَ غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يُخَالِفُ الإِخْلاَصَ

Sedangkan makna Ihtisab adalah dia menginginkan (pahala dari) Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan berharap dilihat manusia, dan bukan yang lain yaitu setiap yang menyalahi keikhlasan.”

Senada dengan Imam Nawawi, Imam Al-Manawi dalam “Fathul Qadir” menyebutkan bahwa,

 وَاحْتِسَاباً لأَمْرِ اللهِ بِهِ، طَالِباً الأَجْرَ أَوْ إِرَادَةَ وَجْهِ اللهِ، لاَ لِنَحْوِ رِيَاءَ، فَقَدْ يَفْعَلُ المُكَلَّفُ الشَّيْءَ مُعْتَقِدًا أَنَّهُ صَادِقٌ لَكِنَّهُ لَا يَفْعَلُهُ مُخْلِصاً بَلْ لِنَحْوِ خَوْفٍ أَوْ رِيَاءَ

“Ihtisab semata karena menunaikan perintah Allah, dengan mengharap pahala, atau berharap kepada Allah, bukan untuk tujuan riya ’(ditunjukkan kepada selain Allah). Sebab, kadang seorang mukallaf melakukan sesuatu, dia yakin bahwa itu benar, tetapi dia tidak melakukannya dengan ikhlas, namun karena takut atau riya’.”

Maka bagi mereka ampunan atas dosa-dosa yang terdahulu. Baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Sebagai makhluk dengan lumuran dosa adalah kesempatan bagi kita untuk memanfaatkan salat malam di bulan ramadan ini sebagai cara kita meraih ampunannya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *