Berasal dari klan Bani Taim (salah satu bagian dari kabilah Quraisy) otomatis menjadikannya termasuk dalam jajaran elite Mekkah, meski demikian, kedudukan yang tinggi, posisi yang terhormat, kekayaan yang melimpah, dan popularitas, tidak menghalangi dirinya menyambut seruan Rasulullah Saw.

Nama lengkapnya Abdullah bin ‘Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab  bin Lu’ay bin Ghalib bin Quraisy. Bertemu nasabnya dengan Nabi Saw. pada kakeknya bernama Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay. Ayahnya bernama Uthman Abu Quhafa dan ibunya bernama Salma binti Sakhar. Ia lebih dikenal sebagai Abu Bakar (Bapaknya Unta; karena sewaktu kecil ia sering bermain dengan unta dan kambing). Beliau mendapat gelar “Ash-Shiddiq”: orang yang membenarkan, sebab Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra Mi’raj disaat banyak orang yang meragukan.

Rasulullah Saw. dan Abu Bakar ra. adalah kawan sejati, sahabat karib sejak lama, tumbuh dan berkembang di kota Mekkah. Keduanya berasal dari suku yang sama, Quraisy. Saat usia 12 tahun Rasulullah Saw. Diajak pamannya Abu Thalib untuk berniaga ke negeri Syam, sama halnya dengan Abu Bakar, saat itu usianya 10 tahun ikut serta dalam rombongan, diajak oleh ayahnya. Quraisy selain dikenal sebagai tuan rumah yang baik, karena selalu menyediakan makanan dan minuman bagi para jemaah haji, mereka juga dikenal sebagai kaum pedagang perantara (reseller), oleh karenanya sejak dini Abu Bakar dan Nabi Saw. diperkenalkan, diajak berdagang. Ketika musim panas Kafilah Quraisy ke utara, berdagang ke wilayah Syam, merupakan titik pusat perdagangan yang terhubung ke laut tengah dan eropa/romawi), sedangkan di musim dingin mereka berdagang ke Yaman, titik pusat perdagangan yang terhubung ke India dan Tiongkok.

Sebagaimana anak-anak dari pedagang Mekkah yang kaya, pendidikan menjadi perhatikan keluarga, Abu Bakar adalah orang terpelajar, ia bisa membaca, menulis dan menyukai puisi. Ia biasanya menghadiri pameran tahunan di Ukaz dan turut berpartisipasi dalam simposium puitis. Ia memiliki ingatan yang bagus dan pemahaman yang baik. Ibnu Ishaq rahimahullah  berkata, “Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang disukai dan dicintai oleh kaumnya. Dia adalah orang Quraisy yang paling tahu tentang nasab Quraisy, orang Quraisy yang paling mengenal Quraisy, dan paling mengenal kebaikan dan keburukan  yang ada pada Quraisy. Dia adalah laki-laki pemilik akhlak yang baik. Para petinggi Quraisy mendatanginya dan menyukainya karena ilmu dan perniagaannya serta kepandaiannya dalam bergaul. Orang-orang dari kaumnya yang dipercaya, yang bergaul dan berkawan dengannya, diajaknya kepada Allah dan kepada Islam.”

Abu Bakar adalah seorang entrepreneur hebat, hartanya berlimpah, hasil dari profesi sebagai pedagang kain, sebuah bisnis keluarga yang sudah lama dijalankan, sehingga pengalaman dalam berdagang tidak diragukan lagi. Dalam status sosial, meskipun ayahnya (Abu Quhafah) masih hidup, keberadaan Abu Bakar di tengah kaummnya sangat dihormati, ia diakui sebagai kepala sukunya.

Masuk Islam

Seluruh penduduk kota Mekkah sangat mengenal Muhammad dengan baik, bahkan sampai menggelari Muhammad dengan al-Amin (Orang yang dapat dipercaya berkat kejujurannya). Oleh karena itu ketika Nabi Muhammad Saw. bercerita kepada Abu Bakar, bahwa ia didatangi Malaikat, wahyu turun kepadanya, dan mengatakan bahwa dirinya adalah seorang utusan Tuhan (Rasulullah), yang mempunyai tugas menyampaikan kembali apa-apa yang diwahyukan kepadanya, mengajak orang-orang ke jalan yang benar. Abu Bakar ra. tanpa ragu langsung mengiyakan, dengan mantap diikrarkan dua kalimat syahadat dihadapan Nabi Saw. Baginya sangatlah mudah untuk menerima ajakan kawannya itu, karena Abu Bakar sudah mengenal dengan baik sejak lama seperti apa dan bagaimana kepribadian Nabi Saw. ia tahu persis kawannya tidak akan berdusta dan tidak mungkin merugikannya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki pesona dan personal yang baik, berbudi pekerti luhur. Seumur hidupnya Abu Bakar tidak pernah sekali pun meminum khamr (arak) tidak pada masa jahiliyah apalagi masa Islam. Beliau tidak pernah sujud menyembah berhala sebagaimana kebiasaan masyarakat pada umumnya. Abu Bakar pernah berkata di hadapan beberapa orang sahabat Nabi Saw. “Aku tidak pernah sujud kepada berhala sekali pun. Ketika itu usiaku mendekati baligh. Ayahku, Abu Quhafah, membawaku ke sebuah ruangan miliknya, di sana ada berhala-berhala miliknya. Dia berkata kepadaku, ‘Ini adalah tuhan-tuhanmu yang tinggi lagi mulia.’ Lalu dia pergi meninggalkanku. Aku mendekati kepada sebuah berhala, lalu aku berkata, ‘Aku lapar, berilah aku makan. ‘Berhala itu tidak menjawab. Aku berkata, ‘Aku tidak berpakaian, berilah aku pakaian.’ Berhala itu tidak menjawab. Maka aku mengambil sebuah batu dan menghantamkan batu itu kepadanya dan ia pun tersungkur.”

Jasa & Karyanya

Abu Bakar bukan tipikal orang yang pendiam, pasif, dan manggut saja. Ia selalu tampil mengesankan dalam hal apapun, selalu berkontribusi aktif, baik dalam urusan perdagangan maupun urusan agama.

Dalam urusan agama, begitu Abu Bakar masuk Islam, dia langsung berdakwah layaknya seorang pedagang menjajakan barang, ia begitu bersemangat, di awal keislamannya ia berhasil mengajak teman-teman dekatnya memeluk Islam, diantara sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga, enam diantaranya menjadi muslim berkat dakwahnya Abu Bakar radiallahuanhu. Nama keenam sahabat itu antara lain: Utsman bin AffanZubair bin Awwam, Abdurahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah,  Sa’ad bin Abi Waqas, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

Di awal keislamannya, Abu Bakar ra. menginfakkan hartanya sebanyak 40,000 dirham di jalan Allah, uang sebanyak itu digunakan untuk menebus orang-orang Islam dari kalangan budak, karena budak pada zaman itu harus tunduk pada tuannya, jika tidak maka siksaan bahkan kematian taruhannya. Diantara sahabat nabi Saw. yang dibebaskan dari perbudakan adalah Bilal bin Rabah yang kelak menjadi Muadzin (pengumandang adzan) Nabi Saw.

Ketika nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah, ia sempat bersembunyi di dalam gua Tsur selama tiga hari untuk menghindar dari kejaran musuh yang hendak membunuh. Abu Bakar lah yang menemani Nabi Saw. Selama itu keluarga Abu Bakar yang menyuplai makanan ke tempat persembunyian. Di tempat persembunyian Abu Bakar terlebih dahulu masuk ke dalam, untuk memastikan keamanan dan kenyamanan, ia rela pertaruhkan dirinya demi keselamatan dan kenyamanan Nabi Saw. Di dalam gua kaki Abu Bakar yang dipakai untuk menutupi lubang-lubang disengat binatang berbisa, ketika Rasulullah Saw mengetahui akan hal itu, Rasulullah Saw. meludahinya dan ia pun sembuh.

Karakter Abu Bakar, adalah karakter pejuang, gigih, berani, berwibawa, tidak menyerah. Abu Bakar tidak pernah absen dalam berbagai peperangan yang terjadi, ia selalu mengikuti peperangan yang diikuti Rasulullah Saw. baik perang Badar, Uhud, Khandaq, Penaklukan kota Mekkah, Hunain maupun peperangan di Tabuk.

Pada saat dirinya diangkat menjadi Khalifah, pengganti Nabi Saw. Dialah yang melakukan penumpasan atas nabi palsu Musailamah Alkadzab. walaupun dalam perang yamamah itu ratusan sahabat yang mempunyai hafalan al-Quran gugur. Atas peristiwa itu kemudian Umar bin Khattab ra. mengusulkan kepada Abu Bakar agar alquran dikumpulkan menjadi satu, dengan juru tulis sahabat Zain bin Tsabit radiallahuanhu. Sang Khalifah menyetujuinya.

Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Sungguh kebaikan, kehormatan, keutamaan, jasa dan karya Abu Bakar ash-Shiddiq radiiallahuanhu amatlah banyak, amatlah hebat, ia nyaris tidak tertandingi dengan sahabat lainnya, pantaslah ia ditunjuk sebagai orang yang pertama menjadi pengganti Nabi Saw (Khalifah) setelah rasul tiada, pantaslah beliau menjadi orang yang dimaksud dalam Alquran, dipuji dan dibanggakan Rasulullah Saw.

Nabi Saw. bersabda “Tidak seorang pun yang mempunyai jasa baik kepada kami kecuali kami telah membalasnya kecuali Abu Bakar, sesungguhnya dia mempunyai jasa mulia, Allah yang akan membalasnya di hari Kiamat. Aku tidak mengambil manfaat dari harta seseorang seperti aku mengambil manfaat dari harta Abu Bakar. Seandainya Aku boleh mengangkat seorang khalil niscaya aku menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Dan sesungguhnya sahabat kalian ini adalah khaLiilullaah (kekasih Allah).” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3662-al-Manaaqib) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no.2894).

Dari Abu Hurairah ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw, bersabda:

“Barangsiapa menginfakkan sepasang harta dari segala sesuatu di jalan Allah, dia dipanggil dari pintu-pintu Surga, ‘Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan.’ Barangsiapa termasuk orang-orang yang mendirikan shalat, dia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa termasuk orang-orang yang berjihad, dia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa termasuk orang-orang yang bersedekah, dia dipanggil dari pintu sedekah. Barangsiapa termasuk orang-orang yang berpuasa, dia dipanggil dari pintu puasa, yaitu pintu ar-Rayyan.’ Maka Abu Bakar berkata, ‘seseorang dipanggil dari satu pintu dari pintu-pintu tersebut tidaklah masalah (sebab satu pintu saja sudah merupakan kenikmatan), akan tetapi adakah seseorang yang dipanggil dari semua pintu-pintu rersebut, wahai Rasulullah?’ Nabi Saw, menjawab, ‘Ya, dan aku berharap engkaulah seorang di antara mereka, wahai Abu Bakar.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3666) dan Muslim (no.1027).

Cianjur, 3 Ramadhan 1442 H

Oleh: Husin Ludiono, S.Pd.I

Referensi:

Sahabat-sahabat Rasu, Syaikh Mahmud Al-Mishri.

Syarah Sahih Muslim, Imam An-Nawawi.

Al Bidayah Wan Nihayah, Masa Khulafa’ur Rasyidin, Ibnu Katsir.

Wikipedia, Abu Bakar Ash-Siddiq.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *