Oleh: Moh. Anis Romzi

Sepuluh bulan sudah dunia bergelut dengan pandemi covid-19. Awal tahun 2021 masih berkutat dengannya. Saat ini sudah bulan Januari 2021. Pandemi Covid-19 belum ada tanda penurunan. Bahkan telah ditemukan varian baru virus covid yang lebih cepat menular. Kabar terakhir varian baru virus ini ditemukan di negara Ratu Elizabeth II. Pemerintah Indonesia pun menutup pintu masuknya selama 14 hari. Terhitung mulai 1 Januari 2021 tidak ada warga negara asing yang diperbolehkan masuk ke Indonesia.

SKB empat menteri tentang pembelajaran tatap muka semester 2 tahun pelajaran 2020-2021. Rencananya pembelajaran tatap muka akan dibuka pada bulan Januari 2021. Fakta di lapangan masih belum ada tanda-tanda penurunan. Bahkan cenderung meningkat jumlah temuan kasus positif covid-19. Dalam SKB itu izin pembelajaran tatap muka diserahkan kepada Pemerintah Daerah.

Pemberian wewenang kepada pemerintah daerah ditanggapi beragam. Di kalangan masyarakat akar rumput banyak mengundang tanya. Beberapa komplain dari orang tua/ wali datang kepada satuan pendidikan.” Daerah kita ini aman-aman saja kan? Kenapa masih saja menerapkan Belajar Dari Rumah?” Protes salah seorang wali peserta didik.

“Bapak, wewenang memberikan izin ada di tangan Pemerintah Daerah. Selanjutnya Dinas Pendidikan Kabupaten mengeluarkan izin berdasarkan status zona penularan yang dikeluarkan satgas penanganan covid-19. Desa kita per 2 Januari 2021 masih ditetapkan sebagai zona merah. Untuk sementara masih harus melaksanakan Belajar Dari Rumah.” Saya mencoba berdiplomasi.

4 Januari 2021 semester 2 dimulai. Hasil diskusi para pendidik, arahan pengawas sekolah, pejabat Dinas pendidikan, diputuskan SMPN 4 Katingan Kuala menerapkan Belajar Dari Rumah mulai 1 Januari 2021 sampai dengan berubahnya zona penyebaran covid-19 berubah menjadi kuning atau hijau.

Setelah mendapatkan izin tatap muka pada tanggal 02 November 2020. Izin tersebut tetap dimonitor setiap minggunya. Semua satuan pendidikan diperintahkan untuk menyiapkan prasarana pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan ketat. Mulai dari kampanye wajib masker di wilayah satuan pendidikan, ketersediaan pemeriksa suhu badan tembak, tempat cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, pembatasan ruang belajar sebanyak 50% dari daya tampung, semua dimaksudkan untuk memutus rantai penularan covid-19.

Belajar Dari Rumah kembali diterapkan. Tanggapan para peserta didik beragam pula. “ Aduh, belajar dari rumah lagi. Ini melelahkan.” Keluh seorang peserta didik.

Tidak semua mengeluh. Tetap ada peserta didik yang bersemangat belajar daring. Mereka beralasan dengan belajar daring masih dapat membantu pekerjaan orangtua di rumah. Mayoritas orangtua peserta didik di SMPN 4 Katingan Kuala adalah petani. Mereka dapat membantu pekerjaan orang tua di sawah. Seperti membajak sawah, menanam, memupuk, dan mengendalikan hama. “ Saya masih bersemangat pak belajar dari rumah.” Terang satu peserta didik yang lain.

Aneka pertanyaan muncul kembali. Beberapa kalangan menanyakan data yang unggah Dinas Pendidikan Kabupaten Katingan. Satu desa Jaya Makmur dinyatakan zona merah, akan tetapi ada sekolah yang diberikan izin melaksanakan pembelajaran tatap muka. Padahal lokasinya berdekatan. Beberapa kalangan masyarakat masih meragukan data penyebaran covid-19.

Bagaimanapun kondisinya belajar tetap harus berjalan. Ada waktu yang akan mencatat perjalanan pendidikan dalam suasana pandemi. Sepuluh bulan pandemi covid-19 akan kita tuai hasil pendidikannya sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Hari ini menentukan masa depan bangsa.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 6 Januari 2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *