Oleh: Ade Zaenudin

Kebijakan pemerintah terkait investasi miras beberapa waktu lalu menuai kontroversi. Publik melawan dengan berbagai jalan. Sejumlah aksi dilancarkan. Salah satunya dengan senjata “Twibbon”.

Apakah twibbon efektif? Entahlah. Faktanya kebijakan itu dicabut Presiden setelah ramai jadi perbincangan.

Tahun 2012, twibbon juga menjadi salah satu media yang digunakan JASMEV (Jokowi Ahok Social Media Volunteers) dalam mengampanyekan Pak Jokowi dan Pak Ahok di Pilkada DKI Jakarta.

Saat ini twibbon masih menjadi salah satu aplikasi yang digemari para penikmat media sosial, sebagai media sosialisasi sebuah kegiatan, lembaga, atau pun komunitas.

Sejak 2009, aplikasi twibbonize sudah membantu sekitar 300.000 jenis promo (campaign), dipakai oleh 7 juta pengguna dan menghasilkan sekitar 17 juta produk twibbon.

Menjelang tahun pelajaran baru, sejumlah lembaga pendidikan, dari TK sampai pascasarjana pun memanfaatkan promosi dengan bungkus jargon “saya bangga.” Cerdas memang.

Saya jadi mikir, ini yang menuai untung siapa yah? Pengguna apa yang punya twibbon? Siapa sih yang punya?

Saya juga makin penasaran, apa benar sebuah kebijakan bisa berubah gara-gara twibbon, kalau iya, luar biasa.

Ala kulli hal, inilah kreativitas, butuh perpaduan antara pengetahuan, seni dan keterampilan. Saat kreativitas dibantu teknologi, maka yang tadinya susah bisa menjadi lebih mudah, dan murah. Mestinya.

Saya membayangkan kalau semua politisi menggunakan twibbon, harusnya cost politik semakin murah, sehingga dananya bisa dialihkan ke fakir miskin yang biasa menjadi korban janji-janji gombal para pecundang. Ya, pecundang, dia yang hanya datang saat kampanye, memasang wajah simpati saat selfi, namun setelah menang gak pernah bertandang. Nyarang.

Twibbon juga merupakan kampanye yang paling sehat, bukan berarti tanpa kebohongan, karena kebohongan sepertinya sudah jadi kebiasaan. Biasa dipertontonkan sama punggawa yang mestinya jadi teladan. Twibbon sehat karena tidak berpotensi mendatangkan kerumunan. Walau pun tidak semua kerumunan dipermasalahkan. Faktanya ada kerumunan yang berakhir pahit dipenjara ada juga yang berakhir manis dilantik jadi pejabat negara. Ah itu mah biasa. Kaya gak paham aja.

Tapi sepertinya kampanye lewat twibbon tidak terlalu cocok untuk beberapa kalangan, tidak semua orang punya hp, tidak semua yang punya hp pun bisa menerima gambar, kan rakyat kita makmurnya belum merata. Tapi bukan karena itu juga ding, rakyat kita kan tidak semua butuh gambar berisi visi misi, ada juga yang ingin dibawakan amplop berisi. Ssssstttt… Jangankan rakyat jelata, yang kaya aja ngasih contoh datang ke KLB karena dijanjikan seratus juta, walau faktanya hanya dapat lima juta. Tapi lumayan sih buat jajan di warung Mamah Muda, hehe.

***

Saya teringat materi perkuliahan pekan lalu. Dr. Waska Warta menjelaskan bahwa manajemen itu harus efektif dan efisien. Efektif artinya melakukan yang benar (do the right think), sementara efisien artinya melakukan dengan benar (do the think right). Beti, Beda tipis.

Sebuah kebijakan mestinya di-manage dengan baik, harus efektif dan efisien, artinya kebijakan itu harus merupakan sesuatu yang benar dan dilakukan dengan cara yang benar pula.

Pekan ini muncul lagi kontroversi, kali ini terkait frase agama, berbagai ormas mulai mengecam, Mas Nadiem pun akhirnya menyampaikan akan merevisi redaksi. Mungkin takut keburu diserang pasukan Twibbon, hehe.

Pemerintah mestinya tidak main mata saat merancang kebijakan, kalau blunder terus kan capek. Capek ngeles. Keluarkan kebijakan yang benar sesuai harapan! Kalau pun tidak bisa memuaskan semua pihak setidaknya dilakukan dengan cara yang benar, bukan dengan cara kucing-kucingan, khawatir jadi kucing beneran.

Tapi saya yakin, pemerintah punya niat yang baik untuk menyejahterakan rakyatnya. Masalahnya, makan saja gak sah kalau hanya sebatas niat, mau kenyang bagaimana? Harus ada action. Jangan sampai keburu diserang twibbon loh!

Eh iya, lupa, dari tadi sebenarnya saya pengen nanya, kira-kira kalau dibuatkan twibbon, yang menang pendukung KLB atau AHY yah? Hehe. Viis ah…

0Shares

By Admin

2 thoughts on “Republik Twibbon”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *