Oleh: Azwar Richard

Di era serba internet saat ini, apa yang telah kita posting di media sosial otomatis tersimpan di dunia maya. Suka tidak suka, semuanya sudah menjadi hak publik. Baik dan buruknya, kita harus siap menerimanya. Tulisan, poto, maupun video  beberapa tahun lalu yang kita kirim, suatu saat bisa kita lihat kembali di medsos tertentu tanpa kita sadari. Itulah yang namanya jejak digital. Istilah yang populer di kalangan penggita media sosial.

Belakangan, istilah ini viral di dunia politik. Biasa digunakan untuk menjatuhkan lawan politik atau menguji konsistensi sikap tokoh nasional. “Jejak digital itu kejam”, demikian tagline yang menghiasai jagat medsos. Untuk menjatuhkan lawan politik, tentunya merupakan dampak negatif yang ditimbulkannya. Namun, sebagai penguji konsistensi tokoh nasional dalam memberikan “steatment”, maka itu bisa dijadikan sebagai hal yang positif. Dengan kata lain, media sosial berfungsi sebagai alat kontrol sosial.

Jejak digital di dunia media sosial sama halnya dengan kitab amal perbuatan dalam agama Islam. Allah Swt memberi tugas malaikat untuk mengawasi dan mencatat perbuatan dan ucapan manusia. Mereka mencatatnya dalam catatan amal. Catatan amal tersebut nantinya akan dibacakan pada hari Kiamat kelak. Malaikat pencatat itu, benar-benar sangat amanah dan teliti dalam mencatat semua ucapan dan perbuatan manusia, secara detail dan rinci, baik yang zahir maupun batin.

Allah Swt berfirman dalam surat Qomar ayat 52-53,

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوْهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيْرٍ وَكَبِيْرٍ مُسْتَطَرٌ (53)

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.”

Allah Ta’ala juga berfirman dalam surat QS. Al-Kahfi ayat 49,

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لاَ يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَلاَ كَبِيْرَةً إِلاَّ أَحْصَاهَا وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًا وَلاَ يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.”

Catatan amal manusia selama di dunia ini, merupakan bentuk keadilan dari Allah Swt. Karena di hari Kiamat kelak, manusia akan diminta untuk membaca catatan amalnya dan menghisab dirinya.

اِقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًا

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (QS. Al-Isro’: 14)

Manusia pada saat itu, tidak dapat mengingkari segala perbuatan buruk dan dosa-dosanya, karena semua telah tertulis di kitab catatan seperti halnya rekam jejak digital.

Sekecil apa pun perbuatan kita di dunia tidak akan luput dari pantauan Allah Swt. Semua tercatat tersusun rapi oleh malaikat pencatat amal perbuatan manusia. Amal baik maupun buruk semuanya akan tertulis dan akan menjadi timbangan di akhirat kelak.

Jika rekam jejak digital tersimpan dengan baik, maka rekam jejak yang dimiliki Allah Swt. lebih canggih lagi. Rekam jejakNya tak akan mengalami kesalahan sedikitpun dan tak bisa dihapus. Itulah catatan amal perbuatan manusia selama di dunia.

Berbeda dengan rekam jejak digital yang masih bisa terjadi “eror” dan dapat “terdelete”, maka kitab amal perbuatan akan tersimpan dengan baik tanpa akan ada kesalahan sedikit pun.

Urgensi meyakini adanya catatan amal perbuatan bagi seorang muslim adalah sebagai alat kontrol dalam beramal di dunia. Seorang muslim akan lebih mengendalikan perilakunya untuk beramal baik dan menjauhi larangannya. Allahua’lam []

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *