Oleh: Ade Zaenudin

Ustad Salim A. Fillah mengeksplorasi nilai-nilai strategis kata, kalimat atau bahasa dari berbagai sudut referensi. Beliau mengatakan bahwa dalam Bibel (Perjanjian Baru) disampaikan “pada mulanya adalah firman (kata)”. Dalam Islam pun kita mengetahui bahwa pada mulanya Allah SWT menitahkan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi adalah dengan kata-kata. Bahkan Nabi Adam kemudian menjadi makhluk yang diunggulkan dibanding makhluk yang lain karena kemampuan memahami kosa kata.

Ustad Salim juga mengutip apa yang pernah disampaikan Konfusius bahwa keteraturan berbahasa mencerminkan keteraturan berfikir. Keteraturan berfikir akan melahirkan keteraturan bertindak, dan keteraturan bertindak warga akan menjadi sebuah peradaban. Oleh sebab itu, jika ingin memperbaiki sebuah negara maka perbaiki dulu bahasa yang dipergunakan warganya.

Pada masa jahiliyah, kita mengenal kondisi ummi atau keterbatasan melek bahasa. Penyair di Jazirah Arab saat itu justru mempunyai posisi strategis bahkan diposisikan lebih tinggi di atas orang yang bisa membaca dan menulis. Seorang penyair dikatakan handal jika dia mampu menguntai kata atas apa yang dia lihat atau rasakan secara otomatis dari lisannya tanpa memerlukan media tulisan, bahkan demi lahirnya syair yang memukau, penyair bisa melanggar kaidah-kaidah standar kebahasaan. Kata-kata atau syair yang memukau inilah yang membuat mereka mempunyai derajat lebih tinggi dibanding yang lain, dan kebebasan mengekspresikan bahasa secara bebas tanpa mengindahkan standar baku ini dikenal dengan istilah licentia poetica.

Di kemudian hari, kondisi licentia poetica bangsa Arab yang senantiasa tidak mengindahkan keteraturan dan melahirkan peradaban yang juga mengalami ketidakteraturan ditertibkan dengan standarisasi literasi dan keteraturan-keteraturan tata bahasa yang tertuang dalam Al-Quran sehingga kemudian berimplikasi pula pada keteraturan peradaban.

Kalau Al-Quran sudah mengajarkan bagaimana keteraturan berbahasa maka tugas kita saat ini adalah mempertahankan keteraturan itu. Semaksimal mungkin kita hindari tradisi berbahasa yang tidak baik, tidak sopan dan menabrak standar-standar aturan.

Untaian-untaian kalimat baik yang kita tebar di berbagai media akan menumbuhkan peradaban yang sehat untuk kita dan generasi selanjutnya yang tidak lain adalah anak cucu kita.

Menebar kalimat-kalimat negatif sama juga kita menyiapkan racun yang akan dikonsumsi oleh anak kita. Naudzubillah.Wallohu a’lam

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *