Oleh: Ade Zaenudin

Kamis 10 Desember 2020, Kalimat (Komunitas Penulis untuk Indonesia Bermartabat) menginisiasi acara silaturahmi penulis nasional melalui zoom meeting dengan program NGARTI (Ngaji Virtual Literasi) berkolaborasi  dengan berbagai komunitas penulis seperti API (Angkringan Penulis Indonesia), SMA (Sahabat Menulis Alineaku), KOPI SMA (Komunitas Penulis Indonesia Sahabat Merangkai Aksara), KM JCA (Komunitas Menulis Jejak Cinta Anda) serta beberapa komunitas lainnya dengan menghadirkan narasumber literasi nasional, para penulis Best Seller,  Ustad Cahyadi Takariawan (Pak Cah) dan Ustad Salim A. Fillah.

Acara yang akhirnya diikuti hampir 300 peserta tersebut bertema “Merangkai Kalimat untuk Indonesia Bermartabat”. Dalam kesempatan itu Pak Cah menyampaikan pentingnya mengelola emosi dalam melahirkan tulisan yang positif. Beliau mengutip 10 emosi positif yang disampaikan Barbara Fredrcikson yaitu gembira, syukur, damai, hasrat, harapan, kebanggaan, hiburan, inspirasi, takjub dan cinta.

Emosi positif tersebut menjadi modal lahirnya tulisan positif, dan bertebarannya tulisan positif akan membantu melahirkan peradaban yang baik, peradaban yang hebat dan bermartabat.

Penulis tentu memiliki emosi yang fluktuatif juga, ada saatnya dalam kondisi menyenangkan dan di lain waktu bisa sebaliknya. Apakah dalam kondisi kurang baik berarti harus berhenti menulis? Tidak. Pak Cah bercerita satu saat ada peserta konseling keluarga yang curhat berkeluh kesah karena kondisi keluarganya yang sedang bermasalah. Seluruh keluh kesahnya bisa dituliskan sebagai pelepas emosi atau yang dikenal dengan istilah katarsis. Hanya saja tulisan tersebut bukan berarti untuk dikonsumsi publik, endapkan dulu sampai emosi terkendali. Bisa jadi endapan tulisan itu menjadi bahan tulisan yang banyak digemari pembaca, tentu dengan kemasan yang tidak menyudutkan penulis atau siapapun yang terkait dengan cerita itu.

Seorang penulis dituntut untuk memenuhi ruang literasi dengan hal-hal positif. Begitu kata Pak Cah. Kalau kita cermati, saat ini ruang literasi begitu terbuka luas dan bebas, media sosial menjadi gaya hidup hampir seluruh manusia di muka bumi. Berbagai corak tulisan bertebaran dari mulai yang positif sampai negatif. Seorang penulis harus memegang teguh etika dan moral dalam rangka mengawal lahirnya generasi yang lebih bermartabat.

Bisa kita bayangkan, jika kita memproduksi tulisan dengan konten negatif, lalu menjadi memori dan terrefleksi dalam diri pembaca, lalu terinternalisasi, maka efeknya luar biasa, akan melahirkan aksi-aksi yang negatif tentunya. Dalam konteks ini, Si Penulis akan mempertanggungjawabkan perbuatan menulisnya, tanggung jawab di hadapan peradaban dan tentu yang paling berat adalah tanggung jawab di hadapan Tuhan.

Kelola emosi, hadirkan cinta, tebarkan kalimat positif di setiap sudut literasi, dalam rangka hadirnya peradaban hebat bermartabat.

Terima kasih Pak Cah. Barakallah.

Ade Zaenudin (Moderator)

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *