Oleh: Ade Zaenudin

Tulisan ini dimuat di Kolom Hikmah Republika >>> https://www.republika.id/posts/21363/refleksi-cinta-nabi

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW berkata “Di hari kiamat kudatangi pintu surga, lalu kuminta dibukakan. Malaikat penjaga surga bertanya “Siapakah engkau?” lalu kujawab: “Muhammad”. Dia berkata “karena engkaulah aku diperintahkan agar tidak membuka pintu surga bagi seorang pun sebelummu”.

Hadits tersebut menggambarkan keistimewaan Nabi Muhammad SAW dibanding makhluk yang lain di sisi Allah SWT. Maka berbahagialah manusia yang menjadi umatnya, terlebih umat yang pernah hidup di jamannya yaitu para sahabat yang mencintainya.

Dalam hadits lain, dikisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW pun adalah satu-satunya Nabi yang diberikan kesempatan untuk memberikan syafaatul udzma pada hari kiamat. Pada saat itu manusia dikumpulkan di sebuah tempat yang begitu panas, mereka menjadi sangat cemas, lelah dan tersiksa diliputi ketidakpastian, mereka ingin segera masuk pada fase selanjutnya yaitu hari perhitungan amal (yaumul hisaab), namun mereka bingung kepada siapa harus mengadu meminta bantuan (syafaat) agar segera terlepas dari kondisi yang tidak menyenangkan itu.

Mereka mendatangi Nabi Adam AS, namun Nabi Adam pun tidak bisa memberikan syafaat, Nabi Adam berkata “Nafsi, nafsi, nafsi” (masing-masing) sambil merekomendasikan untuk mendatangi Nabi Nuh AS. Saat menyampaikan permintaan yang sama, ternyata Nabi Nuh AS pun memberikan jawaban yang sama pula, “nafsi, nafsi, nafsi”. Nabi Nuh AS kemudian merekomendasikan untuk mendatangi Nabi Ibrahim AS, selanjutnya ke Nabi Musa, lalu kepada Nabi Isa AS. Permintaan yang sama mereka ajukan namun semua Nabi yang direkomendasikan memberikan jawab yang sama. Masing-masing sedang berjuang untuk keluar dari himpitan kesusahan yang dirasakan.

Akhirnya Nabi Isa AS merekomendasikan mereka untuk mendatangi Nabi Muhammad SAW. Lalu Nabi Muhammad SAW bersujud di bawah Arsy. Allah SWT berfirman, “Angkatlah kepalamu, mintalah maka akan Aku beri, mintalah syafaat maka akan Aku beri syafaat”. Lalu Nabi Muhammad SAW meminta syafaat untuk umatnya dengan mengatakan ummatii, ummatii, ummatii. (umatku, umatku, umatku)

Subhanalloh walhamdulillah, betapa besar cinta Rasul pada umatnya.

Kalau lah Rasul begitu cinta pada umatnya, lalu alasan apa yang menghalangi umatnya untuk mencintai Rasul? Bukan kah syafaat itu pun hanya diberikan kepada umat yang mencintainya?

Lihatlah manusia yang mencintai kekasihnya, (anak dan istri misalnya) namanya selalu diingat bahkan disebut-sebut setiap saat, kehadirannya begitu dirindukan, ketiadaanya mendatangkan kegelisahan, sampai-sampai hari kelahirannya selalu dirayakan.

Lalu seberapa besar cinta kita pada Nabi Muhammad SAW pemilik syafaatul udzma? Mari refleksi dan evaluasi sebelum kita menyesal nanti! Mari perbanyak shalawat dan ikuti sunah serta ajaran-ajarannya seraya meninggalkan apa-apa yang tidak disukainya sebagai salah satu bentuk rasa cinta kepadanya. Allohumma sholli wasallim alaih.

Wallohu a’lam

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *