banner 728x250

Ramadhan; Bulan Sabar

Jalaludin Rumi
banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Ade Zaenudin

Ibnu Qosim Al-Ghazi dalam kitab Fathul Qorib menyampaikan definisi puasa sebagai berikut:

banner 325x300

إِمْسَاكُ عَنْ مُفْطِرٍ بِنِيَّةٍ مَخْصُوْصَةٍ جَمِيْعَ نَهَارٍ قَابِلٍ لِلصَّوْمِ مِنْ مُسْلِمٍ عَاقِلٍ طَاهِرٍ مِنْ حَيْضٍ وَنِفَاسٍ

Menahan dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, disertai dengan niat yang telah ditentukan dari semua siang hari yang menerima terhadap puasa dari seorang muslim, yang mempunyai akal, yang suci dari haid dan nifas.

Definisi tersebut menegaskan bahwa esensi dari puasa adalah melatih kesabaran untuk tidak melakukan berbagai hal yang membatalkan, bahkan dari sesuatu yang tadinya halal seperti makan atau berhubungan suami istri, apalagi dari sesuatu yang tadinya sudah diharamkan.

Esensi dan fungsi puasa sebagai pelatih kesabaran ini bahkan ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan Imam Ahmad

صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ يُذْهِبْنَ وَحَرَ الصَّدْرِ

Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan menghilangkan wahar (emosi) dada (H.R. Ahmad)

Sabar itu ada tiga dimensi, pertama sabar dalam melaksanakan perintah Allah, kedua sabar dalam menjauhi larangan Allah, dan ketiga sabar menerima ketetapan Allah yang menyakitkan. Ibnu Rajab dalam kitab Lata’if al-Maarif menyampaikan bahwa saat puasa, ketiga dimensi kesabaran itu berkumpul, sabar menjalani kewajiban, sabar menahan hawa nafsu, serta sabar dari derita lapar, haus, lemah jiwa dan raga.

Setiap manusia punya tingkat kesabaran yang berbeda, dan setiap manusia dihadapkan pada ujian kesabaran yang berbeda-beda pula, semakin tinggi kesabaran seseorang maka ujian kesabarannya bisa lebih tinggi lagi. Saat itulah kesabaran dilatih dan ditempa, tentu tidak semua manusia mampu melewati ujian kesabaran itu.

Bagi umat Muslim, minimal satu tahun sekali kita ditempa untuk bersabar. Ujian kesabaran selama satu bulan Ramadhan ini idealnya bertransformasi menjadi pribadi yang memiliki kesabaran dalam setiap laku kehidupan selama satu tahun ke depan, yang implementasinya adalah senantiasa memaksimalkan kebaikan dan meminimalisir ketidakbaikan, memaksimalkan ikhtiar serta semakin ridha terhadap apa yang menjadi ketetapan yang menimpa dirinya. Boleh jadi, di balik peristiwa yang menyakitkan justru disitulah ada keberkahan, terkait hal ini, ada satu kisah di jaman Rasul.

Di perjalanan menuju masjid, ada seorang pemuda dibuat kaget, dia bertemu wanita yang sangat cantik dan adu pandang pun tak bisa dielakkan.

Sang pemuda gagal fokus, sampai menabrak dinding tembok, wajahnya luka, hidungnya berdarah.

Pemuda itu bersumpah, Demi Allah saya tidak akan hapus darah ini sampai aku sowan sama Nabi.

Dia menyampaikan kejadian yang menyebabkan wajahnya berdarah. Nabi pun berkata, Alhamdulillah dosamu memandang wanita itu Allah hapus karena musibah nabrak tembok yang kau alami.

Seringkali kita tidak sabar saat mendapat musibah, padahal bisa jadi itu adalah cara Allah menyayangi hamba-Nya.

Selain penghilang dosa, musibah juga bahkan bisa menjadi alat peningkat derajat.


Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا اِبْتَلاَهُ بِبَلاَءٍ لاَ دَوَاءَ لَهُ، فَإِنْ صَبَرَ اِجْتَبَاهُ، وَإِنْ رَضِيَ اِصْطَفَاهُ

Tatkala Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memberikan cobaan kepadanya dengan sebuah cobaan yang tidak ada obat baginya. Kemudian jika dia sabar maka Allah memilihnya, dan jika dia rida maka Allah menjadikannya pilihan.

Menjadi pilihan Allah itu bukan sesuatu yang sederhana. Sangat luar biasa. Begitu mulia.

Allah menurunkan kasih sayangnya juga tidak pilih kasih, bisa jadi musibah yang ditimpakan kepada ahli maksiat adalah cara Allah untuk mengistirahatkan atau bahkan menghentikan kebiasaan maksiatnya.

Sabar adalah kata kuncinya. Sedikit kesabaran bahkan bisa mengungguli ibadah bertahun-tahun

Dikisahkan di jaman Bani Israil, ada seorang pemuda yang sudah bertahun-tahun dia habiskan waktunya untuk beribadah, suatu malam dia diuji sakit sampai tidak bisa bergerak, sehingga tidak bisa wudhu, qiyamul lail dan ibadah-ibadah lainnya yang sudah menjadi kebiasaannya. Dia berkata, Ya Allah malam ini aku tidak bisa shalat malam, tapi aku rida akan rasa sakit ini.

Keesokan harinya Allah menurunkan wahyu pada nabinya, sampaikan pada pemuda itu, ibadahnya yang selama 100 tahun tidak lebih berat dibanding sabarnya satu malam. Subhalalloh.

Sabar itu ketaatan batin, dan ketaatan batin lebih berat dibanding ketaatan dhohir, karena ketaatan dhohir bisa saja masih tertimpa penyakit batin.

Wallohu a’lam

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *