Oleh: Moh. Anis Romzi

Hidup itu buatlah awet. Tidak usah mencari perkara dengan yang lain. Biarpun berbeda tetaplah berbuat baik.

Semua Allah anugerahi jatah umur. Ia memberikannya untuk kehidupan. Selama masih diberikan kehidupan Allah sertakan rezeki kepadanya. “ panjang umurnya, serta mulia” Sebuah lagu yang selalu dinyanyikan saat seseorang pada pesta ulang tahun. Semua manusia tampaknya ingin berumur panjang dan mulia. Harapan yang wajar. Namun hak umur ada pada Yang Maha Kuasa. Tidak satupun manusia dapat menentukan lahir dan matinya.

Dalam berinteraksi dengan yang lain acap kali melahirkan konflik. Manusia adalah makhluk sosial. Mereka ada keterikatan antara satu dengan yang lain. Hidup bersama akan terjadi gesekan. Tarik-ulur kepentingan akan senantiasa ada. Di sinilah memerlukan kecerdasan sosial. Ada saatnya harus mampu membaca keadaan orang lain. Kompromi terbaik tanpa mengorbankan norma adalah kerangka jalan keluar yang saling menghargai.

Permasalahan dalam hidup tidak perlu dicari. Ia akan datang dengan sendirinya. Ia adalah bumbu kehidupan. Setiap masalah yang datang adalah ujian. Ini sarana naik kelas. Dalam hidup masalah yang datang adalah untuk diselesaikan. Tanda kecerdasan menurut teori Gardner adalah kemampuan menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda-beda. Agar awet hidup selesaikan masalah yang  datang. Hindari masalah yang menuai konflik besar.

Hampir mustahil secara akal manusia itu sama. Ini penting untuk dipahami. Bahwa kebersamaan dalam perbedaan akan melahirkan kekuatan. Seperti sebuah orkestra, harmoni dalam perbedaan menghasilkan keindahan. Jadi berbeda tidak mengapa, asal menghormati. Inilah karakter kebhinnekaan yang dibangun pemerintah melalui pendidikan.

Perbedaan bukanlah satu yang hina. Ini bila mengarah kepada kemaslahatan. Dasar dibuatnya hukum kemanusiaan adalah untuk kesejahteraan bersama. Meskipun dalam praktik masih belum sempurna, optimisme harus senantiasa dibangun. Kita akan menuju sejahtera bersama. Ibarat sebuah tanaman, kebaikan akan diikuti gulma di belakangnya. Rajinlah menyiangi agar itu terpelihara. Perbedaan itu wajar. Perbedaan adalah pembelajaran untuk saling mengenal.

Tetaplah berbuat baik kepada yang beda. Hak dasar untuk hidup adalah asasi. Bila Anda mayoritas maka lindungi yang minoritas. Pun sebaliknya yang minoritas wajib menghormati yang mayoritas. “Ojo umpakan!”. Pesan Gus Dur kepada Jaya Suprana saat menjadi presiden. Saat itu pemerintah memberikan penghargaan tentang perayaan Hari Raya Imlek. Sekaligus dibebaskannya warga Tionghoa keturunan untuk menganut agama Konghucu. “ Kita yang minoritas harus menghormati yang mayoritas. Jangan berlebihan atas hadiah yang diberikan.” Jaya Suprana menyampaikan dalam sebuah dialog di Metro TV pada acara Gus Dur, Guru Bangsa.

Hidup berbeda dalam harmoni perdamaian adalah harapan. Siapa saja pasti menginginkan kedamaian. Pesan-pesan agama juga menyampaikan sama. Kebhinnekaan adalah titipan para pendiri bangsa. Indonesia berdiri di atas agama-agama yang berbeda. Biarpun berbeda Indonesia menyatakan sebagai saudara dalam berbangsa dan bernegara. Kontribusi positif kepada negara yang ditunggu. Karakter warganya diharapkan berkontribusi pada kemajuan negara. Apapun suku, agama, ras, dan golongan mereka.

Kemakmuran dapat dicapai dengan menghargai perbedaan. Dalam kehidupan semua profesi menyumbang kepada kesejahteraan. Sudah pasti profesi itu berbeda-beda pula. Semua bermuara pada tujuan bangsa keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia.

Saatnya merajut kebaikan dalam perbedaan. Ini akan melahirkan ketenangan dan kedamaian bersama. Umur akan menjadi lebih panjang. Ada rahmat yang diturunkan-Nya dalam kedamaian.

Jaya Makmur,Makmur Katingan, Kalteng. 4 Januari 2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *