Oleh: Moh. Anis Romzi

Don’t judge the book by its cover. Jangan menilai buku dari sampulnya. Pernahkah Anda membaca atau mendengarkan ungkapan ini?  Mungkin sudah, mungkin belum. Ini adalah pesan untuk kita agar tidak terburu-buru menilai sesuatu. Bisa jadi sampul untuk sebuah memberi kesan untuk memberi penilaian. Namun jangan berhenti sampai di situ. Lanjutkan secara mendalam, agar penilaian yang dihasilkan lebih komprehensif. Seperti sertifikat, ijasah atau surat kelulusan yang tertulis nilai, mereka hanya mengantar pada tes wawancara. Selanjutnya adalah komitmen dan kerja keras. Dua kalimat terakhir saya mengutip Anis Baswedan.

Sebuah proses dalam pembelajaran untuk memutuskan. Amatilah secara mendalam tentang hal yang dipelajari. Ia tidak cukup hanya melihat. Namun dengan menelaah secara mendalam. Observasi kata yang digunakan untuk melakukan pengamatan ini. KBBI V memberi makna observasi sebagai kata benda yang berarti peninjauan secara cermat. Ini akan melahirkan kehati-harian untuk menilai. Kata berlaku sama terhadap objek benda maupun manusia. Jangan terburu-buru menilai sebelum melakukan observasi. Kecuali saat darurat. Penilaian dapat dilakukan dengan naluri.

Penilaian mata adakalanya menipu. Memang ada bukti, kalau mata bisa tertipu? Sederhananya silakan menonton sulap yang mengandalkan kecepatan tangan. Saya yakin Anda akan tertipu. Kecuali bagi pesulapnya sendiri. Lazim dalam Bahasa Malaysia disebut dengan silap mata( Kata Upin&Ipin). Terus apa fungsi mata? Betul untuk melihat. Namun kembali apabila untuk menilai, lihatlah berulang-ulang untuk meminimalkan kesalahan.

Hormati semua, perlakukan sama pada manusia. Ada norma yang harus dipenuhi dalam hidup bermasyarakat. Norma standar dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Mereka adalah norma agama, hukum, kesopanan, dan kesusilaan. Tata nilai yang telah disepakati dalam bingkai berbangsa dan bernegara Indonesia. Maka wajib hukumnya untuk mematuhi norma yang berlaku tersebut. Menghormati yang lain adalah bagian dari itu. Tanpa memandang status sosial. Namun dengan tetap mengedepankan etika.

Jangan meremehkan orang lain. Siapa saja yang terlihat kecil belum tentu bernyali kecil. Ini adalah inti dari judul nasehat di atas. Ketika memandang yang lain sebaliknya kita lupa memandang diri. Seperti pesan lima jari, ketika telunjuk menunjuk ke depan. Kita lupa empat jari yang lain mengarah pada penunjuk. Kembali berhati-hatilah menilai orang lain. Orang yang kita anggap rendah, mungkin saja mereka lebih baik dari kita. Belum tentu orang kecil bernyali kecil.

Ada dua potensi saat menilai sesuatu. Pertama takjub, keduanya merendahkan. Sama-sama tidak tepat ketika menilai itu terlalu. Ini berlaku sama saat kita menilai penampilan orang lain. Rasa takjub terlalu tinggi pada sesama ciptaan Allah tidak patut. Pun meremehkan orang lain karena ketidakmampuannya bernilai sama. Jadi berlakulah wajar dan adil dalam memperlakukan orang lain.

Berbagi kebaikan untuk membangun tekat bersama. Ini adalah sebuah itikad yang memerlukan pembuktian. Menilai orang karena penampilan semata seyogianya dihindari. Perilaku meremehkan berbahaya. Itu karena kita tidak mengetahui kekuatan yang dimilikinya.

Teruslah belajar sampai Anda lupa untuk merendahkan yang lain. Sibuk mencari kelemahan diri, jauh lebih baik dari mencari kekurangan orang lain. Berhenti belajar ada peluang untuk melihat celah keburukan orang lain. Pandanglah manusia sama dalam penampilannya. Lihat apa yang dikaryakannya dalam kehidupan dan sesama. Tirulah mereka dalam kebaikan. Belajar itu sepanjang hayat. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 1 Januari 2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *