Oleh: Moh. Anis Romzi

Jadilah orang yang tabah dan gagah, yang tidak pernah mengeluh ketika susah, tidak pernah merasa susah saat mencari nafkah, dan tetap tenang ketika menghadapi masalah.

Kekuatan tidak hanya ditentukan oleh fisik. Namun kekuatan jiwa. Kekuatan dari dalam adalah mulanya. Ini adalah pembangun semangat untuk menghadapi kondisi apapun. Menata jiwa tidak semudah merangkai kata. Ia bahasa hati yang berbolak-balik. Kadang naik, Terkadang turun. Jiwa dapat ditata dengan kekuatan doa.

Di dalam jiwa ada berisi dorongan untuk tetap tabah. Apapun masalah yang datang, ketabahan tidak mengenalinya. Ia akan senantiasa berusaha menetralisir segala suasana. Ketabahan berisi keberanian. Rasa takut, sedih akan lewat. Ini karena ketabahan dekat dengan kemuliaan. Tabah juga berarti tidak kenal menyerah dan putus asa. Karena rahmat-Nya terlalu besar. Ia membaginya kepada siapa saja. Berputus asa dari rahmat-Nya adalah tanda keingkaran.

Semangat pantang menyerah itu berasal dari dalam diri. Ia terus memotivasi agar tetap tegar. Jiwa yang setiap saat siap menghadapi tantangan. Apapun itu bentuknya. Pantang menyerah juga jiwa wirausaha yang hari ini dinantikan para pembelajar muda. Agar mereka siap dengan tantangan zaman yang sulit diprediksi ujungnya. Penting untuk senantiasa mendorong jiwa tetap bertahan. Dia adalah alasan tertinggi untuk kita tidak menyerah.

Tanda dari kuatnya jiwa adalah konsistensi. Ia tidak akan terbawa suasana yang berasal dari luar dirinya. Ia memberi pengaruh, tidak terpengaruh. Konsistensi adakalanya memaksa saat pertama. Namun akan menjadi hadiah terindah saat terbiasa. Ia tidak berharap banyak, tetapi ajeg. Siapa saja saja yang memiliki konsistensi jiwanya kuat. Ia mendekati kemuliaan. Konsistensi dalam kebaikan.

Susah dan senang adalah warna-warni kehidupan. Keduanya senantiasa berpasangan. Rasa syukur penetral antara kesenangan dan kesusahan. Rasa syukur laksana pereda gelombang di tengah pelayaran. Ia melahirkan rasa tenang. Ada janji dari Sang Maha Rahman pada syaakir. Ada tambahan nilai dari jalan di luar persangkaan. Ia dzat pemberi kecukupan tanpa berkurang sedikitpun kekuasaan-Nya. Susah dan senang biasa saja melewatinya.

Manusia dewasa wajib untuk mencari nafkah. Ada persaingan, berkejaran untuk mendapatkannya. Bahkan tidak sedikit yang menghalalkan segala cara untuk sekadar berebut nafkah. Jangan susah, rezeki sudah ada yang membagi. Tugas manusia hanya berusaha dan berdoa. Tenanglah, kesusahan tidak akan menyembuhkan atau merubah nasib. Teruslah berusaha mencari nafkah untuk menuju reda-Nya.

Keluhan hanya layak disampaikan pada Sang Pemberi kehidupan. Doa adalah sarana menyampaikan keluhan terindah. Bangkitlah segera saat terjatuh. Karena ia pemberi warna kehidupan. Belajarlah banyak dari kegagalan hingga Ia memantaskan kita menerima kesuksesan. Keberhasilan, kesuksesan, kebahagiaan atau apapun namanya adalah akibat. Kita perlu memperkuat sebab-sebab menuju mereka. Jangan menyerah! Mengeluhlah dalam doa di kala sepi.

Jiwa-jiwa yang tenang tanda kemapanan. Ada harapan senantiasa menunggu di depan. Betapa menyenangkan apabila kita dipanggil pemilik kehidupan. Ia mengenali kita sebagai hamba yang baik. Saat dipersilakan masuk ke surga-Nya adalah milik bagi jiwa yang tenang. Apapun masalah yang dihadapi pemilik jiwa yang tenang akan mampu menghadapi. Ia tidak memiliki rasa takut dan cemas. Karena jiwa yang tenang ada dalam perlindungan.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng.  31 Desember 2020.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *