Oleh: Moh. Anis Romzi

Banyak atau sedikit yang namanya rezeki itu harus disyukuri

Rezeki? Jika banyak orang yang bertanya, boleh jadi jawabannya berbeda-beda. Ada yang memaknainya sebagai harta, ada yang menerjemahkan dengan kesehatan, jalan keluar, dan banyak lagi. Dilansir dari brillio.net (18/06/21) setiap orang pasti memiliki rezeki. Rezeki tidak melulu berupa uang ataupun penghasilan. Rezeki bisa saja berupa keluarga, sahabat yang baik, kesehatan, dan segala kenikmatan lainnya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 5 mendefinisikan rezeki sebagai kata benda yang berarti segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan); makanan(sehari-hari); nafkah. Brilio.net dari berbagai sumber menggantikan bahwa garis besar rezeki adalah segala sesuatu yang bermanfaat dan bisa kita manfaatkan untuk kelangsungan kehidupan kita di dunia.

Adakalanya kita berhitung jumlah masalah rezeki. Berapa pendapatan per hari? Jika hanya berhitung nilai kuantitas, maka murahlah si rezeki itu.  Boleh jadi rezeki hanya bagi mereka yang memiliki pekerjaan tetap. Mereka yang berpenghasilan dengan nominal rupiah perhariannya. Rezeki lebih dari sekadar materi. Kecukupan terhadap pemeliharaan kehidupan bergantung pada rasa. Siapa saja yang memiliki rasa cukup itulah pemilik rezeki sejatinya. Berhitung rezeki Anda tidak akan mampu.

Rezeki berbeda dengan gaji. Upah bisa jadi dapat dihitung dan diperkirakan. Namun tidak demikian dengan rezeki. Itu murni pemberian Allah Swt. Rezeki tidak berbicara nilai dalam hitungan. Kalaupun orang menganggap pendapatan sebagai rezeki itu sah. Namun itu hanya salah satunya saja. Rezeki jauh lebih besar dari pada itu.

Selama masih diberi kehidupan rezeki itu ada diberikan. Ia telah janjikan bahwa akan memberi rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Ia melebihkan sebagian dari yang lain. Justru inilah keadilan-Nya. Jadi jika ada yang hasil lebih dari pada yang lain itu adalah kuasa-Nya. Boleh jadi profesi sama namun hasil tidak sama. Ataupun waktu bekerja boleh sama keberuntungan beda. Ada yang berolahraga lebih lama namun kesehatannya malah memburuk. Biasa saja semua ada takaran yang sudah digariskan.

Tidak ada sesuatu pun yang berjalan di atas muka bumi ini kecuali telah ditentukan rezekinya. Ia bisa datang dari arah yang tidak di sangka-sangka. Rezeki telah dijanjikan bagi yang bertakwa. Begitu rahmannya Dia semua diberikan bagi yang hidup. Apakah masih enggan bersyukur? Kematianlah yang menghentikan rezeki di dunia. Jangan khawatir selama masih hidup rezeki itu ada. Bukan jumlahnya yang penting. Sedikit ataupun banyak tetaplah bersyukur.

Bersyukur atas rezeki dapat dilakukan dengan tiga cara;

  1. Lisan. Cara ini adalah cara termudah. Syukur dengan lisan ditandai dengan ucapan. Pujian pokok untuk Sang Pemberi kehidupan. Bagi yang muslim dengan ucapan Alhamdulillah rabbi al-alamin, bagi yang Nasrani puji Tuhan. Atau dengan ucapan sejenis bagi yang beragama lain. Dia-lah yang hanya pantas untuk dipuji.
  2. Badan. Syukur dengan badan adalah memanfaatkan anggota badan untuk kebaikan. Semua dimanfaatkan untuk pengabdian kepada-Nya. Nikmat sehat adalah nikmat yang mahal. Namun sedikit yang menyadarinya. Senyampang sehat gunakan badan untuk kemanfaatan diri dan orang lain. Jika Anda bekerja berikan hasil pekerjaan terbaik yang dimiliki. Inilah tanda syukur dengan badan.
  3. Hati. Ini adalah tempat bersemayam keyakinan. Syukur dengan hati adalah menyadari bahwa segala anugerah yang ada dalam diri berasal dari-Nya. Keyakinan adalah hal utama dalam bersyukur. Ini menjadi dasar ucapan dan perbuatan dalam kehidupan. Semakin bersyukur nikmat akan ditambah.

Berapa pun jumlahnya, banyak ataupun sedikit, yang namanya rezeki harus disyukuri. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 25/1/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *