Oleh: Moh. Anis Romzi

Baik dan buruk itu bergandengan. Maka hati-hati dan waspada agar tidak terjerumus dalam kehinaan

Segala sesuatu diciptakan berpasangan. Salah satunya adalah kebaikan dan keburukan. Saat berada dalam posisi kemuliaan, tiba-tiba saja dapat bergeser pada kehinaan. Tetap ingat dan waspada bahwa segalanya berasal dari-Nya. Tidak ada satupun yang ada di langit dan dibumi dapat memberi manfaat dan bahaya selain atas izin-Nya.

Kita wajib untuk tetap sadar diri dan waspada. Kemuliaan yang kita miliki saat ini dapat dicabut kapan saja. Tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kesadaran diri akan menghantarkan pemiliknya memandang rendah pada sesuatu yang dianggap mulia. Semuanya akan terasa biasa karena yang ada hanyalah titipan. Salah satu bentuk kesadaran dan kewaspadaan terhadap kebaikan adalah memanfaatkannya untuk ketaatan.

Hanya ada garis tipis antara kemuliaan dan kehinaan. Baik dalam pandangan manusia, belum tentu dalam pandangan Tuhan. Akan ada pertanggung jawaban atas apa yang ada dalam diri kita. Kehinaan dalam pandangan manusia belum serta merta hina dalam pandangan-Nya. Pasrahkan kepada-Nya atas segala yang terjadi pada diri. Namun ikhtiar menghindari kenistaan adalah wajib. Kembali waspada agar tidak terjerumus kehinaan utama untuk dilakukan.

Hati-hati dengan kemuliaan. Itu pun dapat bermakna ujian kepada diri. Adakah kita bersyukur, atau sebaliknya? Ingkar. Jika bersyukur kemuliaan itu akan memberi manfaat. Sebaliknya kemudian dapat membawa kepada mudarat apabila tidak berhati-hati dalam mengendalikannya. Apabila gagal mengendalikannya akan timbul kesombongan, keserakahan, kesewenang-wenangan. Mereka inilah sejatinya kehinaan. Kembali kebaikan dan keburukan itu bergandengan.

Dalam menyikapi kemuliaan sosok nabi Sulaiman dapat dijadikan teladan. Ia terberkati dengan segala keistimewaan. Mulai dari menjadi seorang raja, kaya raya, kemampuan memahami bahasa binatang, bala tentara dari jin dan manusia, dan yang tertinggi adalah keimanan dan ketakwaan seorang nabi. Namun ia masih bersahabat dengan yang fakir. Nabi Sulaiman  yang dikenal pertama kali mengucapkan bismillahirrahmaanirrahiim. Ia memandang rendah dunia dan kemuliaan yang dimilikinya. Teladan dari nabi Sulaiman bahwa dunia adalah biasa.

Kunci dari segala kebaikan adalah reda-Nya. Ini adalah yang utama sebagai tujuan kehidupan. Keredaan-Nya mengalahkan surga sebagai hadiah. Pun juga reda itu menafikan neraka sebagai pembalasan. Menuju reda-Nya tiada lagi berhitung surga dan neraka.

Sedangkan keburukan adalah karena melawan apa yang diminta-Nya. Ketika di dunia adalah ladang berbakti. Di akhirat tertinggal pembalasan. Siapa saja yang melawan, durhaka atas perintah-Nya bersiaplah menerima keburukan. Bisa di dunia ini sekarang atau nanti saat hari perhitungan. Tidak ada yang terlewat dari pengawasan-Nya.

Penting untuk memandang kemuliaan seperti jabatan, harta, pengaruh ataupun semacamnya sebagai sarana pengabdian. Bahkan terkadang kemuliaan dapat diturunkan sendiri derajatnya atas kehendak-Nya. Akan ada masa yaitu di hari tidak ada lagi berguna harta dan anak-anak laki-laki(8) Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih(89)Qs. Asy-Syuara’.

Ini menjadi kepastian bahwa kebaikan harus diusahakan. Perumpamaan sebuah tanaman kebaikan adalah tanaman yang sengaja dirawat untuk dinanti hasilnya. Sedangkan keburukan adalah gulma pengikut. Ia tumbuh dengan sendirinya. Tanaman budidaya dan gulma tumbuh bersamaan. Inilah yang memerlukan pemeliharaan. Perawatan, pemeliharaan akan menimbulkan kesibukan. Tidak mengapa sibuk dalam kebaikan, daripada sibuk dalam keburukan. Tanaman dan gulma bukti bahwa kebaikan dan keburukan bergandengan. Waspadalah agar tidak terjerumus pada kegagalan atau kenistaan.

Karena kebaikan dan keburukan bergandengan, berhati-hati dan waspadalah. Agar tidak keblinger kepada kehinaan. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 24/1/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *