Oleh: Moh. Anis Romzi

Perbanyaklah bersyukur, agar yang senang bertambah, yang susah menjadi senang.

Hanya orang beruntung yang memiliki pekerjaan. Jangan kecewakan orang yang memberi pekerjaan. Ini karena memiliki pekerjaan adalah impian bagi mereka yang sedang mencarinya. Tanda dari syukur ini adalah memberikan kemampuan terbaik. Keberuntungan tidak ada yang kebetulan. Siapa yang pandai bersyukur atas yang kecil, hadiah besar siap menanti. Itu janji-Nya. Dia tidak pernah ingkar janji.

Tempat kita mencari rezeki mungkin saja tidak menjadikan kaya. Akan tetapi setidaknya ia memberi kehidupan. Maka hargailah tempat kerja yang telah memberikan kehidupan. Boleh jadi tidak besar, namun itu memberi kontribusi dalam melewati kehidupan. Semakin bersyukur semakin tenang, pada akhirnya menjadi pribadi yang produktif.

Bersyukur itu menenangkan. Ia akan membawa kepada kemakmuran jiwa. Dari jiwa akan membangun pada gerak fisik. Ramai orang mengejar kesenangan, padahal itu dekat dengan kita. Hidup saja sudah anugerah. Jangan khawatir, selalu ada jalan bagi yang senantiasa bersyukur. Kesenangan karena syukur dapat hadir di mana saja. Di gubuk repot, ataupun gedung pencakar langit. Senang dan makmur itu adalah rasa jiwa.

Barang siapa bersyukur, ia bersyukur pada dirinya sendiri. Ini adalah pelajaran dari lumayan kepada anak-anaknya. Jika pun kita tidak bersyukur, Ia (Allah) Maha Kaya. Syukur adalah perintah yang kebaikannya kembali kepada kita. Menurut Hadat (2003,44) dalam Ismail Nawawi(2008,237) ada empat tanda-tanda orang yang bersyukur, yaitu:

  1. Merasa gembira tentang wujud nikmat pada diri, yang mana ia mendorong jalan untuk beramal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah;
  2. Memperbanyak ucapan syukur dan terima kasih kepada Allah Swt serta memuji-Nya dengan lisan;
  3. Mengerjakan ketaatan kepada Allah Swt. dari memohon diperbantu dalam ketaatan itu dengan nikmat-nikmat-Nya;
  4. Membesarkan nikmat, sekalipun nikmat itu kecil saja. Memandang keagungan Sang Pemberi nikmat. Setiap hamba menerima nikmat itu tiada terkira jumlahnya. Jika ia tidak berpikir atas nikmat yang telah diberikan, apakah lagi untuk mensyukuri terhadap setiap nikmat-Nya?

Semut saja, hewan yang kecil tahu bersyukur. Masa kita tidak? Diceritakan dalam Qs. An-Naml ayat 17-19 yang artinya:” Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia, dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib(17) Hingga mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut,” Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar tidak terinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”(18) Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkan ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau redai; dan masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”(19)

Bersyukur sejatinya kembali pada diri sendiri. Itu akan meringankan. Sementara mengeluh akan menambah beban dalam kehidupan. Dalam diri kita sejatinya telah ada nikmat yang sangat banyak. Namun kadang kala kita abai menyadarinya. Saat melihat orang lain merasa dilebihkan, kita merasa berkurang. Maka melihat diri atas yang telah dimiliki karena pemberian-Nya adalah sarana syukur. Biar saja yang lain terlihat lebih. Dengan melihat ke dalam diri akan memberikan ketenangan.

Banyak bersyukur bertambah senang. Siapa yang susah, karena syukur menjadi senang. Jangan berhenti untuk bersyukur. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 23/1/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *