Oleh: Moh. Anis Romzi

Hidup itu sebenarnya sama, namun yang dialami setiap orang berbeda. Ini adalah kesempatan yang diberikan Allah untuk kita. Kesempatan untuk mengumpulkan bekal pada kehidupan selanjutnya. Nabi berpesan lewat sebuah hadits:” Gunakan lima perkara sebelum datang lima perkara yang lain. Hidupmu sebelum matimu’. Bahwa kehidupan di dunia ini penting untuk persinggahan perjalanan.

Kita mesti menyadari bahwa kehidupan yang diberikan sama. Ya sama, semua diberikan Allah hak untuk menghirup udara yang sama, menikmati waktu yang sama, bergerak, dan berkarya sama. Namun kesamaan hidup manusia berbeda yang dialaminya. Perbedaan pengalaman dalam hidup disebabkan beraneka keadaan. Allah menciptakan manusia dari golongan laki-laki dan perempuan, kemudian ia menjadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Ini agar manusia saling mengenal. Lebih lanjut bahwa perbedaan dalam hidup itu niscaya.

Setiap kehidupan menyimpan masalahnya sendiri-sendiri. Karena manusia sebagai makhluk tertinggi dalam kehidupan, maka manusialah yang memiliki permasalahan. Setiap manusia memikul masalahnya sendiri-sendiri. Bahkan pada manusia yang disebut kembar. Jadi bagi siapa saja manusia yang saat ini sedang menghadapi masalah, jangan berkecil hati. Pasti manusia yang lain juga sedang menghadapi masalah. Tidak harus menjadi tokoh besar untuk bertemu masalah. Menjadi apa saja masalah itu akan selalu ada.

Saat memandang kehidupan lihatlah dari berbagai sudut pandang. Adakalanya kita menjadi orang pertama, dan adakalanya menjadi orang ketiga. Seperti point of View dalam istilah kepenulisan, berpindah dari satu sudut pandang ke lainnya adalah agar kita memiliki kepekaan. Terkadang kita berpikir hidup kita yang paling sulit, misalnya. Saat kita melihat ke yang lain ternyata banyak yang lebih sulit. Mengamati kehidupan dari berbagai sudut pandang akan melahirkan rasa syukur dan empati.

Empati rasa yang patut dilahirkan untuk melihat kehidupan. Perbedaan dalam isi kehidupan adalah satu hukum Tuhan. Oleh karena itu penting untuk memiliki rasa empati dalam kehidupan. KBBI V memberi makna empati dengan sebuah kata benda yang berhubungan dengan psikologi yang berarti keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan  perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Contoh sederhana adalah jika saat ini Anda menjadi mayoritas, sesekali waktu merasalah menjadi minoritas. Pengandaian yang lain jika hari ini ada kepala daerah, atau presiden bahkan, sesekali merasalah menjadi rakyat biasa. Adil bukan?

Pengalaman hidup yang lain adalah pelajaran. Pun pengalaman hidup diri sendiri. Jika itu sebuah kebaikan maka dapat ditiru atau dipertahankan. Dalam kehidupan semuanya berpotensi sama dalam melakukan kebaikan sekaligus keburukan. Manusia baik dapat mengambil pilihan yang baik. Kebaikan itu harus diusahakan, bahkan harus dengan pengorbanan. Hidup bisa sama, pengalaman pasti berbeda. Ambillah pelajaran yang baik untuk kehidupan diri.

Dalam kehidupan tidak semua diberi peran protagonis. Begitupun sebaliknya dengan peran antagonis. Peran ini disandarkan pada hasil yang telah dilakukan. Jika ingin melaksanakan perintah-Nya, maka kerjakan kebaikan. Karena Ia menyukai pada kebaikan. Namun fakta dalam kehidupan kedua peran besar ini akan terus ada. Kebaikan melawan keburukan. Ia akan berpasangan sampai kehidupan ini berakhir.

Selama masih diberikan kehidupan masih ada kesempatan untuk berharap. Harapan akan sebuah akhir yang baik. Hidup itu sama, namun isinya berbeda. Pilihlah hanya yang baik dan berarti. Inilah hidup yang bermakna. Urip ki sak jane podo. Nanggung sing dialami bedo.

Hidup itu sama, tetapi tidak dengan isinya. Saya mengutip kata bijak yang biasa diafirmasikan di sekolah saya setiap pagi. ‘Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti’(Saiful Rohman, S.Pd) Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 28 Desember 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *