Oleh: Moh. Anis Romzi

Ketika ada kamu sia-siakan, ketika sudah pergi engkau tangisi, kadang aku tertawa melihat tingkahmu

Ungkapan orang tua saat mereka masih ada. Adakalanya mereka merasa tidak diperhatikan putra-putrinya. Ketika anak-anaknya telah dewasa kembali mereka merasa sendiri. Namun dengan tenang mereka menutup kegelisahannya. Bagi mereka putra dan putrinya masih tetap anak mereka yang belum dewasa. Anak-anak adalah buah hati mereka. Apa saja akan dikorbankan demi kesenangan anak dalam kehidupan mereka.

Kedua orangtua adalah salah satu pintu surga. Dan tepat berada yang paling tengah. Ada amalan- amalan yang paling disukai Allah. Pertama salat pada waktunya, kedua berbakti kepada orangtua, dan ketiga bersolawat kepada nabi Muhammad, dan berjuang di jalan Allah. Selama kedua orang tua masih ada mereka adalah ladang pahala. Keredaan mereka sama dengan reda Allah, sebaliknya murkanya kedua orang tua adalah murka Allah pula.

Adakalanya saat orang tua berada di dekat kita, sering kita tidak memperhatikan. Sebagai anak terkadang muncul prasangka jika orangtua itu kejam. Padahal semata semua orang tua berharap penerus mereka harus lebih baik. Sang anak beranggapan itu adalah pengekangan. Kebebasan sang anak ditutup. Semua harus berdasarkan kehendak orang tua. Akhirnya timbul rasa tidak senang pada orang tua sendiri. Kebebasan ditemukan bila bertemu dengan teman sebaya. Orangtua menjadi tidak dipercaya.

Saat di sekolah pula acap terjadi. Beberapa pelajar tidak mengindahkan nasehat gurunya. Banyak nasehat kebaikan diabaikan. Saat muda adalah waktu memenuhi hasrat diri. Orangtua menjadi asing saat menyampaikan kebaikan. Bahkan beberapa menganggapnya sebagai kebencian. Di sekolah tidak jauh berbeda. Para guru telah diabaikan nasehatnya. Perintah kebaikan dianggap sebagai hukuman. Fitrah baik pembelajaran terasa hilang. Tontonan menjadi tuntunan. Teknologi menjadi tempat pelarian. Orangtua dan guru disisihkan.

Namun ketika mereka, para orangtua dan guru kita harus berpisah. Ada kesedihan yang baru terasa. Penyesalan mulai muncul. Saat orangtua meninggalkan baru merasa kehilangan. Duka, tangis, bahkan raungan laksana drama. Selalu terlambat datangnya. Saat harus berbakti ketika masih ada terlewatkan begitu saja. Saat harus berjuang belajar menuntut kebaikan pembelajaran diabaikan. Sesal kemudian tiada berguna.

Linangan air mata bercucuran. Bahkan histeris kadang kala. Waktu tidak pernah bisa mundur. Pengulangan hampir menjadi suatu yang mustahil. Segalanya berubah menjadi andai saja masih. Kesempatan ini tidak hadir dua kali. Saat masih ada orangtua disia-siakan. Saat harus berpulang keluar ratapan dan tangisan. Penyesalan selalu hadir kemudian.

Orangtua kita masih bisa tersenyum dalam getir. Ini semata karena mereka malu bersedih di depan anak-anaknya. Andai nyawa harus dipertaruhkan untuk anaknya, mereka akan rela. Namun banyak anak mereka tidak merasa. Tidak sedikit orangtua yang nelangsa melihat polah-tingkah anak-anaknya. Salah pun masih akan dibela. Ini karena ada cinta orangtua pada anaknya. Tak ternilai harta. Cinta orangtua kepada anaknya tidak ada bandingannya.

Selagi masih ada para orang tua kita. Baik orang tua sendiri, mertua, maupun para guru kita. Muliakan mereka. Doa mereka tidak pernah putus untuk kebaikan anak-anaknya. Doa orangtua sama mustajab dengan doa seribu wali. Surga itu ada di rumah dan sekolah kita. Jangan sampai orang tua kita bingung dengan perilaku kita. Allahumma ighfirlii wa li walidayya wa arham huma kamaa rabbayanii shaghiraa.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng, 21/1/2021 Salam hormat untuk bapak dan ibu. Semoga senantiasa dalam lindungan dan rahmat-Nya

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *