Oleh: Moh. Anis Romzi

Gusti Allah tidak pernah tidur, maka jangan malas-malas untuk bermohon

‘Berdoalah kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan untukmu’ (al-Qur’an). Ini adalah peletakan sandaran harapan tertinggi. Segala yang ada di langit adalah milik-Nya. Tidak Satu pun yang luput dari pengawasan-Nya.  Berpikir pada penciptaan-Nya menunjukkan betapa agung Sang Pencipta alam. Ia adalah wajibul wujud. Istilah yang sering dipakai KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha). Dia awal tanpa permulaan dan akhir tanpa batas. Dialah Tuhan Yang tiada lain selain Dia.

Dia (Allah) Dzat yang tidak pernah lupa dan tertidur. Dia terjaga tanpa berkesudahan. Saat ini beberapa musibah ramai diturunkan di Indonesia tercinta ini. Mulai dari tanah longsor di Sumedang Jawa Barat, banjir di Kalimantan Selatan, gempa bumi di Sulawesi Barat dan Utara adalah penanda untuk kita manusia. Peringatan untuk kita agar lebih mendekat kepada Sang Khalik. Jangan lelah untuk memohon kebaikan dan keselamatan dari takdir buruk. Dia Maha Mendengar.

Niatkan segala perbuatan untuk-Nya. Itu adalah landasan segala ibadah. Baik yang langsung maupun tidak langsung. Niat ia menjadi penentu tujuan dalam segala perbuatan. Ketika ditujukan kepada-Nya itulah tujuan yang paling benar. Saat tujuan telah ditentukan lengkapi dengan perbuatan untuk menujunya. Ikuti pedoman yang telah digariskan. Biarkan Dia yang menentukan hasil. Pasrahkan dengan segala ketulusan.  

Ia memberikan ujian sekaligus jawaban. Dalam kehidupan kita sudah dibekali pedoman. Mulai dari lahir sampai dengan menjemput kematian. Kunci jawaban dari segala ujian itu adalah ketakwaan. Dia menjanjikan jalan keluar segala persoalan. Tidak hanya itu segala kehidupan rezeki dari luar persangkaan kita. Dia Sang Pemberi kecukupan. Tugas kita di dunia ini beribadah.

Sebutlah nama-Nya setiap saat. Ini pertanda cinta pertama untuk-Nya. Ini adalah cara menghadirkan-Nya ke alam bawah sadar kita. Dari sini akan tumbuh adanya rasa bergantung hanya kepada-Nya. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin-Nya. Manfaat dan mudarat segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi tanpa kendali-Nya.

Mulai dari tindakan yang masuk akal. Awali dengan menyebut nama-Nya. Kerahkan segala anugerah potensi diri untuk mengabdi kepada-Nya. Akan ada pertarungan antara kebaikan dan keburukan. Aneka ujian akan bermunculan. Dalam bentuk yang tidak menyenangkan manusia. Seperti rasa cemas berkurangnya harta, rasa lapar, ataupun segala musibah yang telah menimpa. Adakah kesabaran akan timbul. Ujian dalam bentuk kesenangan, laki-laki terhadap perempuan, kesukaan terhadap perhiasan emas, kendaraan dan banyak lagi. Pahami dengan nalar bahwa dengan menyebut dan mengingat-Nya adalah mencari jawaban atas segala ujian.

Berhenti bermohon kepada-Nya tanda kesombongan. Adakah yang patut disombongkan? Harta, pangkat, jabatan, atau apa saja yang ada pada kita saat ini akan hilang. Kapan saja atas kehendak-Nya. Dia berhak penuh memaafkan sekaligus memberi azab hamba-Nya. Dia berkuasa atas segala sesuatu. Jadi jangan bosan-bosan untuk senantiasa memohon kepada-Nya. Kesombongan adalah awal kecerobohan.

Mari berseru untuk memanggil-Nya. Ia sangat dekat dengan kita. Memanggil-Nya tanda rindu untuk perjumpaan yang indah. Kapan saja kita berseru kepada-Nya Dia akan mendengar. Hanya Dia Yang pantas untuk disembah dan dimintai pertolongan. Ustaz Adi Hidayat ketika seorang hamba membaca iyyaka na’budu wa iyyaka nastaiin, Dia akan menjawab “ Ini janji-Ku dengan hambaku, Aku akan kabulkan segala permintaannya.” Gusti Allah tidak tidur, jangan bosan-bosan untuk memohon. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng, 19 Januari 2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *