Oleh: Moh. Anis Romzi

Yang namanya masalah jika diselesaikan dengan emosi (baca; marah) yang ada tambah rumit dan menjadi-jadi.

Jangan marah! Pesan nabi pada umatnya. Sebuah larangan terhadap keadaan diri. Marah adalah sifat di mana pelakunya tidak senang terhadap sesuatu. Marah membuat sesuatu yang seharusnya mudah terasa sulit. Akan ada rasa tertekan jika persoalan dipandang dengan rasa marah. Rasa inilah pemutus silaturahmi yang tajam. Pun marah dapat menjadi salah satu penghalang tumbuhnya keimanan (Ismail Nawawi:2008).

Kepala boleh panas, tapi hati harus selalu dingin. Saat kita melihat masalah, kemudian menyelesaikannya secara dingin akan banyak manfaat yang mengikuti. Sebuah petikan tulisan dari Syifa Amin Widigdo, seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Mata Marah dan Mata Rahmah.  Saya telah berizin menyonteknya via komentar di status facebooknya. Ia mengizinkan. Sebaiknya pandanglah segala sesuatu dengan mata Rahmah. Kasih sayang kepada semua akan membawa kebaikan.

Namanya hidup pasti ada permasalahan. Marah berhubungan dengan perasaan. Ia bersemayam di hati manusia. Hati tempat sang manusia memutuskan permasalahan. Apabila pengambilan keputusan didasarkan atas rasa marah, tidak akan menyelesaikan masalah. Justru akan bertambah rumit. Ada yang mengganjal saat kemarahan menjadi dasar dalam memutuskan. Apalagi bila keputusan itu berhubungan dengan orang lain.

Hindari mengambil keputusan saat Anda marah. Menurut Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdy:1994,407-410) dalam kitab Tanwir al-Qulub fi Mus’mmalati’ allah al-Guyub, Via Ismail Nawawi 2008,161. Ada tujuh kategori nafsu (jiwa) dan karakteristiknya. Salah satunya adalah nafsu amarah. Yakni jiwa yang belum mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, belum memperoleh tuntunan, belum menentukan mana yang harus dilakukan dan mana yang harus tidak dilakukan, nafsu ini mendorong pada perbuatan jelek. Dari sini dapat ditarik simpulan bahwa marah mengarahkan kepada kejelekan.

Lebih lanjut karakteristik dari nafsu Ammarah antara lain; kikir, materialistik, dengki/iri hati, susah menerima kebenaran, keinginan untuk melanggar syariat,, merasa diri besar, dan marah karena hawa nafsu. Akan ada yang dilanggar saat memutuskan sesuatu dalam keadaan marah. Masalah semakin rumit bila diselesaikan dengan kemarahan.

Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Perlu cara pandang positif atas segala masalah. Kebalikan dari marah adalah ketenangan. Di dalam ketenangan jiwa melahirkan sikap dan perbuatan yang baik. Jiwa yang tenang akan mendapatkan tuntunan dan pemeliharaan. Dalam ketenangan ada hal-hal baik seperti: tidak kikir, tawakal, ibadah, syukur, reda, dan takut mengerjakan maksiat( Ismail Nawawi:2008,164). Tenangkan hati dalam mencari solusi permasalahan. Insyaallah ada jalan keluar.

Pengendalian diri terhadap marah adalah kunci. Begitu pentingnya hal ini, nabi mengajarkan tuntunan dalam melakukannya. Jika Anda marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika marah dalam keadaan duduk maka berbaringlah, jika masih marah maka berwudulah, salat adalah langkah terakhir mengendalikan kemarahan diri. Ulangi salat lagi dan seterusnya.

Tetap tenang, bagaimanapun kondisinya. Tenang bukan berarti lambat. Ketenangan adalah akumulasi dari beberapa karakteristik kebaikan. Mulai dermawan, tawakal, ibadah, syukur, reda, dan takut berbuat maksiat kepada-Nya. Mereka akan secara otomatis membimbing apabila kita biasa mengoperasikan di dalam kehidupan. Ketika ketenangan telah menjadi kebiasaan segala keputusan yang dihasilkan akan membawa manfaat lebih panjang. Kebaikan akan bertambah.

Selesaikan masalah dengan kecerdasan.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 16 Januari 2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *