Oleh: Moh. Anis Romzi

Sewajarnya saja, tidak perlu terlalu banyak tingkah dan macam-macam. Hidup yang baik itu berguna bagi sesama.

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain(al-Hadits). Pesan dari Baginda bahwa hidup tidak sekadar melewati waktu tanpa guna. Hidup ini dianugerahkan ada pertanggung jawabannya. Tugas dalam hidup adalah pengabdian. Pada masanya semua akan dihitung dalam timbangan. Isilah hidup dengan kebaikan. Inilah yang akan berbalas dengan kebaikan. Salah satu kebaikan itu adalah kemanfaatan yang dibagi kepada sesama.

Hidup adalah menuju kematian. Tidak ada yang dapat membantah dan lepas darinya. Kematian adalah pintu masuk menuju hari pembalasan. Barang siapa senantiasa mengingatnya, niscaya hidupnya disepikan dari perbuatan yang sia-sia. Kematian adalah pembelajaran. Ia dapat datang kapan saja. Siapa saja pantas mati tanpa harus menunggu umur. Di semua tempat pantas untuk datangnya kematian. Oleh karena itu, hiduplah untuk mempersiapkan kematian dan pertanggung jawaban.

Perbanyak bekal untuk menuju kampung akhirat. Perbuatan baik adalah bekal di kampung akhirat. Itu adalah satu yang pasti. Jatah umur kita telah tertulis. Namun taqdir kita tidak ada yang tahu. Kebaikan sebagai bekal harus diusahakan. Ada kepayahan untuk melakukan kebaikan. Saat kebaikan diupayakan ia bersanding dengan keburukan sebagai penggoda. Ini adalah bagian dari ujian untuk mengumpulkan bekal untuk menghadap-Nya.

Hiduplah wajar tanpa rekayasa. Tidak perlu banyak tingkah. Cukup beberapa tingkah untuk kepentingan mengabdi kepada-Nya. Makna wajar adalah sederhana dalam penampilan, namun hebat dalam bertindak pada kebaikan. Rekayasa hidup boleh jadi untuk mendapatkan pujian dari sesama. Penilaian dan pujian dari manusia tidak akan bernilai pada hari perhitungan. Banyak bertingkah dan berulah negatif akan kembali kepada pemiliknya

Beberapa mencipta sensasi agar diakui yang lain. Ini adalah penyakit hati kekinian, saya menyebutnya. Bahaya dari penyakit ini adalah gagalnya kebaikan untuk mendapatkan balasan dari-Nya. Di tengah era keterbukaan informasi seperti ini jamak terjadi pencari sensasi. Bahkan ada yang cenderung tidak terpuji. Norma kehidupan diabaikan. Popularitas dijadikan tujuan. Ada yang tidak tepat dalam hidup ini, andai sensasi dijadikan pijakan.

Pikirkan kekurangan diri, dan perbaiki. Hidup sederhana tidak mengurangi makna. Biasa saja, sudah ada Yang menuntun. Tidak ada yang kebetulan dalam kehidupan ini. Semua dalam kendali-Nya. Tugas kita hanya beribadah untuk-Nya. Sisanya biar Ia yang menentukan. Kesempurnaan hanya milik-Nya. Daya dan kekuatan ada dalam kekuasaan-Nya. Teruslah berbuat baik. Walaupun sedikit ia tidak akan pernah hilang.

Hidup terbaik adalah bermanfaat bagi yang lain. Jika pun belum bisa, tetaplah berusaha.  Kuatkan niat untuk disandarkan kepada-Nya. Manusia terbaik adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng, 10 Januari 2021 (Pray for Sumedang Landslide, Pray for Sriwijaya Flight Lost SJ 182)

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *