Oleh: Moh. Anis Romzi

Ketenteraman hati itu bukan karena banyaknya harta. Tetapi karena rasa ikhlas dan reda atas pemberian Yang Maha Kuasa.

Ketenangan hati banyak dicari manusia. Aneka cara ditempuh untuk mendapatkan ketenteraman hati. Ada yang pergi ke tempat hiburan. Ada yang naik ke puncak gunung. Pergi ke tempat rekreasi, pantai, atau apa saja. Tiada lain tujuannya adalah ketenangan dan ketenteraman hati. Pada akhirnya untuk mendapatkan yang namanya ketenangan hati perlu banyak biaya. Manusia rela berkorban untuk mendapatkan ketenteraman hati.

Sebagian berprasangka bahwa harta yang banyak adalah penyebab tenteramnya hati. Demi harta banyak yang rela mengorbankan apa saja. Bahkan tidak sedikit yang harus melawan bahaya semata mendapatkan harta. Banyak harta dapat menjadi sumber ketenangan. Kira-kira inilah tujuannya. Semua bisa diganti, dibeli dengan harta. Faktanya tidak seperti itu. Jika senyum dan tawa sebagai tanda tenteram dan bahagianya hati, di mana saja tempat dapat ditemukan. Tidak harus menunggu banyaknya harta.

Ketenangan, ketenteraman hati ini berhubungan dengan rasa. Itu bisa sangat subyektif. Seperti nilai mata uang, bagi si kaya sepuluh ribu sangat sedikit. Tidak demikian bagi si miskin. Keduanya boleh jadi dapat menemukan ketenteraman, ataupun sebaliknya. Sepuluh ribu akan mendatangkan ketenteraman karena telah mencukupkan keperluan si miskin saat itu. Di lain sisi sepuluh ribu tidak berarti banyak bagi si kaya. Itu adalah generalisasi subyektif. Pemilik ketenteraman adalah empunya hati.

Sumber ketenangan dan ketenteraman hati itu ikhlas. Kata benda untuk makna ketulusan. Saya memaknai ikhlas sebagai  kebaikan yang dilakukan berulang-ulang. Sampai sang pelaku lupa telah berapa kali melakukannya. Akhir dari ketulusan adalah upaya menuju reda-Nya. Ia hanya menghendaki kebaikan. Ikhlas bukanlah sekadar kata melainkan tindakan. Untuk menuju ikhlas dapat dilakukan dengan pelatihan. Ini dapat  menjadi pembelajaran bahwa ketenteraman hati ada riyadlahnya.

Kerelaan atas pemberiannya adalah tujuan hidup. Sebagian dari bisa jadi tidak menyadari. Sejatinya selalu ada nikmat yang diberikan kepada kita. Ukuran dalam bentuk materi sering menjadi patokan. Kehidupan adalah nikmat yang tidak terhitung. Ini adalah kesempatan untuk berbakti dan mengabdi pada-Nya. Ia sudah sangat banyak memberikan nikmat itu. Rela kita atas pemberiannya adalah jalan menuju ketenteraman hati. Tidak perlu diukur lagi, karena memang sudah tak terukur. Relakan apa saja pada pemberian-Nya.

Harta adalah sarana bukan tujuan. Seperti sebuah perjalanan, harta adalah bekal di sini saja. Ia dapat terhenti di sini(baca; dunia).  Namun pula dapat berlanjut mendampingi sampai hari akhir. Harta dapat menjadi pemberat timbangan kebaikan sekaligus keburukan. Siapa saja yang berat timbangan baiknya, maka dia akan hidup dalam Keredaan-Nya. Harta di dunia bergantung pada empunya bagaimana dibelanjakan. Belanja terbaik adalah berinfak di Jalan-Nya.

Syukur dan  qonaah jalan menuju tenteramnya hati. Ismail Nawawi(2008, 234) menurut Hamdun al-Qashar yang dimaksud dengan mensyukuri nikmat adalah memperhatikan dirinya meskipun tidak diundang. Menurut Syibli yang dimaksud dengan syukur adalah memperhatikan Dzat yang memberikan kenikmatan, bukan kepada kenikmatannya. Sedangkan qonaah adalah perasaan cukup atas segala pemberian-Nya. Keduanya syukur dan qonaah adalah jalan menuju tenteramnya hati.

Bukan banyaknya harta sumber ketenteraman hati. Namun ketulusan dan kerelaan menerima pemberian-Nya adalah sumbernya.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 9 Januari 2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *