Oleh: Moh. Anis Romzi

Sekeras-kertasnya orang tua, se cerewet-cerewetnya orang tua, hanya ingin anaknya menjadi orang yang mengerti.

Berbahagialah jika saat ini Anda masih memiliki orang tua. Mereka adalah tempat pengabdian terbaik kedua setelah kepada-Nya. Keredaan mereka setara dengan reda Allah. Begitupun murka mereka adalah murka-Nya. Tingginya derajat orang tua untuk tempat berbakti menunjukkan betapa besar kedudukan orang tua dalam kehidupan. Tidak perlu dihitung lagi seberapa besar jasa orang tua kepada kehidupan kita. Bahagia bersama orang tua tanda kesyukuran yang akan dibalas dengan kebaikan yang lebih banyak.

Adakalanya orang tua sangat keras ketika mengajarkan sesuatu kepada anaknya. Mereka menginginkan hanya yang terbaik untuk putra-putrinya. Beberapa orang lain bisa menganggapnya sebagai sebuah kekejaman. Kembali bahwa cita-cita setiap orang tua pasti menginginkan putra-putrinya lebih baik dari mereka.

Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak sukses.  Ada sebuah kisah inspiratif dari dr. Gamal Albinsaid. Seorang dokter muda peraih penghargaan internasional di usia yang sangat muda. Ia bercerita bagaimana peran besar kedua orang tuanya atas kesuksesannya. Ibunya rela membantu mengerjakan tugas menulis essay untuk masuk sekolah favorit. Ayahnya rela meminjam mesin ketik dari tempat bekerja. Semua dilakukan untuk keberhasilan putranya.

Lebih jauh setelah Gamal dewasa. Ibunya bertekat menempuh pendidikan S1 tafsir. Sang ibu berniat memahami bacaan salat. Ia ingin saat anaknya ujian, atau sedang presentasi ia sedang berada di atas sajadah mendoakan keberhasilan anaknya. Saat ini Gamal menjadi salah satu inovator internasional bidang kesehatan dan enterpreneur sosial. Saya percaya karena doa orangtua yang dikabulkan Allah dr. Gamal sukses seperti sekarang ini.

Kewajiban orang tua menurut Islam terhadap anak ada tiga. Pertama memberikan nama yang baik, kedua mendidiknya, menikahkan jika anaknya perempuan.( hadits nabi Muhammad). Tiga kewajiban yang terkadang dalam pelaksanaannya berbeda. Saat memberi nama yang baik  misalnya, ada kecenderungan banyak orang tua mengambil berdasarkan tontonan. Kewajiban kedua yakni mendidik, orang tua juga terkadang abai. Semua urusan pendidikan, serahkan saja pada lembaga pendidikan. Banyak yang tidak menyadari bahwa peran keluarga penting pada pendidikan anak.

Dalam mendidik anak acap kali keras. Bahkan secara kasat mata terlihat menyakiti. Ada ungkapan lain dalam terminologi Jawa ‘Tego larane ora tego patine’. Sebuah ungkapan beberapa praktik pendidikan orang tua terhadap anaknya kini. Namun dari sini pitutur ini ingin menyampaikan bahwa kalau ada orang tua yang keras, cerewet dalam mendidik, semuanya demi kebaikan. Agar anaknya njowoni. Ini berarti agar mereka mengerti pada kehidupan.

Karakteristik orang tua dalam mendidik anaknya beragam. Ada yang lembut, peduli, dan ada pula yang keras. Ini bergantung kepada watak personal. Namun sejalan dengan majunya pendidikan, teknologi peran orang tua dalam mendidik anak tidak tergantikan.

Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Di mana bapak, ibu dan anak adalah anggota inti. Keluarga yang baik insya Allah akan menghasilkan pendidikan yang baik. Saat mereka memasuki lembaga pendidikan formal akan terlihat kapasitas keluarga dalam mendidik putra-putrinya.

Harapan setiap orang tua anaknya menjadi saleh, berbakti kepada kedua orang tua, agama, dan bangsanya. Namun mewujudkan harapan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Terkadang dengan cara yang galak, cerewet, bahkan terlihat kejam. Namun semuanya untuk harapan terbaik agar anak-anak njawani.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 7 Januari 2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *