Pitutur Jawa Tentang Kehidupan (1):Landepe Roso Ora Kanggo Ngiris Atine Wong, Landepe Pikiran Ora Kanggo Nugel Aji Dirine Wong Liyo
Oleh: Moh. Anis Romzi

Secara tidak sengaja saya membaca-baca akun facebook. Saya melihat sebuah video yang dibagikan akun bernama Raden Singgih Pramana Putra. Saya tertarik dengan judul video yang bertuliskan pitutur Jawa tentang Kehidupan. Saya tidak tahu yang membuat. Saya hanya tahu yang mengunggah di facebook dan saya melihatnya pertama kali. Ini menarik untuk saat sekarang. Mulai banyak yang kehilangan ‘obor’.
Karena tertarik dengan video itu saya menyimpannya di akun saya. Kadang-kadang memang saya membuka untuk mencari informasi. Apasaja yang penting bermanfaat untuk saya pada awalnya. Ada naluri yang saat ini saya meyakininya. Bahwa jika manfaat itu disebarkan akan membawa manfaat yang lebih besar. Semoga ini bermanfaat bagi pembaca. Itu doa saya. Pun bukan bermaksud menggurui. Karena semua adalah guru, semua adalah murid, dan semua sedang belajar.
Satu-persatu saya mengamati pitutur itu. Terbersit di pikiran saya untuk menuliskannya ulang. Kemudian memaknai nya untuk para pembaca. Saya berizin kepada pengunggah video. Namun sampai saat tulisan ini dibuat masih belum mendapatkan tanggapan. Saya akan tetap menulis karena sudah menyebutkan sumber tulisan yakni pengunggah video tersebut. Ada banyak kalimat yang mengundang penafsiran.
Ini akan menjadi beberapa bagian dalam tulisan. Ini adalah yang pertama.
Landepe Roso Ora Kanggo Ngiris Atine Wong, Landepe Pikiran Ora Kanggo Nugel Aji Dirine Wong Liyo.(Kebijaksanaan bukan untuk menyakiti hati orang lain. Kecerdasan pikiran (nalar) tidak untuk merendahkan harga diri orang lain)
Tajamnya perasaan bukan untuk menyakiti hati orang lain. Ini berhubungan dengan kecerdasan spiritual. Tajamnya rasa juga dapat bermakna dengan kebijaksanaan. Dalam KBBI V kebijaksanaan merupakan kata benda yang berarti kepandaian menggunakan akal budinya ( pengalaman dan pengetahuan). Pitutur atau nasehat ini dimaksudkan bagi pembijak. Jangan sekali-kali kecerdasan pengetahuan, akal dan budi digunakan untuk merendahkan orang lain.
Kepekaan hati dan sensitivitas dapat juga disandarkan kepada tajamnya rasa. Ini dibentuk dari rangkaian pembelajaran. Seseorang yang sampai pada tahap ini telah melewati belajar sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Keterampilan di sini adalah terampil dalam berpikir dan bernalar. Sensitivitas biasanya dimiliki oleh orang dewasa. Namun tidak selalu. Dewasa dalam pengertian pikiran bukan umur dalam hitungan angka.
Tajamnya pikiran (saya menerjemahkannya dengan kecerdasan pengetahuan) tidak untuk merendahkan orang lain. Beberapa dari kita adakalanya merasa lebih tinggi dari yang lain. Ketika ini ada dalam diri, maka kesombongan keluarannya. Kesombongan ini akan mengantarkan empunya pada kesengsaraan. Jika Anda diberi anugerah kecerdasan lebih dari yang lain, bersyukurlah.
Kecerdasan itu beraneka ragam. Dalam konteks pendidikan jamak disebut dengan kecerdasan majemuk. Teori Gardner menyatakan bahwa ada setidaknya delapan kecerdasan. Setiap manusia memiliki kecerdasan sejatinya. Namun beberapa masih sulit menemukan potensi kecerdasan dalam dirinya. Ketika potensi kecerdasan itu muncul biasanya ia menjadi unggul pada kecerdasan tertentu. Nah keunggulan kecerdasan ini apabila salah guna akan membawa dampak negatif. Keunggulan terkadang membawa kesombongan.
Kebijaksanaan penting untuk dimiliki. Maka belajarlah untuk menjadi bijak. Pertinggi rasa pada alam dan manusia di sekitarnya. Pertajam rasa untuk menjadi dewasa. Ini karena semakin tinggi rasaku semakin luas pandanganmu. Ingat, tetapi tidak untuk mengiris (baca; menyakiti) yang lain.
Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. Ahad, 27 Desember 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *