Perjalanan
Oleh: Trisniati

Lagi-lagi langit gelap, awan hitam dengan cepat berarak ke utara terbawa angin laut yang cukup kencang. Pukul 13.00 WIB siang ini sudah seperti petang hari. Nadia menghambur ke parkiran sepeda motornya, ia kancingkan helm bogi warna cokelat kesayangannya dengan segera. Kaki kanannya pun dengan sigap menghidupkan mesin dan sekejap saja deru sepeda motor biru itu menggema di halaman. Tanpa basa-basi lagi, ia melenggang keluar area sekolah dengan mulut komat-kamit bagai mbah dukun yang sedang baca mantra. Tangannya gemetar melihat spidometernya bergerak semakin ke atas, ia melaju dengan kecepatan yang belum pernah ia lakukan. Tanpa sadar kini ia sudah melewati hutan jati dan titik-titik hujan pun mulai ikut meramaikan hati dan pikirannya, ia tak ingin lagi terjebak hujan di dalam hutan. Tanpa melihat situasi dan kondisi sekitar ia terus menarik stang kemudi sampai “notok” alias gaspol. Dan yang ditakutkanpun terjadi, air langit itu mulai berdemo dan menari-nari di jalanan berlubang, membuat Nadia tak bisa lagi berkutik selain tetap menjaga keseimbangan agar tetap berada di atas roda dua. Sungguh di luar dugaan, siang bolong ini ia harus melewati wisata alam gratis sepanjang 15 kilometer dari tempat berdinas ke tempat penyetopan bis menuju pulang.
Benar seperti prediksinya, pasti hari-hari berat seperti ini akan ia lalui ketika ia mengambil keputusan untuk “Nyolok” alias pulang pergi tiap hari lintas kabupaten dalam satu pulau itu. Ia hanya yakin saja, bahwa Allah akan selalu memberikan perlindungan bagi setiap hambaNya. Separuh perjalanan sudah ia lewati dengan penuh strategi dan perjuangan, tubuhnya kini sudah kuyup, tak ada lagi yang selamat dari guyuran hujan lebat nan menggebu-gebu itu. Hatinya sudak tak karuan ingin berteriak meminta pertolongan.
Perlahan roda sepedanya mulai menapaki jalanan licin dan terjal penuh lumpur di hadapannya, sampai pada akhirnya ia melihat jalanan yang tertutup rata dengan air warna cokelat hampir sebetis itu. Sudah dpastikan ia tak bisa lagi menaklukan danau dadakan di depannya ini. Apa yang harus ia lakukan, bagai buah simalakama, kalau ia memaksakan diri menerobos banjir itu, maka dipastikan sepeda motornya akan mogok karena menggigil. Namun, kalau ia tetap diam dan terpesona dengan keadaan? Ia tentu tak berkutik berada di tengah persawahan yang luas, sepi, dan sesekali cambuk malaikat itu terdengar di telinganya. Mengerikan batinnya, seluruh bacaan-bacaan yang ia pelajari dari kecil sudah ia lantunkan. Semua doa-doa keselamatan sudah ia gemakan sepanjang jalan. Tetap saja tak bisa membuatnya yakin untuk melintasi genangan air bah yang berarus itu, ia takut karena ia tahu pasti bahwa banyak lubang-lubang besar nan dalam sedang menantinya disana. Ia teringat kedua buah hatinya di rumah yang sudah menunggu kedatangannya, suami tercintanya yang pasti sudah sangat mencemaskannya. Ah, seketika itu pula pipinya basah bukan karena air hujan, matanya berkabut, kacamatanya berembun. Dan tiba-tiba sepeda motornya tak bisa dihidupkan, ia tarik gas di tangan kanannya yang membuatnya semakin panik. Ia ingin meminta bantuan tapi tak satupun ada manusia . Tiba-tiba motornya oleng dan ia linglung, semua terasa gelap dan dingin. “ Nad, bangun. Sudah hampir subuh, kamu gak masuk lagi hari ini?” suara suaminya mengusiknya pagi ini, ia mengerjap dan mengusap mukanya kasar dan beristighfar. Wealah mimpi buruk ternyata pemirsah. Peace…
Pentigraf2_April2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *