Oleh: Triznie Kurniawan

Sore itu matahari terburu-buru tenggelam ke tempat peraduannya. Langit gelap, rintik hujan mengguyur kota sejuta kenangan. Selepas berdinas, seperti biasa Nadia masih menunggu imam dunia akhiratnya keluar kantor di ujung kota. Kali ini Nadia tak berhenti di swalayan favoritnya, di sebelah rumah sakit umum daerah. Ia tak bisa berhenti karena hujan semakin deras dan membuat jalanan kota itu terendam. Di atas becak kayuh yang masih banyak beroperasi di kota ini, kedua bola matanya intens menatap Mbah Duro yang masih tetap semangat menawarkan dagangannya, kepada pengendara yang berhenti di perempatan lampu merah. Bahkan di tengah ribuan bulir hujan yang cukup menusuk sore ini, beliau tetap kukuh mengangkat mainan yang terbuat dari bambu yang berwarna warni itu. Tentu saja untuk ditawarkan kepada siapa saja di depannya.

Setelah sampai di depan kantor suaminya, Nadia berteduh dan enggan masuk ke dalam dengan alasan tetap ingin melihat Mbah Duro. Perasaan iba dan malu terus menyelimuti hatinya sejak tadi. Malu akan dirinya yang kadang masih mengeluh karena kecapekan setelah seharian di jalanan. Pertanyaan mulai berdatangan di kepala Nadia, bagaimana dengan keluarganya? Apa memang dia benar-benar sebatang kara dan tak ada yang mau merawatnya? Seperti yang Mbah Duro ceritakan pada wartawan kota yang mengabadikannya melalui vlog channel youtube sebulan lalu.

Pernah Nadia membeli tiga mainan sekaligus hanya karena ia merasa iba. Sudah hampir dua bulan ini, Mbah Duro menjadi penghuni setia perempatan itu. Sembari memasang mantel plastik dan helm, di atas sepeda motor suaminya. Nadia memiringkan kepalanya ke kiri melihat wajah keriput yang sudah tak seharusnya lagi berada disini. Pikiran Nadia mulai terenyuh, mengingat Almarhum bapak di kampung. Di zaman yang semakin maju ini, miris sekali masih banyak anak yang sengaja menelantarkan orangtua kandungnya. Tak jarang Nadia melihat sosok seperti Mbah Duro di jalanan kota sepanjang ujung pulau ini. Ia merasa menjadi bagian dari pelukis masa depan yang gagal, membentuk karakter akhlak mulia dan berbudi pekerti terhadap orangtua. Nadia memicingkan kedua netranya pada sebuah mobil di tepi jalan yang mereka lewati. Dalam mobil tersebut sekelebat Nadia melihat setumpuk mainan serupa milik Mbah Duro. Di tengah guyuran hujan, Nadia menganga ketika dia turun dari boncengan suaminya dan mendengar percakapan beberapa orang. “Tolong jangan lagi mengganggu kami mbak!” Suara lelaki itu membuat Nadia kaget, karena mbah Duro nyatanya sedang syuting pembuatan film dokumenter yang dibiayai oleh pemerintah. Anak-anaknya adalah para wakil rakyat yang kini menjadi bagian dari negara. Oh sungguh benar, dunia ini adalah panggung sandiwara. #Pentigraf1_April_2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *