Oleh: Moh. Anis Romzi

“ Apa pekerjaanmu?”

“Penulis, sebenarnya mau jurnalis.”

“Ooh, Pahlawan kertas putih.”

Sebuah dialog dalam film yang berjudul Jexi. Dialog yang menyiratkan betapa seorang penulis masih belum bisa percaya diri. Memang profesi penulis memerlukan perjuangan yang panjang. Tidak banyak yang mampu istikamah menekuni profesi ini. Banyak orang masih menjadikannya sampingan. Termasuk saya. Sebuah cita-cita, termasuk penulis mungkin belum bergengsi di negeri +62 ini. Namun bukan tidak mungkin. Banyak penulis tanah air telah mampu membuktikan bahwa mereka benar-benar pahlawan kertas putih.

Penulis adalah mereka yang enggan melihat kertas putih. Atau dalam konteks kekinian ada yang menyebut blank document. Mereka yang tergerak jiwa menulisnya akan buru-buru menorehkan tinta di atas kertas putih itu. Atau segera membuat dokumen judul saat ada kesempatan. Aneka gagasan akan deras mengalir melalui jemari mereka. Tidak peduli apresiasi, bagi penulis sejati terpenting adalah gagasan tersampaikan. Kertas putih akan menjadi saksi perjalanan sang penulis. Jadi siapa saja yang rela mengisi kertas putih dengan kata, kalimat dan paragraf bermakna ada hak untuk menyebut dirinya penulis.

Sebuah profesi yang tidak mengenal kata pensiun. Ia hanya membutuhkan tekat yang kuat dan tindakan nyata. Menulis tidak mengenal usia dan jangka waktu. Profesi ini bisa dimulai dan diakhiri kapan saja. Siapapun Anda berpeluang menjadi pahlawan kertas putih. Gunakan waktu yang dianugerahkan kepada kita untuk kebaikan, menulis salah satunya. Banyak yang bisa dibagi lewat tulisan. Walaupun tidak bisa menyenangkan semua orang.

Penulis sejati menulis sebagai sarana aktualisasi diri. Ini bagian dari menyampaikan gagasan dan suara hati. Dalam setiap tulisan sejatinya ada gembira, duka, semangat, data, niat, tips, dan masih banyak lagi. Semua dapat abadi bila terukir dalam untaian abjad, kalimat,dan paragraf sang penulis.

Pahlawan kertas putih itu menebar manfaat lewat rangkaian abjad. Ia berpikir, dan mewujudkannya dalam tulisan. Di atas lembaran-lembaran kosong menjadi berwarna. Warna-warni ide, cerita, bahkan imajinasi ada. Pahlawan kertas putih teruslah menggerakkan jemari dan pena untuk generasi bangsa.

Jika ingin hidup dalam hidup menulislah. Bahkan boleh jadi Anda akan tetap hidup dalam kematian karena tulisan yang pernah Anda buat. Fakta bahwa seseorang abadi karena tulisan sangatlah banyak. Mereka telah menjadi pahlawan. Bagi yang muslim pasti mengenal Imam Bukhari, Imam Syafi’i, Imam Ghazali, Ibnu Katsir. Nama-nama mereka harum karena karya tulisnya semasa hidupnya. Mereka tetap hidup dalam wafatnya. Mereka telah mengisi hidup dengan kebaikan yang terekam dalam tulisan.

Mereka yang menulis adalah pahlawan abadi. Jika pun saat ini belum terkenal, bagi yang konsisten melakukan aktivitas menulis lambat laun akan dikenal. Waktu akan setia mencatat torehan kata yang pernah Anda tuliskan. Jika saat ini Anda sudah menulis, Teruslah! Bagi yang belum mulailah, karena waktu tidak akan menunggu. Penulis terbaca jejaknya karena karyanya. Itu akan abadi membawa nama Anda. Bahkan saat Anda tidak di dunia ini lagi.

Ayo menulis untuk generasi bangsa. Jejak-jejak literasi perlu ditanam. Ini dimaksudkan agar ada jembatan masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Mereka yang menulis punya andil besar pada peradaban bangsa. Bagi pahlawan kertas putih, jangan menyerah. Tidak akan ada yang sia-sia dalam kebaikan. Dia tidak pernah tidur. Semua dalam pengawasan-Nya. Semua hamba akan diminta pertanggung jawaban. Lakukan sekarang tanggung jawab Anda. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 1/2/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *