Oleh: Moh. Anis Romzi

Terhitung Mulai Tanggal 1 februari 2021 tatap muka terbatas dimulai lagi. Setelah awal tahun dan awak semester genap tertahan. Laporan satgas penanganan covid-19 merilis daftar persebaran kasus. Jaya Makmur tempat SMPN 4 Katingan terdampak. Belajar dari rumah satu bulan penuh diputuskan. Oleh-oleh libur semester dan pilkada Kalimantan Tengah. Rilis data per 29 Desember 2020 SMPN 4 Katingan Kuala harus BDR lagi.

Masih ragam soal Belajar Dari Rumah. Sedikit catatan beberapa peserta didik terpantau kurang, bahkan tidak aktif. Komite sekolah, tokoh masyarakat, dan pengeloa sekolah duduk satu meja untuk mengevaluasi bersama. Paritisipasi masyarakat yang luar biasa dalam mendukung kemajuan pendidikan di pedesaan ini. Masalah dalam pembelajaran daring itu ada. Harus diakui bahwa maju teknologi informasi masih belum menggeser pembelajaran tatap muka.

Harapan mendapatkan pendidikan seperti hampir satu tahun silam kembali. Banyaknya keluhan kapan kembali tatap muka belum berhenti mengalir. Banyak orang tua merasa kelelahan mendampingi putra-putrinya belajar dari rumah. Penguasaan teknologi komunikasi pada gawai android salah satunya. Orang tua, wali yang mayoritas para petani dan peladang kebingungan saat harus memantau apa yang dilakukan anak-anaknya di rumah.

Sekolah yang sejak dua bulan kembali diam. Kini terlihat ada geliat kegiatan pembelajaran walaupun terbatas. Pembatasan waktu, mobilisasi peserta didik, dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan harus ditegakkan. Upaya pencegahan pastinya lebih murah daripada pengobatan. Inilah terkadang menjadi dilema satuan pendidikan. Semangat belajar tatap muka begitu terasa.

Asa dari bangku-bangku kelas. Para peserta didik, orang tua, masyarakat masih menaruh harapan besar pada SMPN 4 Katingan Kuala. Ini adalah peluang sekaligus tantangan bagi semua. Kepercayaan adalah benda berharga yang tak ternilai. Tanpa kepercayaan masa depan akan habis di sini. Kelas-kelas masih memanggil untuk menghantarkan masa depan. Semoga waktu yang dipadatkan memberi makna lebih pada pembelajaran. Semangat perbaikan terus-menerus tidak boleh padam.

Tanya setahun lalu, apa hasilnya belajar dari rumah? Selalu ada jawaban baik dan buruk. Sisi-sisi baik pembelajaran dari rumah bahwa ada hubungan emosional yang meningkat antara orang tua dan anak. Para orang tua setidaknya dapat merasakan menjadi guru bagi anak-anaknya sendiri. Ini adalah pengalaman baru. Semua perlu belajar beradaptasi pada perubahan. Kemampuan beradaptasi cepat membuktikan keberadaan warga satuan pendidikan.

Rumah masihkah menyenangkan sebagai tempat belajar. Orangtua kesulitan mengidentifikasi antara proses belajar dan bermain pada kegiatan BDR. Mereka belum cukup memahami perubahan teknologi informasi yang begitu cepat. Kontrol orangtua menjadi sangat kurang terhadap anaknya. Ini bukan karena tidak mau, tetapi belum tahu. Seyogianya para orang tua juga perlu belajar. Namun desakan kebutuhan ekonomi hampir pasti menjadi penghalang. Kehadiran sekolah masih sangat diperlukan.

Teknologi informasi masih sebatas hiburan. Di kalangan peserta didik hari ini permainan daring masih menjadi primadona. Tidak semua memang, namun berdasarkan observasi sederhana ditemukan, mayoritas peserta didik putra khususnya lebih bersemangat pada game online dari pembelajaran daring yang diselenggarakan melalui Whatsapp grup kelas. Tantangan untuk para pendidik untuk berinovasi dalam pendidikan. Sementara permasalahan selesai, namun belum sembuh benar.

Paska BDR-2 SMPN 4 Katingan Kuala masih penuh asa. Geliat warganya masih ada dan menyala terang. Harapan menghidupkan semangat untuk pendidikan. Tidak perlu jauh, bermanfaat bagi anak-anak usia SMP di desa pedalaman Katingan, Kalimantan Tengah. Desa Jaya Makmur, Makmur Utama, dan Subago Kampung Tengah Kecamatan Katingan Kuala.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 4/2/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *