Deru angkutan kota dalam provinsi kali ini terdengar merdu, entah apa karena hati sedang terbang ke awan, atau karena badan benar-benar tak ada yang dikeluhkan. Nadia sangat segar pagi ini setelah beberapa hari terbaring tak berdaya. Iya, Nadia masih beruntung bisa berangkat melukis masa depan bangsa pagi ini, setelah beberapa hari lalu hanya bisa terbujur kaku di pembaringan. Sawah yang mulai basah dan siap diolah tampak indah sepanjang jalan. Trotoar pagi ini sangat teduh dan bersih setelah dibelai mesra rintik semalam. Sederhana, namun penuh makna, begitu lah hujan menyuarakan kasih sayang pada bumi. Romantis, seperti mentari yang selalu hadir membersamai hari. 

Ah, tiba-tiba seorang renta menyetop angkutan dan dengan gemetar menginjakkan kakinya ke dalam. Sekeranjang buah sawo dan beberapa barang tertata rapi di pangkuannya. Nadia melirik dan mencoba mengamati wajahnya. Oh betapa beruntungnya Nadia karena masih diberi kesempatan menghirup udara pagi tanpa banyak beban, tak seperti yang tergambar oleh guratan pada wajah seorang yang kini duduk tepat di depannya. Berkali-kali dia mengingatkan kernet agar diturunkan di Pasar sebuah desa yang cukup ramai. “Tanah Merah yeh Nak, jek telambes leh yeh” (Tanah Merah ya Nak, jangan sampai kelewatan loh ya) ujarnya meyakinkan sopir dan asistennya. 

Sebuah pasar yang terkenal ramai dan selalu macet saat Melintasi ya sudah tampak riuh, pedagang buah berjejer di tepi Jalan raya, kendaraan memarkir sembarangan membuat semakin lambat saja perjalanan kali ini. Belum lagi para pedagang beras dan unggas yang tak pernah tahu kapan mereka bisa diatur dan ditata dengan rapi. Supir mulai melambatkan laju kendaraan dan si nenek diarahkan untuk turun karena sudah sampai pada pesanan tujuannya. Namun, si nenek tetap saja bergeming tak beranjak. Nadia menoleh dan mengamati kembali keadaannya, tak ada yang aneh beliau tampak sehat. Hanya saja tatapannya tampak kosong, dan berkata “Nak petoron sengkok ndek Galis yeh, jek kelopaeh leh yeh” (Nak, turunkan Saya di Galis ya, jangan lupa lo). Deg… semua penumpang kaget dan saling menatap, ada yang salah dengan si nenek. Setelah sampai Galis dia pun tak pernah mau diturunkan, dia selalu bilang akan turun di pasar berikutnya. Ternyata si nenek sudah lupa berasal dari mana dan mau kemana dirinya. Bersyukurlah ketika kita masih diberi kesehatan dan ingatan yang kuat hari Ini. 

Pentigraf biasa, terinspirasi dari kejadian nyata. 

Madura, 28 November 2020 

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *