Oleh : Yani Lestari

Hal yang kadang tidak disukai manusia adalah rasa takut . Rasa takut biasanya disebabkan oleh rasa cemas atau kegelisahan yang berlebihan. Berikut ini bagian dari cerita tentang pengalaman kami di awal tugas mengabdi kepada ibu pertiwi. Pengalaman yang diliputi oleh rasa ketakutan.

Menurut Wikipedia Indonesia

Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.

Ketakutan harus dibedakan dari kondisi emosi lain, yaitu kegelisahan, yang umumnya terjadi tanpa adanya ancaman eksternal. Ketakutan juga terkait dengan suatu perilaku spesifik untuk melarikan diri dan menghindar, sedangkan kegelisahan adalah hasil dari persepsi ancaman yang tak dapat dikendalikan atau dihindarkan.

Hari itu langit gelap karena digelayuti oleh mendung hitam, suasana pun dingin senyap diliputi oleh kabut  tebal yang enggan memudar. Biar pun keadaan seperti itu, kami tetap harus menyeberangi Sungai Barito menuju ke sekolah menggunakan Klotok. 

Sepanjang perairan pandangan gelap, Paman imi tetap mengemudikan klotoknya  berjalan menembus kegelapan . Paman Imi si pengemudi klotok hanya berbekal peluit yang dibunyikan sebagai tanda kepada sesama pengemudi klotok bahwa klotoknya sedang ada di sekitar perairan tersebut, dan lampu senter sebagai penerang meski sinarnya tak dapat menembus kegelapan karena kalah oleh kabut yang menyelimuti. Tidak ada kompas ataupun penunjuk arah lainnya yang dibawa. Lengkap sudah alasan yang membuat kami ketakutan.

Rasa takut yang kami rasakan adalah takut jika antara klotok yang satu dan lainnya saling bertabrakan, takut klotoknya terbalik, takut jika nyasar sampai ke arah yang bukan tujuan, dan rasa takut lainnya yang ada pada kami saat itu. Benar juga, klotok yang kami tumpangi tersesat. Seharusnya berjalan ke arah selatan tanpa disadari berjalan ke arah utara sampai di daerah Alalak. Sungguh 180 derajat arahnya sesat.

Beberapa saat, kami pun terdiam dengan angan dan ide-ide di kepala masing-masing. Akhirnya ada yang buka suara mengusulkan untuk balik kanan pulang karena terlalu berbahaya apabila perjalanan diteruskan.

Setelah banyak yang setuju untuk pulang, maka Paman Imi pun menjalankan klotoknya kembali menuju ke dermaga Kuin Cerucuk lagi. Benar-benar perjalanan yang diliputi rasa takut yang mencekam. Hari berikutnya jika kabut tebal melanda kami pun sudah diizinkan oleh ibu kepala sekolah untuk tidak berangkat bekerja.

Bahan Bacaan:

Wikipedia Indonesia

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *