Oleh: Moh. Anis Romzi

Tiga kata kerja untuk melahirkan produktivitas menulis. Sebuah tahapan untuk menghasilkan kreativitas menulis. Ketiganya adalah bentuk kata kerja aksi. Untuk melahirkan produktivitas maka harus dimulai dengan tindakan. Jadi menulis harus beraksi dan bertindak. Tiga kata kerja berangkai ini dapat digunakan sebagai tip untuk membuat tulisan.

Ngarti dalam arti sempit adalah kata khusus komunitas KALIMAT. Ngaji Virtual literasi pada mulanya. Setelah kegiatan ngarti dilaksanakan melahirkan banyak refleksi. Ini lahir dari para peserta ngarti yang notabene para penulis lintas profesi. Hasil dari rangkaian program KALIMAT pada 10 Desember 2020. Ini dapat diperlebar untuk menguatkan makna ngarti menjadi lebih hidup.

Sebagai kata kerja ngarti mengandung makna memahami. Itu dapat juga bermakna sebagai kata benda untuk faham. Termasuk di dalamnya mencari, mengamati, mendengar, dan membaca apa saja. Segala sesuatu yang ada di bumi adalah ciptaan-Nya. Itu banyak menyimpan banyak pengetahuan untuk dimengerti. Ngarti tidak akan pernah habis. Andai semua manusia berusaha mencari dan memahaminya. Di dalam ngarti juga mengandung makna berpikir. Hasil dari usaha ngarti diproses dalam nalar. Dalam bernalar ngarti merangkai aneka hasil. Dan pada akhirnya ngarti menghasilkan pengetahuan yang tersimpan dalam memori ingatan.

Ngarit untuk sebuah usaha mencari. Rumput umumnya hasil dari ngarit. Ini sebenarnya adakah feedback dari Pak Cah saat saya mempublikasikan tulisan Ngarti dari Sawah. “ Di sawah harusnya ngarti bukan ngarti”. Komentar Pak Cah. Saya teruskan saja di tulisan ini. Ngarit adalah mencari sesuatu yang bermanfaat. Itu adalah proses memilah dan memilih. Pengandaian bahwa tidak semua rumput bermanfaat untuk ternak. Bahkan ada yang mengandung racun. Bila sang pengarit salah pilih akan membawa dampak negatif. Ngarti adalah proses mencari sekaligus memilih yang bermanfaat dari ngarti.

Nge-write untuk menulis. Ini adalah aktivitas produksi. Ini adalah keluaran dari kedua kata kerja ngarti dan ngarti. Nge-write adalah aktivitas paripurna. Ia bisa bagian dari ngarti dan ngarti, ataupun berdiri sendiri. Sebagai sebuah aktivitas yang menghasilkan keluaran seyogianya baik. Ia diperuntukkan perkembangan peradaban suatu bangsa. Jika masyarakatnya giat melakukan tiga kata kerja ini peradaban akan terbangun.

Tiga kata kerja aktif untuk memahami, mencari dan memberi. Ia harus dilakukan berulang. Ini seperti sebuah ritual. Namun tidak wajib ya? Ingat ini adalah tips. Ngarti, ngarit, dan nge-write adalah sebuah siklus. Tidak terputus, semakin terus berputar maka akan menghasilkan energi, ide, dan semangat untuk menulis. Ketiganya berpulang pada manusianya. Apabila enggan bergerak dan beraksi tidak akan menghasilkan. Sebelum ketiga kata kerja ini diaplikasikan penting untuk kembali kepada niat awal tujuan menulis. Ngarti, ngarit, dan nge-write adalah bukti dari niat Anda.

Ajakan membangun literasi negeri lewat KALIMAT. Tulisan adalah simbol peradaban. Syaratnya hasil tulisan yang dipublikasikan harus didasari emosi positif. Itu menurut Pak Cah lagi ya. Ade Zaenudin Sang Ketua KALIMAT mengutip teori hierarchy of needs-nya Abraham Maslow bahwa motivasi tertinggi manusia adalah aktualisasi diri, jika seorang penulis motivasinya adalah untuk aktualisasi diri, bukan sekedar ingin cari penghargaan maka dalam perspektif Maslow, Penulis seperti itu posisinya lebih tinggi dibanding yang lain perihal kegiatan literasi ini. It is a big dream (sebuah mimpi besar) apabila menulis dapat menjadi sarana aktualisasi diri rakyat Indonesia. Literasi yang sudah jadi dan berkualitas.

Refleksi hari ulang tahun Pak Cah. Mentor penulis Kalimat. Pak Cah tidak hanya mengajarkan, tetapi juga meneladankan. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Barakallah fiikum Pak Cah. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 15 Desember 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *