Oleh: Moh. Anis Romzi

Sore ini habis salat ashar segera saya mencari tempat yang strategis untuk mendapatkan sinyal internet. Satu hal yang tidak biasa saya lakukan. Ini adalah karena hari istimewa bagi saya yang penulis pemula ini. Saya akan bertemu dengan guru secara langsung. Walaupun dengan media daring virtual. Pandemi dan jarak yang tidak memungkinkan pertemuannya dengan daring saja. Tidak mengapa yang terpenting adalah bertemu dengan guru dan penulis seluruh Indonesia. Muantap tenan!

10 Desember 2020 adalah jadwal Ngarti (Ngaji Virtual Literasi) hajat KALIMAT. Pertemuan penulis seluruh Indonesia. Saya adalah anggota KALIMAT dari daerah tak populer. Katingan Kalimantan Tengah tempat saya berdomisili sekarang. Ini akan menjadi hari bersejarah bagi saya. KALIMAT membuat acara istimewa untuk Pak Cah dan anggotanya. Ketua Kalimat inisiator kegiatan sekaligus moderator mantap bingit.

Dari titik ke titik dijelajahi. Hampir satu jam lebih mondar-mandir, namun belum ketemu titik yang pas. Maklum daerah pedalaman sinyal internet harga yang mahal. Bukan harga paket datanya, namun tempat yang terjangkau yang sulit ditemukan. Saya memacu sepeda motor ke persawahan sekitar 1 km dari pemukiman penduduk. Setiap seratus meter saya berhenti untuk memeriksa sambungan pada aplikasi zoom. Tulisan dilamar gawai saya preparing meeting saja. Saya tunggu beberapa saat tidak sambungan saya berpindah lagi.

Serombongan ibu-ibu buruh tandur pulang dari sawah. Mereka heran menatap saya keliling dari sawah ke sawah. Sebagian besar dari mereka adalah orangtua peserta didik di sekolah saya. Sekitar 10 orang lebih dalam satu rombongan. Mereka menyapa dengan ramah sekali. Masyarakat pedesaan yang khas dengan keakraban. Walaupun saya tidak mengenal satu persatu ibu-ibu tadi.

Jalan tanggul sawah menjadi jalan utama lalu lintas masyarakat desa Jaya Makmur. Sambil duduk di tepi tanggul sawah seorang kakek menghampiri. Saya masih belum bisa tersambung dengan ngarti KALIMAT. “Sedang apa Pak? Sore-sore kok di sawah.” Tanya sang kakek membuka pembicaraan.

“Itu mbah menelpon kawan yang jauh di Jawa sana” Saya menjawab sekenanya. Tambah sang kakek mendekat. Saya menjadi tak enak. Gawai masih di tangan dan belum bisa terhubung dengan Ngarti Kalimat. Setelah ngobrol agak beberapa lama saya pamit pindah tempat. Karena masih belum bisa terhubung. Ternyata sang kakek adalah pemilik sawah tempat saya duduk tadi.

Akhirnya setelah lama memencet gawai dan beralih paket data, Alhamdulillah dapat bergabung di zoom meeting Ngarti. Luar biasa senang dapat melihat wajah-wajah penulis hebat Indonesia. Pertama yang saya lihat adalah Ketua Kalimat sekaligus moderator Ngarti. Saya usap satu-satu layar gawai saya. Pak Cah dan Umi Ida duduk berduaan, so sweet. Ustaz Salim hanya sekilas. Pak profesor Asus, abah Abdul Samad dari Kalimantan Timur. Luar biasa hari ini. Sejarah Kalimat telah tercatat dalam tinta emas dunia kepenulisan Indonesia.

Selamat Ulang Tahun Pak Cah. Barakallah umrik. Salam dari Kalimantan Tengah.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 10 Desember 2020.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *