Oleh: Ade Zaenudin

“Keinginan menjadi turbin penggerak kehidupan”. (Ade Zen)

Tahun baru, apa inginmu?

Setiap orang punya keinginan, entah keinginan itu adalah kebutuhan mendesak atau kebutuhan biasa saja.

Saat seorang ayah menawarkan akan membelikan handphone pada semua anaknya, hampir dipastikan semua menginginkannya walau tidak semua membutuhkannya.

Keinginan adalah sebuah kekuatan abstrak yang mampu menggerakkan raga. Benar apa yang didendangkan Iwan Fals, keinginan adalah sumber penderitaan.

Ko bisa?

Keinginan membeli iPad 2 iPhone 4 membuat Wang Shangkun, pemuda asal Anhui Cina menjual ginjalnya.

Belum lama, seorang ayah di Garut berani mencuri demi anaknya yang butuh handphone untuk belajar daring di saat pandemi.

Ibu kita siap berkorban nyawa saat melahirkan.

Demi mempertahankan iman, Bilal bin Rabah rela disiksa sampai mati. Nabi Yusuf siap disembelih demi Ridha Ilahi.

Setiap manusia punya keinginan, dan keinginan ini menjadi turbin penggerak kehidupan.

David C McClelland seorang psikolog dari Amerika Serikat mencetuskan sebuah teori kebutuhan yang dikenal dengan McClelland’s Theory of Needs. Teori itu menyatakan bahwa perilaku manusia pada dasarnya dipengaruhi oleh tiga kebutuhan yaitu, need achievement (kebutuhan apresiasi atau penghargaan), need affiliate (kebutuhan berkolaborasi), dan need power (kebutuhan untuk memimpin, mengatur atau menguasai).

Need Achievement (nAch)

Ilmu pendidikan mengenal metode reward and punishment, dalam Ilmu Pendidikan Islam dikenal dengan metode targhib wa tarhib, yang bermakna pemberian penghargaan dan hukuman.

Pada dasarnya setiap orang senang dihargai, dipuji, dihormati, disayangi dan semacamnya sesuai dengan kondisi dan posisi orang tersebut. Ambil contoh, nilai 100, dapat “bintang”, dapat rangking atau mungkin sekedar dapat coklat dari guru bisa membuat siswa bersemangat untuk belajar. Bagi seorang penulis, mendapat apresiasi dari pembaca bisa menjadi booster untuk memproduksi tulisan selanjutnya.

Menghargai adalah sikap positif yang diajarkan oleh agama bahkan Allah SWT langsung mengajarkannya kepada kita dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya. Bayangkan, Allah saja begitu menghargai makhluk-Nya, lalu alasan apalagi yang menjadikan kita sebagai makhluk tidak menghargai perintah-Nya?

Need Affiliate (nAff)

Aristoteles menyebut manusia sebagai Zoon Politicon, sementara Adam Smith membahasakannya dengan Homo Homini Socius, maknanya bahwa manusia adalah makhluk sosial yang butuh berkolaborasi dengan sesama, tidak bisa hidup menyendiri.

Kita masih ingat bagaimana Nabi Adam AS sebagai manusia pertama begitu merindukan Siti Hawa saat awal-awal diturunkan ke bumi. Kita pun sering menjadikan “sambal” sebagai analogi sederhana pentingnya berkolaborasi berbagai profesi, atas jasa petani cabai, petani garam, pembuat gula dll jadilah sambal yang sedap menggugah selera.

Dalam rangka membangun afiliasi atau kolaborasi, diperlukan citra diri yang positif serta keinginan kuat untuk berbuat yang terbaik sebagai sebuah kontribusi untuk yang lain. Kata kuncinya adalah keikhlasan memberi sebelum mendapatkan keinginan mendapatkan hak.

Islam mengajarkan betapa pentingnya berjamaah (berkolaborasi), ambil contoh perintah tentang berjamaah shalat. Dalam konteks need affiliate-nya McClelland, berjamaah shalat mestinya menjadi sebuah kebutuhan yang tidak didasarkan pada besarnya pahala yang diberikan Allah SWT, apalagi atas dasar sebuah keterpaksaan, tapi benar-benar sebagai sebuah kebutuhan fitrah manusia sebagai Zoon Politicon atau Homo Homini Socius. Tentu kita tidak mau dikatakan sebagai manusia yang keluar dari fitrahnya karena selalu shalat munfarid (sendirian). Hehe…

Need Power (nPow)

Kekuasaan itu manis. Kekuasaan itu memabukkan. Banyak orang dibuat terlena karenanya. Begitu dahsyat kekuatan sebuah kekuasaan. Atas dasar kekuasaan, orang rela mengorbankan uang, bahkan ada yang rela memutus tali persaudaraan, tentu ini bukan sebuah teladan.

Pada dasarnya, menjadi penguasa atau pemimpin adalah sifat dasar manusia. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa setiap kita adalah pemimpin yang harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Kita akan ditanya bagaimana mengelola tangan, kaki dan seluruh panca indera sebagaimana pula ditanyanya seorang presiden tentang kondisi seluruh rakyatnya, mungkin saja pertanyaannya begini, wahai tuan Presiden, apakah bantuan sosial untuk rakyat miskin sudah tersalurkan dengan baik? Tentu saja kita semua berharap jawaban pak Presiden adalah “sudah”.

Sejatinya, penguasa yang baik adalah dia yang mampu menguasai dirinya sendiri sebelum menguasai orang lain.

Wallohu a’lam

0Shares

By Admin

One thought on “<strong><em>nAch, nAff, nPow.</em></strong>”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *