Oleh: Maryati Arifudin

Dua kata diatas sering kita dengar, saat ada perasaan hati yang terluka atau suatu kesedihan saja. Pernyataan kalimat di atas, itu fakta atau mitos?

Move on  istilah bahasa berarti berpindah. Berpindah untuk memperbaiki diri. Jadi, bolehkan kata move on  dapat kita gunakan untuk mengungkap dalam suasana hati yang lain.

Move on  kunci utama tuk memasuki keberhasilan diri. Keberhasilan yang kita cita dan cintakan, keberhasilan tuk mengoptimalkan potensi diri agar kita tidak termasuk golongan yang merugi. Sungguh! Perbaikan diri atau move on  merupakan modal kita untuk menjalani kehidupan. Berbuatlah yang terbaik, karena perbuatan baik itu manfaatnya akan kembali pada diri sendiri.

Masihkah ragukah bahwa kebaikan itu akan kembali pada diri kita sendiri? Perhatikanlah surat Al Isra’ ayat 7 yang berarti: Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.

Banyak ragam pintu kebaikan terbuka lebar buat kita. Tinggal memilih pintu mana yang dipilih sesuai dengan kemauan dan kemampuan kita. Dua kata mau dan mampu cara yang bijak untuk melakukan move on atau berpindah tuk memperbaiki diri.

Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Surat Al-Baqarah, Ayat 195)

Mau dan mampu untuk melakukan move on ke arah suatu kebaikan. Mampu sangat terkait dengan kekuatan fisik, daya ataupun finansial. Dengan melibatkan seluruh fisik, daya dan finansial pastilah move on menuju perbaikan diri dapat dilakukan.

Kemampuan seseorang yang paling mengerti adalah diri kita sendiri. Semakin terasa berat berat untuk move on dalam melakukan kebaikan dan kita mampu benar-benar move on, maka itulah harga termahal yang bisa kita banggakan di yaumil akhir nanti. Harga termahal, karena kita mampu memerangi hawa nafsu lauwwamah dalam diri.

Hanya sedikit orang-orang yang terpilih yang berhasil menundukkan hawa nafsu lawwamah. Hawa nafsu lawwah adalah hawa nafsu yang saling tarik menarik untuk mengajak pada kebaikan ataupun keburukan. Jika kita mampu menundukkan hawa nafsu yang mengajak kejahatan, inilah harga terindah yang wajib disyukuri. Inilah yang namanya iman, mampu memenangkan kebaikan daripada keburukan.

Kuatkan kemauan diri mulai dari fisik atau jazad ini untuk melakukan perubahan diri menuju kebaikan. Gunakan segala daya, agar tumbuh nilai-nilai kebaikan dalam diri. Perlunya daya pikir atau daya nalar yang didasari dengan ilmu dan iman, sehingga tidak salah langkah. Ibarat menundukkan hawa nafsu seperti menunduk penyakit menular, diperlukan, kemauan tingkat tinggi.

Kemauan untuk merubah kebiasaan dan mendisiplinkan diri. Wajib tiga atau enam bulan obat dokter itu wajib diminum tepat waktu dan tidak boleh ketinggalan. Jika lupa satu kali saja tidak minum, maka si pasien akan mengulang lagi pengobatannya dari awal. Agar, penyakit itu benar-benar lenyap atau hilang.  Begitulah strategi dalam menguatkan kemauan tuk meningkatkan kebaikan atau merubah keburukan.

Kita sering mengenal dengan istilah azam dan niat yang kuat itulah senjatanya move on. Move on dalam segala hal, menyakini bahwa takdir Sang Pencipta itulah, takdir yang terbaik. Siap menerima baik itu takdir baik maupun takdir buruk. Keridloan akan takdir itulah yang namanya iman.

Nikmat iman dapat dirasakan di sanubari ini dan dapat tersebar harumnya di lingkungan sekitar. Pentingnya iman yang harus ditanam dan dipupuk agar tidak mudah koyak di sana sini. Dekatlah dengan Al Qur’an yang suci sebagai bekal di akhir nanti.

Kesempatan sekarang inilah, kita bisa mencari bekal kebaikan yang sebanyak-banyaknya. Saat mencari bekal kebaikan, jangan tangung-tanggung apalagi main hitung. Di dunia ini bukan masanya menghitung kebaikan, tapi tempatnya menanam kebaikan. Lakukan itu, tiap hari tiap saat agar diri kita tak termasuk golongan orang-orang yang merugi.

Merugilah! Jika kita tak mempersiapkan dengan baik bekal yang terbaik saat di dunia ini. Janganlah disia-siakan nikmat hidup ini, selagi umur masih ada! Membenahi diri perlu waktu dan perlu kekuatan diri. Kita perlu dukungan teman-teman dekat tuk merubah diri. Maka, bergabunglah dengan orang-orang sholeh di lingkungan ini, yang selalu memberi warna kebaikan disana-sini. Lingkungan yang saling mendukung kearah kebaikan dalam rangka menggapai kehidupan yang berkah.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *