Merdeka Sesungguhnya

Maryati Arifudin, 3 Ramadan 1442

Sungguh tonggrak bersejarah negeri ini dikokohkan bertepatan pada bulan Ramadan.  Bertepatan tanggal 9 Ramadan 1364 Hijriyah negeri tercinta memproklamirkan diri.

Di bulan mulia bangsa kita bebas mengirup udara segar. Mengenang berdirinya, sungguh kemerdekaan merupakan anugrah dan limpahan rahmad dari Alloh SWT. Berkah rahmad-Nya dan perjuangan para syuhada pahlawan negeri ini, negeri tercinta kita terbebas dari belenggu penjajahan.

Pengukuhan proklamasi negeri ini juga memuat nilai motivasi spiritual luhur. Sungguh negeri  tercinta berdiri atas dasar nilai ketuhanan. Pernyataan itu tak mungkin bisa dipungkiri lagi.

Perhatikanlah pernyataan pembukaan UUD 1945. Alenia ketiga menyatakan: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merdeka mempunyai arti bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya). Sungguh definisi merdeka dalam ajaran mulia ini. Merdeka bilamana ia sadar dan berusaha keras memposisikan dirinya selaku hamba Allah SWT saja dalam segenap dimensi dirinya. Jika mereka masih menghamba pada selain Alloh, maka esensi  merdeka menjadi pudar tanpa makna.

Sebagaimana firman Allah swt yang artinya: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut (sembahan selain Allah)  itu” (QS An-Nahl :36).

Mumpung di penghujung bulan suci adalah kesempatan yang selalu ditunggu untuk membebaskan diri dari belenggu syetan dan hawa nafsu. Sungguh berat memerangi hawa nafsu itu, karena musuh ini tidak kasat mata. Maka, diperlukan kekuatan ilmu dan iman untuk mengusirnya.

Seperti sabda Rasulullah setelah kembali dari salah satu peperangannya. Beliau bersabda: ”Kalian telah tampil ke depan dengan cara terbaik. Untuk tampil ke depan, kalian telah kembali dari jihad yang lebih kecil kepada jihad yang lebih besar.” Jihad yang lebih besar yaitu ”Perjuangan (mujahadat) hamba-hamba Allah atas hawa nafsu mereka”.

Sungguh berbahaya sekali jika belenggu hawa nafsu tidak ditundukkan. Istilah syari’at, hawa nafsu adalah kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang disukainya sehingga keluar dari batas syari’at.

Mengikuti hawa nafsu yang tidak sesuai syariat akan memunculkan kerusakan dan kesesatan di muka bumi. Kerusakan bumi sungguh merupakan olah manusia yang tidak bertanggung jawab. Akibat dosa dan kedzalimannya, maka mereka hanya cinta pada dunia saja. Matahatinya yang diburu hanya kesenangan perut dan syahwat. Sehingga, segala cara dilakukannya untuk memuaskan hawa nafsunya.

Berhati-hatilah jika kedzaliman ada belahan bumi ini, maka akan menghalalkan segala cara demi harta dan kekuasaannya. Seseorang yang dibutakan oleh dunia, dia akan menjadi hamba syetan. Hidupnya akan merasa kurang, biar telah ada gunung emas ia miliki mereka akan minta yang lain. Sampai mereka tutup usia, baru menyadari bahwa harta dan kekuasaannya tidak bisa menemani di alam kuburnya. Hatinya akan membatu karena yang dipikirkan dan diburu hanya kesenangan hawa napsu yang tidak sesuai aturan-Nya. Oleh karena itu,  kebebasannya di dunia akan sia-sia dan tidak bermanfaat untuk akhir kehidupannya.

Ada tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Sungguh, tiga perkara yang membinasakan adalah: kebakhilan dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan  seseorang yang membanggakan diri sendiri.

Sedangkan tiga perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allâh di waktu sendirian dan dilihat orang banyak, sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan, dan (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan ridha.

Gunakan momentum ramadan ini agar diri ini mendapat merdeka diri. Coba renungkan, ajaran mulia ini mengajarkan makna merdeka yang sesungguhnya!

Kemerdekaan adalah hak semua insan untuk membebaskan dari segala belenggu. Belenggu syetan dan hawa nafsu yang harus diperangi dalam diri, sungguh memerlukan strategi.  Strateginya mengembalikan seluruh aturanya sesuai dalam Al Qur’an yang suci.

Para pejuang negeri telah  mengorbankan harta, darah dan nyawa demi nilai suatu kemerdekaan. Sekarang tinggal kita semua selaku warga tuk mengoptimalkan seluruh potensi agar taat pada Illahi. Masing-masing pribadi berusaha belajar mengamalkan ajaran yang lurus ini dalam kehidupan sehari-hari.

Kesempatan emas dengan hadirnya bulan ramadan ini sebagai bulan tarbiyah. Sehingga, insan dibumi mendapat julukan pribadi yang bertaqwa karena mampu menundukkan hawa nafsu yang sesuai syariat-Nya. Senantiasa menjaga komitmen diri bahwa kita adalah sebagai insan yang merdeka. Yang mengakui hanya satu Illah yaitu Alloh SWT wajib ditaati.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *