Oleh: Ade Zaenudin

Selasa pagi tanggal 6 April 2021 Warga Banten (khususnya) dikejutkan dengan wafatnya sosok ulama karismatik Abuya Uci Turtusi. Beritanya pun viral seiring muridnya yang tersebar di Nusantara.

Malam sebelum wafat Abuya dikabarkan masih ngajar ngaji, dan terlihat sehat. Pantas para murid tidak percaya kejadian ini.

Saya jadi teringat kisah wafatnya Rasulullah SAW. Saat itu sahabat Umar seolah tidak percaya dan tidak terima bahwa Rasulullah SAW meninggalkan dunia untuk selamanya.

Umar berkata pada sahabat lain “Sesungguhnya beberapa orang munafik beranggapan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam akan meninggal dunia. Sesungguhnya beliau tidak meninggal dunia, tetapi pergi ke hadapan Rabbnya seperti yang dilakukan Musa bin Imran yang pergi dari kaumnya selama 40 hari, lalu kembali lagi kepada mereka setelah beliau dianggap meninggal dunia. Demi Allah, Rasulullah SAW benar-benar akan kembali. Maka tangan dan kaki orang-orang yang beranggapan bahwa beliau meninggal dunia, hendaknya dipotong”.

Kondisi seperti ini mungkin pernah kita rasakan saat ditinggal orang tersayang. Berat dan memang manusiawi.

Kabar yang tak kalah ramai jadi perbincangan adalah beredarnya isu bahwa yang wafat bukan Abuya tapi adiknya. Menariknya, klarifikasi yang beredar disertai pesan terakhir Abuya yang menyatakan ingin segera pulang karena di dunia ini sudah banyak yang mengaku ulama tapi dalam hatinya tidak ada Allah.

Buat kita, saya khususnya yang bukan ahli ibadah merasa dunia ini justru masih sangat nikmat. Bahasa lebay-nya “masih ingin hidup seribu tahun lagi”.

Begitu kira-kira perbedaan ulama ahli ibadah dengan manusia ahli salah seperti saya.

Terkait nikmat yang begitu banyak kita dapat, saya teringat apa yang disampaikan Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam bahwa nikmat terbagi dua. Yaitu Ijad dan Imdad.

Nikmat Ijad merupakan nikmat fase pertama yang kita dapat, yaitu diciptakannya diri kita. Allah SWT sudah menyampaikan secara runtut bagaimana manusia diciptakan, lihat Q.S. Al Mu’minun ayat 12-14, bermula dari saripati tanah (sulalah min tin) lalu menjadi air mani (nutfah), menjadi segumpal darah (alaqoh), kemudian menjadi segumpal daging (mudgoh) lalu dijadikan tulang (idhom), lalu dibungkus dengan daging (lahm). Tidak sampai disitu, Sempurna. Inilah nikmat Ijad.

Fase selanjutnya adalah nikmat Imdad yaitu kenikmatan yang kita rasakan saat kita hidup. Setiap makhluk yang Allah ciptakan otomatis dengan rizkinya masing-masing. Tak terbilang, tak terhingga. Apalagi kalau kita hitung berapa harga nafas jika dikonversi ke uang.

Kenikmatan yang kita rasakan adalah ekspresi cinta Sang Maha pada hamba. Betapa tidak, Dia tidak pernah memilih untuk siapa nikmat itu ditaburkan. Bahkan makhluk yang ingkar kepada-Nya saja masih bisa merasakannya.

Pertanyaannya, kenapa orang yang sudah jelas ingkar masih diberi nikmat?

Pertama kita bisa mengatakan bahwa inilah bedanya antara makhluk dengan khalik, bijaknya manusia dengan pencipta, jelas berbeda dan jangan pernah disama-samakan.

Kedua mungkin kita lupa bahwa nikmat itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri, dia paralel dengan syukur. Dan syukur inilah yang akan menjatuhkan konsekwensi dari nikmat yang kita dapat. Bukankah Allah berfirman “Jika kalian bersyukur maka Aku akan tambahkan untuk kalian, namun jika kufur (tidak bersyukur) maka sesungguhnya adab-Ku sangat pedih”.

Dengan demikian, tidak usah iri kepada manusia dan tidak usah berburuk sangka sama Yang Maha Kuasa. Apapun ada konsekwensinya.

Perlu diingat, bahwa kenikmatan terbesar adalah saat kita pulang nanti dalam keadaan membawa Iman, dan Islam.

Kapan? Wallohu a’lam. Tidak ada yang tahu.

Maka dari itu, insaf menunggu tua adalah sia-sia.

La haula walaa quwwata illa billaah

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *