wood light landscape nature

Menggeret Kisah Pengabdian pada Pendidikan

Oleh: Moh. Anis Romzi

Sebuah SMK baru di Kecamatan Mendawai Kabupaten Katingan. Saya mulai menjejakkan kaki pengabdian pada dunia pendidikan. Sekolah ini terletak di provinsi Kalimantan Tengah. Saya bertemu dengan suasana baru, kawan baru, dan tempat yang baru. Ini memerlukan adaptasi. Saya perlu menyesuaikan diri. Terutama terkait, budaya, bahasa dan tradisi masyarakat setempat. Untuk bahasa untungnya mayoritas penduduk berbahasa Banjar. Saya cukup memahami komunikasi mereka. Selain Bahasa Banjar, Bahasa Dayak Katingan juga menjadi bahasa keseharian.

Sekolah Kejuruan yang baru berusia dua tahun. Saat itupun masih menumpang di gedung sebuah SD yang sudah tua. Angkatan pertama masih duduk di bangku kelas XI. Saya ingat persis ketika pertama kali masuk ke gedung SD di mana SMK Mendawai meminjam. Saat itu sekitar pukul tujuh pagi. Belum ada seorang yang berada di sekolah. Hanya ada seorang siswi berjilbab yang menunggu di depan sekolah. “ Kemana yang lain? Apakah memang masih belum datang?”tanyaku. Saya ingat persis saat itu tanggal 2 Januari 2007.

Ia menatap saya dari atas ke bawah. Lebih dari satu kali ia menatap saya.” Yang lain sedang di dermaga pak. Kakak-kakak kelas handak berangkat magang ke Sampit.” Ia menjawab sambil menatap sekali lagi. Saya pikir ia pasti merasa aneh pada saya. Orang yang belum pernah dilihatnya.

“Bapak menyusul saja kesana. Ada upacara pemberangkatan nanti.  Dermaganya di simpang tiga. Bapak ikuti jembatan panjang di depan itu. Lalu ke arah hulu.” Siswi berjilbab tadi menjelaskan dengan rinci.

Sekolah dengan program keahlian pertanian dengan kompetensi budidaya tanaman pangan dan hortikultura. Program yang digagas para pendiri SMKN 1 Mendawai untuk meningkatkan harkat masyarakat melalui pendidikan. Pertanian adalah salah satu potensi yang belum tersentuh secara maksimal. Pendidikan kejuruan pertanian diharapkan mampu meningkat derajat hidup masyarakat Mendawai dan sekitarnya.

Hanya berjumlah belasan peserta didik angkatan pertama. Saya ingat sekitar 18 orang peserta didik. Saat itu mereka sedang diantar para orangtua untuk magang di Sampit (Kotawaringin Kotawaringin Timur). Ini adalah magang pertama kalinya bagi SMKN 1 Mendawai.

Saat pertama datang di SMKN Mendawai sudah ada 1 Plt. Kepala Sekolah dan tiga orang pendidik berstatus CPNS waktu itu.  Saat itu ketiganya sedang tidak berada di tempat. Itu karena ketiganya sedang mengikuti diklat prajabatan di Palangkaraya. Ibukota provinsi Kalimantan Tengah.

Mendawai sebuah desa tua di muara sungai Katingan. Sungai dengan panjang sekitar 600 km dari hulu ke hilir. Sebuah desa yang menjadi ibukota kecamatan pemekaran dari Katingan Kuala. Komponen dan tokoh masyarakat mulai berupaya memajukan daerahnya.

Tidak ada alat transportasi darat roda empat di Mendawai. Karena semua transportasi moda air.  Sungai Katingan yang melintasi Mendawai bak jalan raya bagi masyarakatnya. Hanya ada beberapa sepeda motor untuk transportasi jarak pendek.

SMKN 1 Mendawai mewarnai perjalanan hidup saya. Ada kisah suka dan duka perjalanan kehidupan. Nikmat yang wajib disyukuri. Tidak ada yang kebetulan. Semua ada dalam kendali-Nya.

Hampir tujuh tahun lebih membersamai SMKN 1 Mendawai. Mungkin saya bukan bagian penting dari sekolah ini. Hanya sekadar melengkapi. Tidak mengapa, bahwa semua adalah belajar. Bertemu dengan orang-orang baru adalah pembelajaran yang menyenangkan sekaligus menantang. SMKN 1 Mendawai tempat belajar kehidupan mengabdi pada pendidikan di pedalaman Kalimantan Tengah.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 30/11/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *