wood road landscape nature

Menggeret Kisah Pengabdian pada Dunia Pendidikan

Oleh: Moh. Anis Romzi

SMPN 2 Katingan Kuala melahirkan cerita. Ini adalah sekolah kedua yang bersejarah bagi saya. Tempat mengasah diri dalam asa pendidikan di pedalaman Kalimantan Tengah. Sekolah ini pula memberikan banyak arti cerita pendidikan anak-anak desa di eks pemukiman transmigrasi Katingan 2. Hari pertama masuk adalah 4 Januari 2007. Titik mula waktu memulai belajar mengajar di komunitas baru.

Sekolah kedua di Kalimantan Tengah tempat menoreh asa pendidikan. Saya melengkapi kekurangan tenaga pendidik saat itu. Kisah pengabdian ini tidak lepas dari Bapak Sutrisno (almarhum). Seorang guru agama Islam sekaligus penjaga sekolah SMPN 2 Katingan Kuala. Beliau lah yang mengajak dan mengantarkan saya menemui Ibu Lis Suriati Yunantias,S.Pd. Pendidik senior di SMPN 2 Katingan Kuala. Alhamdulillah sang ibu memberikan kesempatan itu.

Terletak di muara sungai buatan era Pemerintahan Orde Baru. SMPN 2 Katingan Kuala berdiri tegak melayani anak-anak di 6 desa di sekitarnya. Desa Singam Raya, Bangun Jaya, Kampung Baru, Setia Mulia, Bakung Raya, dan Teluk Sebulu. Desa terakhir adalah salah satu desa dalam wilayah administrasi kecamatan Mendawai. Lulusan SD dari keenam desa tersebut mayoritas melanjutkan ke SMPN 2 Katingan Kuala. Teluk sebulan adalah desa tertua. Sedangkan 5 yang lain adalah desa bentukan pemukiman transmigrasi.

Saya bertemu dengan seorang Kepala Sekolah Sapril,S.Pd (saat tulisan ini dibuat beliau sudah wafat). Semoga beliau dilapangkan kuburnya. Seorang guru senior asli suku Dayak. Pak Sapril adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia. Saya sering berdiskusi dengan Pak Sapril saat jam istirahat sekolah. Sarat pengalaman dan kebapakan menurut saya. Banyak nasehat berharga yang beliau sampaikan saat berbicara santai. Memang benar adanya, belajar bisa kepada siapa saja.

SMPN 2 Katingan Kuala adalah praktik bhinneka dalam pendidikan. Dihuni dari berbagai multi etnik yang mempunyai tujuan sama dalam pendidikan. Para peserta didiknya berasal dari berbagai suku yang ada di Indonesia. Ada suku Dayak, sebagai suku asli. Banjar, Jawa, Sunda, dan Madura. Ini karena program transmigrasi yang digulirkan pemerintah orde baru sejak tahun 1980 an. Bhinneka Tunggal Ika yang sebenarnya dalam praktik. Walaupun pernah ada gesekan antar suku sebelumnya. Kisah kelam sebagai pelajaran agar tidak terulang.

Saya belajar mengajar dari tahun 2007 sampai dengan 2010. Empat tahun bermakna bagi saya. Pada masa itu saya mengajar di tiga sekolah sekaligus. SMPN 2 Katingan Kuala merupakan salah satunya. SMKN 1 Mendadak dan SMPN 2 Katingan Kuala di pagi hari. SMA PGRI Katingan 2 di sore hari. Melelahkan terapi nikmat.

Bertemu dengan banyak orang melahirkan pengalaman yang berbeda-beda. Semua mengandung nilai pembelajaran. Mendengar, melihat, dan mengalami bersama adalah pembelajaran terbaik. Seperti ungkapan ‘ saya dengar saya lupa, saya lihat saya ingat, saya melakukan saya paham’ ketiganya telah saya alami. Namun perlu untuk tetap terus belajar. Ia tidak berbatas waktu. Bertemu banyak orang sama dengan banyak belajar.

SMPN 2 Katingan Kuala telah berproses melewati waktu. Waktu empat tahun tidaklah cukup untuk menilai. Lama dan sebentar adalah subyektivitas perasaan. Saya percaya bahwa semua tidak berjalan dengan sendirinya. Rasa syukur yang luar biasa dapat belajar dan berproses di SMPN 2 Katingan Kuala. Berapa pun waktu yang diberikan tidak akan cukup untuk belajar dan menulis ilmu-Nya.

Setiap masa ada cerita. Setiap ruang menyimpan kenangan.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 02/12/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *