Mengenang Para Guru dan Tangan Berkah Mereka

Oleh: Abdul Mutolib Al Jabaly

Ana abdu man allamani harfan wahidan. Saya adalah hamba dari siapa pun yang mengajariku satu huruf. Itulah kata hikmah dari Imam Ali bin Abi Thalib yang mengingatkan kita betapa pentingnya memuliakan guru.

Guru lah yang berperan besar bagi terbentangnya jalan kesuksesan di hadapan kita. Jika orang tua telah mengantarkan kita pada kehidupan, maka guru telah mengantarkan kita pada kehidupan yang baru. Guru mendidik kita menjadi manusia cemerlang yang mandiri dan tidak lagi membutuhkan bantuannya.

Jika mengenang masa kecil dahulu, rasanya mustahil saya menjadi seperti sekarang. Saya bukan orang besar sih, apalagi orang hebat. Saya yang asalnya anak udik tidak kenal cita-cita tinggi dan tidak memiliki tradisi belajar, tapi sekarang jadi orang kota, mengabdi sebagai guru, berkontribusi dalam dunia dakwah, dan kecil-kecilan juga belajar menjadi penulis. Semua ini tidak akan terjadi tanpa sentuhan tangan berkah para guru. Di mata guru, murid yang sukses dan melampaui kesuksesan guru bukan aib, melainkan kemulian dan kebahagiaan.

Meskipun seorang guru pantas menjadikan muridnya sebagai hamba, tapi tidak ada dan tidak akan pernah ada guru yang melakukannya, bahkan guru tidak pernah mengharap muridnya membalas jasa kebaikannya. Sebaliknya tidak akan pernah ada murid yang memuliakan guru sebanding dengan kemuliaan yang diajarkan kepadanya.

Sungguh telah banyak guru yang menjadi murabbi dan pahlawan dalam kehidupan saya. Tapi tiada satu pun yang saya telah betul-betul memuliakannya. Lantunan doa yang saya panjatkan tiap shalat pun masih jauh dari cukup untuk membalas jasa-jasa mereka. Melalui tulisan ini saya ingin mengenang sebagian dari mereka, dengan harapan dapat menjadi pelipur diri dari rasa salah yang selalu hinggap di hati.

Namun pada tulisan ini, tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih saya kepada semua guru yang telah mengajari saya, baik di lembaga formal maupun nan formal, baik secara langsung maupun tidak langsung, saya hanya akan mengenang beberapa guru saya di SLTA (Aliyah). Itu pun tidak akan meliputi semuanya karena keterbatasan memori yang telah dimakan umur yang telah menua.

Guru sederhana yang bersahabat
Ketika pertama kali masuk Madrasah Aliyah program Khusus yang berasrama atau sistem pondok pesantren, guru yang pertama kali saya kenal adalah guru yang menjadi musyrif atau pembina yang membersamai kami di asrama. Beliau adalah guru yang berpenampilan sederhana dan sangat bersahabat dengan para muridnya. Hal itu menjadikan kita selalu merasa nyaman menyampaikan keluh-kesah dan segala persoalan. Di hadapan beliau apa yang kita anggap berat jadi ringan, apa yang kita anggap sulit jadi mudah, dan segala keruwetan bisa terurai.

Bapak Kita
Ada guru yang kita anggap sebagai bapak kita. Terhadap beliau kita banyak mencurahkan aspirasi, harapan, dan ketidakpuasan kita terhadap kondisi persekolahan. Beliau lah tempat kita menemukan kanalisasi segala “uneg-uneg” yang bergelayutan dalam hati dan pikiran kita. Atas hal itu semua kita ‘menasabkan’ beliau sebagai bapak kita.

Mentor, Pelatih, dan Lawan Debat
Salah satu guru yang saya kenang perawakannya agak jangkung dan atletis. Beliau seorang atlit pelari dan tenis meja. Kalau tidak salah rekam, sudah pernah ikut kejuaraan nasional di kedua cabang tersebut. Namun di madrasah kami beliau buka guru olah raga, melaikan guru fiqih dan bahasa Arab sekaligus pembina asrama. Sikap sportivitas dan ke-motivator-an beliau dalam membina tidak lepas dari dunia olah raga yang melatarbekanginya. Beliau sangat lihai memotivasi murid untuk mengikuti ajang perlombaan. Saya adalah salah satu murid yang pernah merasakan tangan dingin beliau sehingga beberapa kali meraih juara pidato Bahasa Arab dan Pidato Bahasa Indonesia hingga tingkat provinsi.

Beliau juga sosok yang paling dikenal sepagai pemantik kontroversi dalam bidang pemikiran. Pada zaman kami, beliau dikenal sebagai pemasar setia pikiran-pikiran kontroversial dari pemikir-pemikir muslim nasional. Tapi itu yang justru membangkitkan semangat membaca dan berdebat di kalangan siswa. Istilah sekarang mungkin “ngeri-ngeri sedap”.

Pernah suatu ketika saya dan dua orang teman mendatangi beliau di ruang pembina. “ Ustadz, kami memohon Ustadz agar bersedia meneruskan perdebatan tentag pemikiran Munawir Sadzali di kelas tadi. Waktunya nanti kita atur bersama teman-teman.” Matur kami kepada beliau. “Ok, terima kasih. Itu saya apresiasi. “Kalian hebat”, Respon beliau memberi semangat. “Tapi kami dipinjami dulu bukunya Ustadz.” Jawab kami dengan gestur berusaha memberanikan diri. “Itu di belakang banyak buku. Silakan dicari yang dibutuhkan!” Dengan lebih semangat beliau mengarahkan kami ke almari besar di belakang kami yang dipenuhi berjajar buku-buku. Setelah buku yang kami butuhkan diperoleh, kami pun kembali ke asrama untuk mengatur strategi.

Dibenci Malah Rindu
Ada juga sosok guru saya tidak akan mudah melupakannya. Di awal kelas 1 beberapa orang dari kami sempat “membenci” beliau karena kami anggap mengajarkan paham yang tidak sesuai dengan yang kami yakini selama ini. Kebetulan beliau mengajar materi Akidah. Seringkali beliau secara lugas mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang selama ini kami yakini. Beberapa perwakilan siswa menghadap bapak kepala untuk memprotes cara beliau mengajar akidah. Usaha pun berbuah manis. Semester berikutnya beliau tidak diberi tugas mengampu akidah melaikan mapel bahasa Arab. Di materi ini beliau menjadi sosok idola baru. Metode mengajar yang beliau terapkan cukup membangkitkan gairah ingin bisa dari santri. Teori yang diberikan sedikit dan simple, tetapi selalu menyajikan kasus kaidah yang membangkitkan kompetisi, perdebatan, gelak tawa dan every one is teacher.

Yang aneh bin ajaib, ketika belaiu tidak mengajar akidah justru sebagian dari kami keppo dengan paham keagamaan beliau. Selepas jam pelajaran beberapa orang dari kami (sekitar 5 s.d 10) sering memohon waktu untuk bertanya tentang masalah agama dengan maksud membuka dialog dan unboxing pemikiran beliau. Jiga dialog jadi seru kadang kerumunan bertambar banyak. Apa yang dilontarkan beliau tidak banyak berubah seperti dulu, tapi kita yang menerimanya yang berubah dalam menyikapi. Apa yang kita tidak sepakat dengan beliau kita bawa ke diskusi lanjut di asrama dan memaksa kita untuk membaca agar menemukan kepuasan batin. Kalau kita belum puas dengan menbaca dan berdiskusi dengan teman, kita bawa diskusi itu ke guru lain.

“Penjual Buku”
Ada satu guru yang dalam mengajar sering membawa kitab yang tidak begitu tebal dan memperkenalkan kepada kami sambil meresensinya secara lisan. Indi kitabun qayyimun ( Saya punya buku bagus), demikian beliau sering memulainya. Beliau kemudian bercerita tentang isi buku itu dengan bahasa Arab yang fasih dan gaya yang mengesankan. Ketika beliau hendak mengakhiri resensinya, suara “tashwir tadz” (boleh dicopy tadz) mulai bersautan. Itulah cara beliau membangkitkan semangat literasi di kalangan santri.

Penyemangat yang Menjadikan Energi Berlipat-lipat
Setiap bertemu guru yang satu ini auranya seakan mau terbang ke luar negeri. Beliau alumnus perguruan salah satu perguruan tinggi di Timur Tengah. Pengalaman hidup beliau lumayan lama di Timur tengah. Beliau juga sering bolak-balik ke Timur Tengah untuk mengantar pelajar Indonesia yang ingin belajar di sana.

Pengalaman inilah yang membuat beliau sangat fasih dan menghipnotis setiap bercerita tentang studi di Timur Tengah. Belum lagi kemampuan bahasa Arab beliau yang khas dan penuh sentuhan sastra. Setiap pelajaran insya apa yang beliau imla’kan kepada kami langsung kami lahap, kami tulis dan kami hafalkan.

Ini hanyalah tulisan nostalgia yang tidak ada bobotnya. Tapi rasanya bisa dijadikan refleksi dan pelajaran betapa kita tidak akan jadi siapa-siapa tanpa sentuhan berkah tangan para guru kita. Para guru kita kompetensi dan karakternya tidak sama. Tapi mereka telah mengeluarkan yang terbaik yang mereka miliki untuk membekali kita mengarungi bahtera kehidupan ini. Meskipun rasnya do’a belum cukup untuk membalas jasa para guru kita, tetapi jika hal itu saja tidak kita lakukan, maka betapa kufurnya kita atas nikmat Allah ini. Wallahu al-musta’an.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *