Mengenal Karakter Guru dalam Kuadran

Oleh: Moh. Anis Romzi

Dalam setiap perjalanan akan sangat membantu apabila dipandu oleh peta. Ini adalah alat untuk mengenal awal sebuah tempat. Itu adalah sebuah peta konvensional. Banyak orang yang sudah mengenal peta umum. Walaupun dengan pemahaman dalam tingkat sederhana. Belum banyak panduan untuk mengenal karakter seseorang khususnya guru. Ini adalah modal penting bagi seorang kepala sekolah dalam rangka mengelola sumber daya manusia di satuan pendidikan yang dipimpinnya.

Indikator karakter guru dalam sebuah mind map memberikan gambaran di mana posisi guru berdiri. Dalam Pedoman Operasional Standar Kepala Sekolah tentang Implementasi Kurikulum 2013 membagi karakteristik guru ke dalam kuadran. KBBI V memaknai kuadran sebagai setiap dari empat bagian suatu bidang datar yang terbagi oleh sumbu silang. Dengan memahami ini Kepala sekolah mampu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan sumber daya manusia di sekolahnya. Dengan mempunyai peta karakteristik ini juga merupakan langkah awal untuk memilih model pembinaan yang dilakukan.

Guru juga manusia. Sebuah ungkapan yang sangat populer. Ada kondisi naik turun semangat dalam pelaksanaan. Memang semua manusia unik, termasuk para guru juga. Mereka berbeda dengan mesin. Sebuah joke ringan obrolan Kepala Sekolah” Merawat mesin atau sarana dan prasarana jauh lebih mudah dari pada merawat manusia.” Ungkapan ini bisa jadi benar, karena memang guru adalah manusia yang mempunyai pribadi unik. Dalam hal kepemimpinan pembelajaran lebih penting orang-orang yang ada di dalamnya. Dari pada sebuah program. Setinggi apapun program itu, apabila pelaksananya bermasalah hampir pasti programnya akan bermasalah.

Berikut peta karakteristik guru. Indikator guru dalam kuadaran. Kuadran I adalah mereka para pendidik yang sering disebut dengan drop out. Mereka adalah para guru yang memiliki komitmen dan abstraksi rendah. Penandanya untuk komitmen mereka yang kurang peduli kepada siswa. Waktu dan energi terbatas. Hanya peduli pada tugasnya sendiri. Sedangkan penanda pada abstraksi adalah mereka bingung ketika menghadapi masalah. Tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Tipe ‘show me. Guru di kuadran ini memiliki satu atau dua kebiasaan menghadapi masalah. (POS Kepala Sekolah, Implementasi Kurikulum 2013 untuk Kepala Sekolah, PPTK BPSDMPK KEMDIKBUD,2014)

Kuadran II adalah para pendidik dengan sebutan unfocused worker. Mereka memiliki komitmen tinggi, namun abstraksi rendah. Mereka adalah para guru dengan indikator antara lain:

Kuadran III adalah pendidik yang disebut dengan analytical teacher. Karakter guru pada kuadran ini tidak ada penanda. Namun dapat dipahami dari maknanya bahwa kelompok guru ini adalah mereka yang berorientasi pada analisis. Ini hampir mendekati profesional. Namun keberanian dalam mengambil risiko masih rendah. Semua harus berdasarkan hasil analisis matang. Pada akhirnya kelompok guru ini hanya berkutat dianalisis. Minim menghasilkan tindakan.

Kuadran IV adalah mereka yang disebut dengan guru profesional. Yakni mereka para guru yang memiliki komitmen tinggi dan abstraksi tinggi. Ini adalah karakteristik guru ideal. Beberapa penandanya adalah mereka rela mencurahkan energi yang dimiliki untuk kepentingan pembelajaran. Tidak segan mereka membawa pekerjaan pulang ke rumah.

Saat ini banyak guru telah mengantongi sertifikat profesional. Itu adalah bukti administrasi bahwa yang bersangkutan telah melalui sebuah proses pengembangan profesionalisme. Namun para guru juga mesti rela berinstropeksi. Bahwa beberapa banyak yang berhenti pada sertifikat berbentuk kertas dan tunjangan semata. Banyak fakta bahwa ada oknum guru yang hanya sebatas mengejar tunjangan. Bukan profesionalitas pekerjaan sebagai guru. Sayang.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng, 30/11/2020.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *